Zeylan memeluk anak pertamanya, Griffin. Dikecupnya singkat pucuk kepala sang anak. Griffin membalas, menyandarkan kepalanya pada bahu Ayahnya. Setelah Elard dan Nio pergi menuju kesibukan masing-masing, mereka tinggal berdua, mengobrol seputar kuliah dan pekerjaan.
"Buka mulut kamu, pesawatnya datang..."
Walau ia merasa itu kekanak-kanakan, Griffin tetap menerima suapan sereal dengan susu putih yang diberikan Ayahnya itu, dengan raut wajah datar. Zeylan tersenyum melihat sang anak yang menurut. Ia ingin tertawa melihat wajah Griffin yang terus menerima suapan darinya.
Setelah sereal habis, ia meletakkannya di meja. Ia beralih duduk di samping Griffin, menonton bersama sebuah film komedi di televisi. Mereka tertawa bersama karena lelucon yang ditampilkan.
Griffin menoleh ke samping. Ditatapnya wajah sang Ayah yang sedang tertawa bahagia, seolah waktu berhenti. Di tengah denting jarum jam yang berbunyi, volume TV yang besar, dan tawa Ayah yang begitu lepas, Griffin tersenyum tipis. Ia kembali menatap layar TV.
"Griffin—" ia menoleh pada Zeylan, tatapan mereka saling bertemu. "Ayah selalu sayang kamu, Elard, dan juga Nio sedari dulu." Raut wajah Zeylan berubah menjadi menyedihkan. "Apa kamu sekarang juga menyayangi Ayah?"
Tangan mereka saling bertaut erat. Jantung Griffin berdetak kencang, berdentum-dentum seakan memaksanya menjawab dengan pasti. Peluh muncul di dahinya. Ia terdiam, menatap mata sang Ayah dengan pikiran yang penuh pertanyaan. Pertanyaan itu berputar dan terus mengulang.
Apa kamu sekarang juga menyayangi Ayah?
Apa kamu sayang Ayah?
Griffin...
"Aarghh!!"
Ia terbangun dengan mata terbuka lebar dan debaran jantung yang begitu cepat. Ditatapnya jarum jam yang tergantung pada dinding kamarnya. Pukul 02.00 dini hari.
Mengusap rambutnya dengan kasar, ia menunduk menatap selimut. Pikirannya dipenuhi mimpi yang aneh dan memuakkan. Apalagi mengingat ekspresi wajah Ayahnya yang memelas itu.
Hahh...
Griffin turun dari kasurnya. Ia berjalan perlahan menuju pintu, membukanya, dan terdiam sesaat. Seluruh ruangan sudah gelap, kecuali lampu remang-remang di dapur—tujuan utamanya untuk meredakan dahaga.
Dirasa cukup puas, Griffin kembali menuju kamarnya. Ia menaiki tangga satu per satu. Langkahnya yang terdengar jelas di tengah sunyinya malam mengiringi lajunya.
Dengan rasa kantuk yang masih menyerang, Griffin menoleh singkat pada pintu kamar Ayahnya yang baru beberapa langkah ia lewati. Langkahnya terhenti. Ia berbalik, menatap pintu.
Mendekat dengan perlahan. Tangan besarnya menggenggam knop pintu. Ia menghela napas, hampir mengurungkan niat dan memilih untuk lekas menuju kamarnya.
Sial. Tubuhnya seakan bergerak secara otomatis.
Dengan tangan yang kembali memegang knop pintu, ia menekannya perlahan. Pintu terbuka. Matanya menelisik ke dalam, melihat seonggok tubuh yang berbaring di atas kasur dalam keadaan resah.
Tubuhnya perlahan masuk. Ia menutup kembali pintu, berusaha tanpa menimbulkan suara. Langkah demi langkah membawanya mendekati Ayahnya. Matanya yang tajam melihat dengan jelas ekspresi resah Ayahnya dalam tidurnya.
Ia melihat dan mendengar jelas bagaimana mulut itu terus bergumam, menyebut, "Mommy... Daddy..." Ah, maksudnya Kakek dan Neneknya?
Jemarinya tergerak seakan ingin menenangkan. Namun, keraguan membuatnya menarik kembali tangan yang sudah hampir menyentuh. Ia berniat pergi, memilih untuk tidak peduli.
Grep!
Ia terkejut. Sebuah tangan kini memegang erat lengannya. Ia melihat mata Ayahnya terbuka samar dan berkedip perlahan.
"Jangan pergi..."
A Y A H
°
•
°
[ Revisi ✅ ]
KAMU SEDANG MEMBACA
Ayah?
FantasyMenjadi seorang ayah? Tiba-tiba banget nih? Cover by pinterest. + ke perpustakaan Jangan lupa ☆ and 💬
