"Jaga anak gadis itu, Raska. Ayah tidak mau jika kamu menjalin hubungan hanya untuk merusak masa depannya. Cintai dia dengan cinta kamu yang paling tulus, berikan bukti nyata yang paling serius bahwa tidak ada keraguan dari cinta yang kamu bangun untuknya."
Nasihat Bimantara kala itu terus terngiang dalam benak seorang Raska. Berputar sebagaimana kaset rusak yang mengganggu fokusnya. Ia hanya heran dengan kalimat nasihat yang bahkan ia sendiri pun tak pernah berpikir untuk melakukan hal bodoh itu. Merusak? Bagaimana bisa ia tega merusak seseorang yang sepenuhnya mengambil atensi dan juga hatinya.
"Nak, terkadang cinta membuat manusianya bodoh. Menghasut untuk merusak bahkan mengkhianati. Kamu boleh jatuh cinta, tapi jangan sampai cinta itu menguasai hidup kamu. Kendalikan cinta itu dengan baik, jaga, dan bimbing cinta itu. Akan sangat menyeramkan jika cinta menguasai hidup kamu, kamu akan lupa makna cinta yang sesungguhnya itu apa, sampai kamu tergiur untuk melakukan hal yang tidak sepatutnya untuk dilakukan."
"Tolong ingat ucapan ayah dengan baik. Ayah mendukung kamu, tapi bukan berarti mendukung kamu untuk merusak gadis itu. Jaga dia, lindungi, dan tunjukkan cinta itu dengan hal sederhana namun positif," ucap Bimantara malam itu.
"Apa gue punya potensi merusak itu, Ra?" celetuknya tanpa sadar. Bibirnya melontarkan kalimat itu secara refleks. Ia hanya terlarut dalam gelombang pikiran yang membawanya pada bimbang yang mengelabui.
"Gue butuh nasihat nenek pantai itu sekarang." Raska meraih kunci motor yang tergeletak di atas kasur. Langkahnya cepat, ingin segera menemui nenek yang waktu itu pernah ia temui di bibir pantai. Entah kali ini ia akan bertemu kembali dengan nenek itu atau tidak, setidaknya ia ingin memastikan sendiri dengan datang ke pantai itu. Lagi.
Saat sampai di pantai, senja sudah merona manja menghias langit yang membentang luas di atas gempuran ombak pantai. Sepi, namun ketenangan menyergap tubuh Raska yang hanya terbalut kaos hitam lengan pendek. Kakinya dibiarkan telanjang saat menginjak pasir pantai, sensasi geli sedikit mengganggunya saat pasir pantai itu menyapa kulitnya secara langsung.
"Ngga ada siapapun di sini. Apa mungkin nenek belum pulang kerja? Tapi ini udah terlalu larut buat nenek pulang, kan? Di mana nenek itu tinggal? Ngga ada satupun bangunan yang layak ditinggali di sini," monolognya. Netranya berpendar mencari keberadaan nenek yang entah di mana keberadaannya. Ia sangat membutuhkan nasihat lembut dari nenek itu saat ini. Bagaimanapun juga, ia harus pulang setelah semua gundah dalam benaknya terselesaikan, semua pertanyaan dalam hatinya terjawab.
Atensinya teralihkan pada deburan ombak yang tenang. Langkah kakinya membawa dirinya pada riak ombak yang kini menyentuh kakinya. Dingin.
"Laut, mengapa gundah di dalam benak begitu menyiksa? Bagaimana caranya membaginya denganmu? Apakah manusia seperti diriku benar-benar memiliki potensi menjijikkan itu? Bukankah selama ini, gejolak rasa yang ingin menjaga justru lebih kuat?"
"Mengapa cinta begitu membingungkan? Di mana letak indahnya jika semua sudut yang terlihat begitu menakutkan? Benarkah cinta mampu membutakan manusianya?"
"Cinta memang terkadang membingungkan, anak muda. Cinta datang dengan sejuta rasa yang bercampur menjadi satu. Di satu sisi, cinta bisa menjadi rumah yang hangat. Tapi, di sisi lain cinta juga bisa menjadi labirin yang membuat manusia itu tersesat. Anak muda, indahnya cinta tidak selalu terletak di jalannya yang mulus. Cinta membutakan jika manusianya terlalu terhanyut, lupa bahwa mencintai juga butuh akal sehat dan hati yang seimbang. Bijaklah, agar cinta yang kamu miliki bisa menjadi cahaya yang menuntun untuk keluar dari gelap."
"Nek? Kenapa nenek selalu muncul tiba-tiba? Nenek dari mana?" beo Raska yang terkejut dengan gan kedatangan nenek itu secara tiba-tiba.
Nenek itu tertawa datar, seperti ada beban berat yang menahan tawa lepas nenek itu. Sempit dan mencekik, seperti tak membiarkan tawa itu lepas. Mengapa Raska merasakan ada banyak sekali beban berat yang menimpa nenek itu hanya dengan mendengar tawa tertahan itu?
Raska hendak mencium punggung tangan nenek itu sebelum akhirnya nenek itu mundur satu langkah. Menolak niat baik Raska yang ingin menjabat tangannya. Raska menatap nenek itu seksama, wajah lelah itu begitu kentara sekali ingin segera diistirahatkan.
"Kamu sudah datang kembali ke sini, itu artinya ada sesuatu yang mengganggu pikiran dan hatimu. Katakan, luapkan saja. Jika nenek bisa memberimu nasihat, akan nenek berikan. Jika tidak, nenek hanya akan mengatakan kalimat penenang agar kamu merasa lebih nyaman dan tenang. Apa jatuh cinta semakin membuatmu bingung?"
Raska mengangguk. "Nek, mengapa cinta begitu menyeramkan. Sisi gelap cinta yang belum sepenuhnya ku pahami ini benar-benar menyiksa batin. Aku tidak ingin cinta menggelapkan hatiku, hingga aku lupa makna cinta yang sesungguhnya. Aku harus bisa menjaga bukan malah merusak."
"Anak muda, cinta itu seperti api. Jika dijaga dengan baik, ia akan menghangatkan. Tapi jika dibiarkan liar, ia akan membakar dan melukai. Sisi gelap cinta itu memang ada, tapi bukan berarti kamu harus takut untuk melangkah. Justru dengan kamu tau adanya sisi gelap itu, kamu belajar untuk memahami dan mengendalikannya."
"Jika kamu ingat makna cinta yang murni, kamu tidak akan tersesat."
"Apa yang membuatmu takut dan membawa langkahmu untuk kemari?" tanya nenek itu setelah menyelesaikan kalimat sebelumnya. Raska tentu tercengang dengan jawaban yang terlontar indah dari nenek itu. Seberapa besar pemahaman nenek itu terhadap cinta? Mengapa kalimat yang tercipta begitu lembut untuk dirasa.
Nenek itu tak berani menatap netra teduh milik Raska. Pandangannya sempurna menatap deburan ombak tenang di hadapannya.
"Tidak ada, nek. Hanya ada sedikit nasihat dari ayah yang membuatku berpikir keras dan membawa langkahku kemari, untuk menemuimu."
"Ayahmu memberikan wejangan agar kamu tidak terjerumus pada sisi gelap dari cinta. Nenek bisa mengerti ketakutan ayahmu, dia hanya mengingatkan agar kamu tidak tersesat. Sebab, di jaman sekarang ... cinta hanyalah omong kosong. Banyak sekali pemuda pecundang yang egois menuntaskan nafsu sesaatnya di atas nama cinta, lalu berlindung di balik kata khilaf. Kehidupan remaja di jaman sekarang begitu menakutkan, anak muda. Di mana berhubungan seksual di luar pernikahan dianggap lumrah," ucap nenek itu dengan nada sedih. Matanya sedikit berkaca-kaca menyiratkan kekecewaan pada generasi muda di jaman sekarang.
"Pulanglah, kau sudah mendapat jawaban dari pertanyaanmu, bukan? Di sini semakin dingin, dan kamu selalu menggunakan kaos tipis untuk kemari. Pulang dan bersihkan tubuhmu," tutur nenek itu lalu melenggang pergi meninggalkan Raska. Remaja itu tak mampu mencegah kepergian nenek itu, ia hanya membiarkan nenek itu berjalan menjauh darinya, menyusuri pantai.
"Terima kasih, nek. Lagi dan lagi kalimat yang terucap darimu benar-benar memberikan ketenangan. Apa setiap kalimat yang terlontar darimu adalah obat dari sebuah rasa sakit?"
☕
"RASKAAA, NANTI MALEMMMM AJAKK GUEE PERGII KE PASAR MALEMM?!! GUE MAU NAIK BIANGLALA?!" teriak Lentera yang berada di balkon rumahnya. Bisa dipastikan gadis itu menunggu kepulangan Raska sedari tadi.
"Nanti izin ke nyokap lo dulu, ya ...." jawab Raska sedikit berteriak. Balkon rumah Lentera dan Raska saling berhadapan, memudahkan mereka untuk saling tatap dalam waktu yang lama.
"Nyokap gue pasti ngeizinin kalo perginya bareng sama lo, Ka."
"Iya juga, ya. Yaudah, nanti pergi, ya. Jangan pake pakaian yang terlalu terbuka, Ra. Cuaca lagi dingin." Lentera mengangguk dan tersenyum senang karena Raska mau diajak untuk pergi ke pasar malam.
Bianglala adalah favoritnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
LENTERASKA
Teen FictionRaska Lautana Biru Nama indah milik remaja dengan nayanika seteduh sinar bulan. Tutur katanya lembut, selembut sutra. Siapa yang tak jatuh cinta pada insan sesempurna Raska? Siapa sangka, jatuh cinta perdananya justru jatuh pada seorang gadis yang...
