Astaga!

1.7K 83 12

=10 tahun silam, acara perpisahan SMA=

Lelaki kecil itu tiba-tiba saja melingkarkan lengannya sembari berjinjit karena perbedaan tinggi keduanya, kemudian ia menekankan bibirnya pada bibir teman yang ia rengkuh.

BUKK!! DHUAKK!!

Seketika tinju melayang ke perut dan wajahnya. Hadiah gratis dari yang tercium.

"Elo ngajakin gue ke taman belakang sekolah cuma untuk ngelakuin itu ke gue?!" mata berkobar emosi seketika dinyalakan oleh lelaki yang memukul tadi.

Sedangkan yang dipukul, kini mengerang kesakitan sambil memegangi hidungnya yang mimisan akibat bogem empuk sebelumnya.

"Najis lu yah! Gila lu! Homo gila! Menjijikkan! Jangan ampe gue ketemu elu lagi!"

Usai berkata demikian, si emosi meninggalkan TKP setelah sebelumnya meludah dulu ke tanah. Ia bernama Fay. Fayrizal Gandhi Prayoga.

Sementara lelaki yang masih mimisan, dia bernama Gio. Giovarro Theodore.

Sebenarnya mereka adalah sahabat. Hanya karena satu perbuatan nekat dari Gio, maka runyam sudah kini hubungan pertemanan mereka.

Gio dengan langkah terseok karena masih merasakan ngilu pada perutnya, memilih pulang diam-diam. Ia tak sanggup bertatap muka dengan sahabatnya. Ahh, atau... mantan sahabatnya?

Ia antara menyesali dan tidak menyesal akan perbuatannya. Setidaknya dia tau apa respon Fay.

---------------

=Masa kini=

"Ivan, jangan lari. Awas banyak kendaraan, hei!" nada kuatir seorang lelaki terdengar di antara hiruk pikuk sekitarnya.

Yang diteriaki mendadak berhenti dan menoleh ke belakang.

"Papa, cepetan. Aku gak sabar pengin cepet nyampe kelas." suara khas anak TK besar berkumandang mengharap si Papa lekas menyusulnya.

"Memangnya di kelas ada apa, sih?"

"Ada anak baru, Pa. Namanya Davi. Kemarin Ivan udah temenan ama dia. Anaknya asik deh Pa."

"Ya.. ya.. ya.." akhirnya si Papa berhasil kembali menggandeng anaknya.

Jalanan sekitar sekolah ini teramat ramai di pagi menjelang bel masuk begini. Maklum saja, di sini berjejer TK, SD dan SMP swasta terkenal ditambah di ujung jalan terdapat sebuah rumah sakit satu yayasan dengan sekolah-sekolah tadi yang tak kalah terkenal karena mutu pelayanannya yang bagus.

Maka jangan heran bila Gio amat kuatir bila Ivan seenaknya lepas dari gandengannya dan lari seperti tadi.

"Aku gak sabar pengin ketemu Davi, Pa." Ivan mengayun-ayunkan tangan mungilnya dalam genggaman Gio. Wajahnya tampak sumringah.

"Oya? Apa anaknya baik?" Gio menoleh ke putranya. Mereka hampir mencapai pelataran TK.

"Banget, Pa. Gak sombong juga."

"Kalau gitu, Ivan juga harus baik ke dia, ya. Siapa tadi namanya?"

"Da...vi." ulang Ivan.

Baru saja mereka menjejakkan langkah di pelataran TK, Ivan berseru girang. "Papa! Papa! Itu Davi!"

Gio pasrah saja tangannya ditarik Ivan masuk ke areal TK yang masih banyak orang tua murid turut masuk mengantar sebelum bel berbunyi.

"Met pagi, Davi. Hai." sapa Ivan pada bocah cilik bernama Davi yang berdiri di dekat ayunan.

Anaknya bertubuh lebih kecil dari Ivan dan mata lebarnya persis boneka. Ia malah lebih pantas dibilang cantik ketimbang tampan.

Sungguh kontras dengan Ivan yang bertubuh besar dan bertampang lebih manly. Gio sendiri heran, ia yang berwajah sehalus perempuan malah punya anak bertampang macho.

Tapi ada satu yang diwarisi dari Gio, garis senyum mereka. Ya, cara mereka tersenyum, garis lengkung bibir mereka, sama.

"Halo. Kamu Ivan yang kemaren, kan?" sahut Davi ramah. "Itu Papamu, ya?"

Ivan mengangguk. "Iya."

"Halo, Davi." Gio menyapa sambil berjongkok di depan Davi. "Diantar siapa? Kok sendirian?"

"Davi, ini adanya susu stroberi ama roti melon. Yang roti sosis sudah habis. Maaf, ya." tutur sebuah suara di belakang Gio.

Segera Gio bangkit dan memutar tubuhnya untuk melihat si empunya suara barusan.

DEGG!!

Mendadak jantungnya seolah dihantam palu Thor. Lelaki di belakangnya... dia... Fay.

=======bersambung======

Yo hai!
Ketemu lg ma gw.
Kali ini gw nyoba kasi fic yaoi.
Gw emank Fudan.
Dan semoga ini gak mengecewakan.
Jgn lupa vote en komen yak!

See ya next chapter dah.

Masih EngkauBaca cerita ini secara GRATIS!