Lentera mencoba mencerna baik-baik kalimat yang keluar dari lelaki paruh baya di hadapannya saat ini. Terdengar sedikit aneh dan sulit untuknya percaya begitu saja. Hatinya terasa mengganjal untuk sekedar menyahuti ucapan lelaki paruh baya itu.
"Tidak perlu takut. Saya omnya. Mungkin Raska belum pernah cerita soal saya, ya?" lagi dan lagi, Lentera mendongakkan pandangannya menatap manik mata itu. Sulit dimengerti, mengapa rasanya banyak sekali hal yang tak bisa diselami oleh dirinya di mata itu?
Lentera tersenyum. Meski bingung harus merespon apa, tapi ia harus teliti sekaligus was-was. Ia tak boleh percaya begitu saja dengan omong kosong itu.
"Raska ngga pernah cerita soal om. Maaf saya lancang om, om ini saudara jauh atau gimana?"
"Iya, saya tinggal di Surabaya selama ini. Jarang juga ke sini, kalo bukan buat ketemu ponakan saya juga sebenernya males jauh-jauh ke sini. Tadi saya liat kamu lagi jalan sama Raska, makanya saya samperin sampe sini." Lelaki paruh baya itu mencoba menjelaskan. Sesaat Lentera terhanyut dan mencoba untuk menerima penjelasan itu.
"Tapi tolong jangan kasih tau Raska kalo saya sudah di sini dan menemui kamu. Ada kejutan yang sudah saya siapkan untuk Raska. Semoga kamu berkenan untuk membantu menjalankan rencana saya. Hanya sedikit bantuan, mungkin dengan kamu menjaga rahasia pertemuan kita dan beberapa bantuan kecil untuk menyiapkan kejutannya agar lebih meriah."
"Boleh kok, om. Saya akan dengan senang hati bantunya. Apalagi kalo ini menyangkut bahagianya Raska, saya mau turut andil, om. Tapi, kalo boleh tau, nama om siapa? Atau ada nomor yang bisa saya hubungi biar lebih gampang komunikasinya?" Lentera tersenyum lebar, menampilkan deretan gigi rapinya. Ia senang, setidaknya bantuan kecilnya nanti akan sangat membantu. Ini soal Raska, bahagianya lelaki itu, ia ingin sedikit turut andil di dalamnya.
'Tidak saya sangka, kamu masuk perangkap dengan sangat mudah dan begitu cepat? Gadis lugu yang malang. Apa katanya tadi? Nomor untuk mempermudah komunikasi? Ah, itu betul sekali. Kamu cepat tanggap, gadis bodoh!' Batin Lelaki paruh baya itu. Seringai kecil muncul di sudut bibirnya, Lentera sampai tak menyadari itu.
"Nama saya Agastya. Kemarikan ponselmu," uluran tangan Agastya membuat sedikit gerakan kecil Lentera mengambil ponsel pada tas selempangnya terlihat sedikit gugup dan cepat-cepat.
Ia membuka kunci ponselnya sebelum menyerahkan ponsel itu pada Agastya. "Saya Lentera, om. Om Agastya boleh panggil saya Tera," kata Lentera hangat. Agastya terlihat menerima ponsel itu, menuliskan deretan angka dan menuliskan namanya di sana. Setelah semuanya beres, Agastya nampak menyerahkan kembali ponsel itu pada Lentera.
"Nama yang cantik sekali, Tera. Pantas saja keponakan saya terlihat begitu mencintai kamu. Selain dari paras yang cantik, nama kamu juga indah. Terbayang makna yang benar-benar membuat saya merasa hangat. Terima kasih karna sudah mempercayai Raska dalam hal jatuh cinta. Saya yakin, Raska akan mengorbankan apapun untuk orang yang dicintainya."
"Di situ, nomor saya tersimpan dengan nama Agas. Nanti, kamu boleh mengubahnya sesuka hati kalo takut Raska cemburu karna kamu menyimpan nomor lelaki lain. Semoga, bantuan kecil kamu nanti bisa membuat semuanya menjadi lebih berkesan, ya? Terima kasih karna sudah sudi untuk ikut turun tangan dalam misi saya," ungkap Agastya. Lentera hanya bisa menunduk mengangguk-angguk. Senyuman kecil memang tercipta pada bibir manisnya, tapi entah mengapa hatinya berteriak bahwa ia sudah melangkah terlalu jauh. Seolah ada magnet yang memintanya untuk putar balik pada masa di mana ia belum mempercayai lelaki paruh baya bernama Agastya. Ada getaran rasa sesal yang terselubung di dalam hatinya. Ia benar-benar tak tau tentang apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya saat ini.
