Keyla dan Fikri kini sudah sampai di perpustakaan, mereka sedang memilih milih buku sejarah apa yang akan mereka baca,

"Kamu udah baca yang ini?" tunjuk Fikri kepada salah satu buku

"Oh- kurasa belum," ucap Keyla sambil mempautkan bibirnya

"Serius kamu belum baca yang ini?" tanya Fikri kepada Keyla dengan tatapan serius

"Lah emang belum, emang kenapa sih? Udahlah ga usah sok sok natel aku dengan tatapan serius gitu ah," ucap Keyla

"Oke kalau begitu mari kita baca buku yang ini dulu, karna buku ini nemiliki 1758 halaman," ucap Fikri sambil membawa buku tersebut

"Okey!" " jawab Keyla bersemangat

Akhirnya mereka pun membaca buku tersebut, meski mereka kadang kadang di tegur oleh penjaga perpustakaab karna agak berisik,

"Aaaaaaaa gilaaaa aku suka banget buku yang tadi! Makin cinta sama sejarah masa hahaha" ucap Keyla saat keluar dari perpustakaan

"Haha iyaa dong,"

"Gimana? Jadi? Sekarang?"

"Iyalah harus jadi," ucap Fikri lalu-menggandeng tangan Keyla

KEYLA POV

Aku merasa menemukan Fikri yang lama lagi, aku senang,

Awalnya aku ingin mengungkit masalah 'kenapa dia tak membalas pesan pesanku? Kenapa dia tak menjawab telfoku? Mengapa dia seperti menjauhi' tapi aku takut dengan aku melontarkan pertanyaan seperti itu ia akan berubah lagi,

Jadi, aku memilih untuk melupakannya,

"Idih melamun ajaa! Tuh liat bentar lagi kita sampe" ucap Fikri sambil menunjuk ke arah jendela bis

"Eh? Oh em iya" ucapku gugup

Sebentar lagi kita akan sampai di taman hiburan- di taman hiburan itu sebenarnya banyak sekali kenanganku bukan?

Akhirnya kami sampai juga di tempat tujuan,

"Yeeaay sampe!" ucapku bergembira saat menginjakan kaki di taman hiburan

"Emang kamu udah lama ga ke sini? Kok kayaknya seneng banget sih?" tanya Fikri dengan muka bingung pensaran

"Oh? Emm iyaa sihh, tapi waktu itu gue sempet ke carnaval yang deket kota ituloh waktu itu gue ke sananya sama Ang- eh udah yuk beli tiket!" aku keceplosan.

Ah hampir saja! Bagaimana jika aku tak sengaja menyebutkan nama Angga di depan Fikri? Memang sih ga masalah, cuma kan ga enak yaa,

Maka dari itu aku mengajaknya untuk membeli tiket,

"Gue yang bayarin," ucap Fikri saat kita antre tiket

"Dih udah kagak usah, bayar sendiri aja" ucapku santai

"Ck tumben gamau? Yakin?"

"Ah-hehe" aku menggaruk garuk nagian belakang kepalaku yang menurutku tak gatal,

"Kan tadi es krim lo yang bayar, nah ini biarin gue aja yang bayar yaa" ucap Fikri sambil tersenyun

"Mwehehe okee" ucapku gembira,

Iyalah siapa sih yang ga gembira karna di traktir? Lagian ga baik kan kalau kita nolak traktiran, itu kan termasuk rezeki juga, eh bener kan?

Akhirnya kami selesai membeli tiket, kini tinggal waktunya mengantre untuk masuk ke taman hiburannya,

"Kok antriannya tumben ya ga panjang?" tanyaku heran

"Ya gatau lah Key, lagian lo juga harusnya tuh bersyukur karna ngantrunya ga panjang"

Stalker✨Baca cerita ini secara GRATIS!