18☕

6 0 0
                                        

Lentera menyebut malam ini adalah malam yang penuh warna. Bulan bersinar terang, memamerkan kemolekannya. Lentera senang bukan main saat Raska benar-benar membawanya mengunjungi pasar malam yang penuh kerlip lampu. Indah, dan memukau pandangannya.

"Naik bianglala, ayok!" Lentera berseru senang saat netranya menemukan bianglala yang tengah berputar anggun. Warna pada benda besar yang disebut bianglala itu menyala terang.

Bianglala, wahana berbentuk roda besar yang berputar secara perlahan, di mana siapapun boleh naik ke dalam gondola-gondola kecil yang tergantung di pinggirannya. Dari atas, pemandangan pasar malam yang penuh lampu akan terlihat dengan jelas.

"Apapun untuk lo," sambutnya hangat. Raska merangkul pundak Lentera seolah mengatakan bahwa perempuan yang tengah bersamanya saat ini adalah miliknya.

Raska sedikit kurang nyaman saat beberapa pemuda mencuri pandang pada Lentera. Meskipun begitu, ia tidak ingin merusak suasana bahagia yang tengah Lentera rasakan. Namun, bukan berarti mereka bisa menatap Lentera sesuka hati.

"Ra, sebenernya gue ngga suka mereka ngeliat lo kayak gitu. Gue cemburu. Tatapan mereka bener-bener bikin gue pengen nyolok matanya."

"Hus, udah biarin aja. Nanti juga bosen sendiri," timpal Lentera. Gadis itu nampak tak memedulikan tatapan orang-orang di sekitarnya.

"Gue aja ngga pernah bosen liat lo. Gimana kalo mereka juga sama?"

"Meskipun begitu, gue cuma milik lo, kan?"

Raska tersadar. Benar, meskipun mereka menatap tak bosan pada Lentera, yang beruntung untuk memiliki hati Lentera saat ini hanyalah dirinya.

Raska merangkul lebih erat perempuannya. Rasanya masih tak rela, tapi perlahan ia tepis perasaan itu. Ia sudah menjadi satu-satunya orang yang paling beruntung saat ini. Sedangkan mereka? mereka hanya berkesempatan untuk memandang, bukan memiliki.

"Jadi naik apa ngga, Ra?"

"Jadi donggg!"

"Yaudah, ayok."

Mereka duduk pada salah satu gondola yang masih kosong. Senyum mereka tak berhenti merekah. Bahagia benar-benar menyapa mereka malam ini.

Jemari Raska tak melepaskan tautannya pada jemari Lentera. Ia mengelusnya pelan, memandangi betapa cantiknya perempuan yang tengah bersamanya saat ini. Dibandingkan dengan apapun, kecantikan Lentera memang begitu menonjol pada pandangan pemuda itu. Ia selalu jatuh cinta, menjatuhkan cinta pada ciptaan Tuhan yang paling istimewa menurutnya.

"Liat, Ka! Mereka semua jadi kayak semut. Indah banget, lampu-lampu itu juga ngga kalah cantik dari pemandangan bulan malam ini. Makasih ya, udah bawa aku ke sini," seru Lentera begitu antusias menunjuk satu persatu objek yang tengah dibahasnya. Raska mengikuti arah tunjuk jari Lentera, mengangguk mengiyakan keindahan yang tengah dibicarakan oleh gadis itu.

Mereka berada pada puncaknya. Berada pada titik yang paling tinggi. Angin berhembus menerpa sepasang kekasih yang tengah menikmati waktu bersama. Waktu benar-benar terasa berjalan begitu lambat. Hingga satu tangan Raska tergerak menyisipkan anak rambut yang bergerak terkena angin hingga mengganggu pandangan Lentera.

"Semua yang lo sebut tadi emang indah, Ra. Tapi ada yang jauh lebih indah dari sekedar itu. Dia bernafas, Ra. Dan beruntungnya, dia saat ini ada tepat di samping gue." Lentera menatap Raska dalam. "Lo, Ra. Lo lebih indah dari semua hal yang pernah gue temui. Barangkali ada manusia yang bilang bulan itu cantik, bintang itu indah, dan senja itu memukau ... Lo lebih dari itu. Bahkan, buat nyari sisi kurangnya dari diri lo pun gue ngga bisa dan ngga akan bisa. Lo terlalu sempurna kalo cuma didefinisikan oleh kata, Ra."

