Sisa pel lantai masih basah saat Vika melepas sarung tangannya, meletakkannya di tepi ember tua yang mulai berkarat. Lampu toko elektronik tempatnya bekerja mulai dimatikan satu per satu. Sudah larut. Udara malam menyusup masuk lewat celah pintu otomatis yang belum tertutup sempurna.
Dia menghela napas panjang. Lengannya pegal. Lututnya terasa seperti berkarat. Tapi ya, seperti biasa—tidak ada yang peduli. Tidak bos, tidak pelanggan. Mereka bahkan jarang menatap wajahnya. Bagi mereka, Vika cuma bayangan—seorang cleaning servis yang hanya penting saat lantai kotor dan toilet tersumbat.
Dia berjalan menyusuri gang sempit, langkah kakinya pelan menuju kontrakan kecil di ujung lorong. Tempat sempit, cat tembok mengelupas, suara tikus di balik eternit. Tapi itu tempatnya. Rumah—setidaknya versi murahan dari kata itu.
Namun malam ini berbeda.
Tangannya baru menyentuh gagang pintu ketika sebuah tangan lain mencengkeram bahunya. Kuat. Terlalu kuat.
"Apa—?!"
Terlambat.
Sesuatu dipukulkan ke kepalanya. Gelap langsung menelan segalanya.
⸻
Cahaya putih menyilaukan. Bau antiseptik yang menusuk. Ranjang yang dingin. Tangan dan kaki yang tidak bisa digerakkan.
Kesadaran Vika kembali perlahan-lahan, seperti direndam paksa dalam air es.
Sial.
Mulutnya terbuka tapi suara tidak keluar. Dia mencoba menggeliat—tak berhasil.
Lalu terdengar suara langkah. Lembut. Teratur.
Dan kemudian wajah itu muncul. Wajah yang sangat dia kenal—meskipun bertahun-tahun tak dilihat.
Ibunya.
Tak lama kemudian, seorang pria berdiri di sisi lain ranjang. Ayahnya. Dingin seperti dulu. Mata mereka sama: tak ada penyesalan. Hanya keputusan.
"Maaf, Vika," kata ibunya dengan suara datar. "Kamu tidak memberi kami pilihan."
Dia tidak menjawab. Hanya menatap.
Dan di kursi sudut ruangan, duduk seseorang lain. Wajah yang serupa dengan wajahnya. Sama, nyaris sempurna. Kembarannya. Yang matanya mulai memburuk sejak kecil. Yang selalu sakit-sakitan. Yang... selalu diprioritaskan.
Permintaan telah dia tolak. Berkali-kali. Mata? Untuk disumbangkan? Tidak. Tidak akan pernah.
Tapi mereka tidak meminta lagi. Mereka mengambil.
Dia tertawa dalam hati. Ah, begini rupanya cinta orangtua. Cinta yang tajam seperti pisau bedah.
⸻
Operasi dilakukan. Mereka berhasil.
Mata Vika diambil. Dipindahkan.
Tapi tubuhnya yang sudah lemah—karena kerja berlebihan, makan tak teratur, tidur seadanya—tidak mampu bertahan.
Jantungnya melemah.
Paru-parunya melambat.
Dan akhirnya...
Vika mati.
⸻
Tidak masalah, pikirnya, di detik terakhir. Mati pun dia tak peduli. Toh jika dia hidup, dia harus buta seumur hidupnya. Dan itu bukan hidup.
Itu hanya sisa. Sisa dari tubuh yang tak diinginkan.