Semoga saja, apapun itu... semua ada dalam perlindungan Tuhan.
Agastya sudah berlalu pergi, namun pertanyaan-pertanyaan yang tak diketahui jawabannya oleh Lentera masih saja berdatangan.
'Gue ngga lagi bikin kesalahan, kan? Om Agastya itu omnya Raska, tapi kenapa gue seolah menolak fakta itu? Diliat dari bicaranya om Agastya emang keliatan meyakinkan banget, tapi di sisi lain kayak ada energi yang memaksa gue buat ngga percaya semua itu, seolah itu cuma omong kosong yang ngga perlu divalidasi.'
'Ka, gue ngga lagi memperkeruh suasana, kan? Gue ngga lagi ngebikin runyam kehidupan lo, kan? Gue takut, kepercayaan gue kali ini justru ngehancurin lo di masa depan. Feeling gue bener-bener ngga enak.'
Batin Lentera terus berperang dengan pertanyaan-pertanyaan itu. Ia melamun, terhanyut dalam pikirannya yang semakin membuat dirinya tak nyaman. Akang nasi goreng pun sampai mengernyitkan dahinya bingung, ia usap peluh yang mengalir di dahinya dengan sehelai kain yang selalu berada di lehernya.
"Neng? Ada yang lagi dipikirin? Kenapa malah jadi bengong?" Akang nasi goreng itu melambai-lambaikan tangannya tepat di depan mata Lentera. Terlihat dari usahanya, ia ingin Lentera tak berlama-lama berada dalam lamunan panjang itu.
"Istighfar, Neng. Jangan ngelamun mulu, ntar kesurupan saya ngga bisa tanggung jawab," ucap Akang nasi goreng sembari menepuk pelan bahu Lentera. Berhasil, gadis itu kini terlihat canggung ke arah Akang nasi goreng.
"Duh, maaf kang," ucap spontan Lentera. Ia menggaruk rambutnya yang tak gatal.
"Ngga papa, saya mah santai orangnya. Lagi mikirin apa emang, neng? Saya liat-liat tadi pas si bapak-bapak itu pergi, raut wajah neng jadi ikut berubah."
"Ngga papa kok, kang. Saya tadi tuh lagi mikirin cumi saos Padang, tiba-tiba saya nyidam pengen makan itu, hehe," sanggah Lentera. Ia jawab asal, bahkan cumi saos Padang pun memang terlintas begitu saja tanpa diminta.
"Owalah, saya kira kenapa. Tapi nih ya, neng... kalo emang ngga nyaman sama si bapak-bapak itu, mending neng jangan terlalu mikirin. Udah diemin aja, palingan juga kalo ntar marah-marah kalo ngga darah tinggi ya serangan jantung," tutur Akang nasi goreng. Entah bercanda atau tidak, sebab Lentera tak ingin memikirkannya lebih jauh.
"Hus, kang. Ngga boleh gitu. Dosa!"
"Ahahaha." Akan nasi goreng tertawa kecil, seolah ada hal lucu di hadapannya.
"Hei, lagi bicarain apa nih?" Raska datang dengan tiga permen kapas di genggamannya. Permen kapas berwarna biru, ungu, dan pink itu terlihat menggoda iman Lentera. "Kang, tadi saya kan nitip pacar saya, bukan buat digodain. Udah ngga bisa dipercaya nih," tuntut Raska.
"Loh, saya ngga godain neng-nya, kok. Cuma ngajak bicara sedikit," sangkal Akang nasi goreng itu. Lentera tertawa terkikik melihat komuk Akang nasi goreng itu. Lalu, setelah melihat wajah Raska yang terbakar api cemburu membuatnya kini tertawa terbahak, Raska benar-benar cemburu.
"Ka, lo cemburu cuma karna liat gue ngobrol santai sama si Akang?"
"IYALAHHH?!"
nb: jangan lupa votmen sayang💗💗💗
KAMU SEDANG MEMBACA
LENTERASKA
Teen FictionRaska Lautana Biru Nama indah milik remaja dengan nayanika seteduh sinar bulan. Tutur katanya lembut, selembut sutra. Siapa yang tak jatuh cinta pada insan sesempurna Raska? Siapa sangka, jatuh cinta perdananya justru jatuh pada seorang gadis yang...