"Jangan terlalu berlebihan, Ka. Gue ngga seindah itu. Karna pada kenyataannya, lo cuma baru kenal gue secuil dari ribuan hal yang belum lo tau. Gue ngga mau lo kecewa," cicit Lentera. Ia tak berani menatap netra teduh Raska saat ini. Ia jatuh cinta dan tersesat pada netra itu, netra yang mengungkap ribuan cinta yang tak tersampaikan oleh lisan. Ia benar-benar malu, dengan dirinya yang jauh dari kata sempurna namun lelaki itu mengatakan dirinya lebih dari sekedar sempurna.

"Dari secuil itu aja gue udah sejatuh cinta ini, gimana jadinya kalo gue udah kenal lo seratus persen?"

Lentera menghambur pada pelukan Raska. Kehangatan menjalar padanya, anehnya hawa dingin atmosfer yang tiba-tiba saja berubah masih menjerat dirinya.

Terima kasih, Tuhan. Bianglala malam ini menjadi saksi atas besarnya cinta pemuda itu. Daksa itu berhasil ia rengkuh, bahkan cintanya berhasil ia peroleh. Asa yang terpanjat tidak seharusnya dikhianati oleh kejamnya semesta, bukan?

Semesta menyimpan enigma yang tak mampu ditebak oleh manusianya. Semoga saja, apapun itu, dan bagaimanapun keadaannya, sepasang kekasih yang tengah jatuh cinta ini mampu melewati badainya.

"Tetap jadi perempuannya Raska ya, Ra?"

Lentera mengangguk.

"Tetap jadi milik gue, Ra."

Lagi-lagi Lentera hanya mampu mengangguk. Ia semakin menduselkan kepalanya pada dada bidang Raska. Meraup detak jantung yang terdengar begitu jelas oleh telinganya.


"Biar gue aja, Ra. Lo tunggu sini aja, biar permen kapasnya gue aja yang ambil," ditariknya sebuah kursi milik Akang nasi goreng.

"Kang, minjem kursinya buat pacar saya, ya? Nanti saya bayar," ucap Raska pada Akang nasi goreng itu. Sang pemilik kursi hanya mengangguk dan melanjutkan acara memasaknya.

"Bentar, ya, Ra."

"Neng, pacarnya romantis pisan. Waktu Akang muda dulu juga sempet kayak gitu. Cuma bedanya, cinta Akang tertolak." Tak ada angin tak ada hujan, Akang nasi goreng itu bercerita. Lebih merujuk pada curahan hati. Lentera menanggapi celotehan itu.

"Tertolak gimana maksudnya, Kang?"

"Ya gitu, dia ngga nerima cinta Akang. Katanya, Akang ngga punya masa depan kalo cuma jualan nasi goreng kayak gini. Tapi, syukurnya Akang sekarang udah punya istri, Neng. Istri Akang nerima Akang apa adanya, sekarang udah punya anak tiga. Dan dengan jualan nasi goreng kayak gini, Alhamdulillah Akang bisa nyukupin kebutuhan keluarga Akang. Akang bener-bener bersyukur banget, Neng."

"Terkadang takdir emang terkesan jahat, Kang. Tapi dibalik itu, Tuhan lagi nyiapin hal yang jauh lebih indah. Hadiah yang begitu besar dalam hidup Akang."

"Betul, Neng." Akang nasi goreng itu terdiam sejenak, menyajikan dua porsi nasi goreng pada piring yang telah disediakan. "Langgeng-langgeng deh kalian. Akang ikut seneng kalo liat pasangan-pasangan muda yang akur kayak kalian ini."

"Makasih, Kang."

"Permisi, boleh saya bicara sebentar dengan kamu?" Lentera dikejutkan dengan suara berat milik lelaki paruh baya yang tiba-tiba saja mengajaknya bicara.

"Maaf, ada perlu apa?"

"Benar kamu pacar Raska?"







nb: jangan lupa votmen sayanggg💗💗💗


LENTERASKATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang