PROLOGUE

2.1K 281 73
                                        

Orang-orang di sepanjang jalan di salah satu bagian kota London berlarian mencari tempat berteduh. Hujan deras tiba-tiba mengguyur kota London. Menit sebelumnya, matahari masih merajai kota ini, berbagi cahaya dan kehangatannya. Kebanyakan dari mereka berlari memasuki cafe atau restoran. Mencari kehangatan dari secangkir kopi sambil menunggu tetesan terakhir hujan. Sebagian memilih hanya berdiri di depan sebuah toko berkanopi. Asalkan mereka tidak terkena hujan, tak perlu lah kehangatan lain dari secangkir kopi atau teh.

Hal berbeda di lakukan seorang gadis berambut coklat bergelombang. Ia berlari menerjang hujan, menerobos kerumunan orang yang juga berlari mencari tempat berteduh. Berkali-kali ia di hujani makian karena menabrak tubuh orang lain. Gadis itu tidak mempedulikannya. Ia tidak peduli dengan hujan, ia tidak peduli dengan makian orang-orang, ia tidak peduli jika setelah ini mungkin ia jatuh sakit, ia tidak peduli apapun. Ia bahkan tidak peduli jika sekarang ia harus mati.

Ia bahkan menginginkannya. Ia menginginkan kematian. Setelah apa yang ia rasakan. Di campakkan, di hina, di buat malu. Jika orang lain yang melakukannya, mungkin tidak akan seperih ini, tapi orang yang ia cintai, puji, dan kagumi yang melakukan ini. Jika ada kata yang memiliki arti lebih dalam dari sekedar 'sakit hati', yang dapat lebih menjabarkan betapa terluka hatinya, ia akan meneriakkan kata itu dengan lantang. Di hadapan orang yang membuatnya terluka.

Gadis itu terus berlari. Ia tidak tahu kemana arah kakinya berlari. Hanya saja menurutnya, berlari, pergi menjauh dari hadapan orang itu adalah pilihan terbaik. Tidak ada pilihan lain memang, selain lari atau menahan malu. Ia lebih memilih lari. Hatinya sudah cukup sesak dengan perasaan terluka. Akan di simpan dimana lagi rasa malu itu?

Ia melihat ke arah tiang di sudut jalan, menampakkan gambar orang berwarna hijau. Tidak ada siapapun yang terlihat berdiri di sisi jalan. Tidak ada siapa pun yang berniat menyebrangi jalanan itu. gadis itu terus berlari, bermaksud menyebrangi jalan itu. saat ia tiba di sisi jalan, mulai melangkahkan kaki dengan cepat ke seberang jalan. Tanpa ia sadari gambar orang berwarna hijau berubah menjadi orang berwarna merah.

***

Sebuah truk melaju dengan kencang. Supir truk memanfaatkan jalanan yang lengang untuk melaju lebih cepat. Ia diburu waktu. Ia harus mengantar paket kiriman orang-orang dengan cepat. Dari jauh ia melihat lampu lalu lintas di depannya berubah hijau. Membuatnya semakin dalam menginjak pedal gas.

Hujan deras sedikit membatasi pandangannya. Wiper di kaca depan truknya tidak membantu banyak. Ia memicingkan mata saat menyadari ada sekelebat bayangan melintas di depan truknya. Dengan cepat ia menginjak pedal rem. Bunyi decitan ban beradu dengan aspal licin menggema di jalanan itu. Jalanan basah membuat badan truk berputar 180 derajat, sebelum akhirnya berhenti karena menabrak lampu lalu lintas. Supir truk terdiam, masih di dalam kabin truknya. Terlalu terkejut dengan apa yang baru saja terjadi. Ia memeriksa seluruh tubuhnya dengan random. Ia mendesah, bersyukur, tidak ada luka di tubuhnya.

Di luar truk, kerumunan orang mulai berdatangan. Wajah-wajah kaget, iba, sedih, takut, bahkan wajah yang hanya di isi dengan mimik keingintahuan tingkat tinggi berkerumun di dekat badan truk. Mengelilingi tubuh seorang gadis, yang berlumuran darah. Sang gadis pelari itu kini tergeletak tak berdaya di aspal yang basah dan dingin. Mungkin Tuhan mengabulkan doanya. Ia menginginkan mati. Atau Tuhan membuat rencana lain. Rencana yang membuatnya akan berpikir dua kali, atau mungkin ribuan kali untuk mati. Karena sesungguhnya ada cinta yang menunggunya.

***

gimana?

layak di terusin gak nih cerita?

Vomment pleaseeee ;)

SOUL [L.T]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang