16☕

11 1 1
                                        

Dari arah dapur, terlihat Maira tengah sibuk menyusun beberapa piring yang masing-masing berisi lauk yang menggugah selera. Wangi harum khas masakannya tercium begitu pekat di hidung. Maira tersenyum senang, kini semua menu hidangan makan malam hari ini sudah tersaji dengan baik. Ia harus bergegas untuk membersihkan diri sebelum putranya pulang, tubuhnya bau bawang dan sudah banyak berkeringat akibat berkutat di dapur terlalu lama.

Sekitar jam lima sore tadi Raska mengabarkan bahwa ia sudah bisa mengantar Rehal pulang ke rumah. Kini, ia merasa bukan hanya menjadi ibu bagi Raska. Ia sekarang memiliki tiga orang anak yang semuanya sama-sama punya cara untuk menghiburnya.

Flashback on

"Bunda, ini Raska udah mau nganter Rehal pulang," ucap Raska pada sambungan video call yang tengah berlangsung antara Maira, Raska, Lentera, dan juga Rehal.

"Syukurlah, semoga Rehal selalu dilindungi Tuhan di manapun berada, jadiin hari kemaren sebagai pelajaran ya, nak? untuk sekarang fokus sama penyembuhan aja dulu, jangan mikir yang lain dulu." Maira berpesan demikian. Meskipun ia tidak tau masalah apa yang sebenernya mengantar Rehal pada rasa sakit yang mengharuskan remaja itu dirawat di rumah sakit. Ia tak ingin bertanya lebih jauh, ia menghormati privasi orang lain yang tak semestinya terjamah olehnya.

"Oke, Bun. Aman! Ini udah sembuh kok, liat nih tangannya udah bebas gerak ngga sakit kayak kemaren," tunjuk Rehal, ia menggerakkan tangannya bebas.

"Bohong, Tante ... itu sebenernya masih sakit, tapi pura-pura kuat aja!" adu Lentera diakhiri dengan tawa khasnya. Terdengar pula tawa Raska yang tak kalah menggelegar.

"Kalo belum sembuh jangan maksain pulang dulu, sayang. Biar di sana dapet penanganan yang bener sampe sembuh, baru abis itu pulang kalo udah bener-bener sembuh ngga pura-pura kayak sekarang. Tuh, diketawain anaknya bunda yang lain."

"Tapi ini beneran udah mendingan kok, Bun. Mereka aja yang nakal pake bilang gitu segala. Mereka kan emang suka nistain Rehal, Bun! Oh iya, Bun?! Rehal mau ngadu nih sama bunda, tadi tuh Raska sama Lentera abis ci-"

"Yaudah bunda! Raska mau siap-siap nih, udah ya... Raska tutup dulu, bye bunda." Raska memotong ucapan Rehal. Jika bundanya sampai tahu mungkin nasib telinganya akan sangat memprihatikan. Setelahnya, Raska tampak menyentil pelan bibir Rehal sebagai tanda peringatan.

"Punya mulut jangan terlalu lemes!"

Flashback off

"Ibu mau bersih-bersih, ya?" tanya salah satu pembantu yang dipekerjakan oleh Bimantara untuk membatu Maira menyelesaikan pekerjaan di rumah. Bimantara sudah sangat sering mengingatkan agar Maira tak perlu repot-repot melakukan banyak pekerjaan rumah yang bisa saja membuatnya lelah. Namun, maira tetap kekeuh melakukan itu, ia jenuh berada di rumah saat tak memiliki kegiatan apapun.

"Iya ini, Bi. Saya mau mandi, badan saya bau keringet banget. Bibi kalo mau istirahat lebih awal ngga papa, pekerjaan rumah bisa dilanjut besok karena sebagian juga udah saya kerjain tadi. Nanti kalo bibi laper mau makan, tinggal ambil di meja khusus sekalian ajak yang lain juga biar makan bareng," anjur Maira pada Bi Tuti. Lawan bicaranya mengangguk dan tersenyum ramah seolah merasa beruntung bertemu dengan majikan yang super duper baik seperti Maira dan Bimantara.

Maira memang menyiapkan meja khusus untuk menyimpan makanan para pekerja di rumahnya. Ia ingin mereka merasa nyaman tanpa harus merasa tertekan bekerja di rumahnya. Ia buat seolah mereka tengah berada di rumah sendiri, itu adalah sebuah kenyamanan yang Maira janjikan untuk semua pekerja di sana.

Maira masuk ke dalam kamar dan segera melakukan ritual mandinya. Sepuluh menit berjalan dengan Maira yang masih berada di kamar mandi, Bimantara pulang dan melepaskan setelan jasnya. Meletakkannya pada tiang khusus di salah satu sudut kamar luasnya. Bimantara memelankan langkah kakinya agar Maira tidak tahu kepulangannya. Entah mengapa lelaki itu tiba-tiba saja ingin memberikan kejutan mendadak.

LENTERASKATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang