15☕

10 1 0
                                        

"Biarin gue makan sendiri. Lo kira tangan gue abis diamputasi? Pake segala lo suap-suapin!" Pekik Rehal. Ia sedari tadi berusaha menolak untuk disuapi oleh Raska. Namun, Raska tetap tak menghiraukan ucapan Rehal. Bagaimana remaja itu makan, sedangkan tangannya saja terlihat begitu mengerikan dengan banyak lebam di sana. Tak bisa dipungkiri, luka itu pasti benar-benar menyakitkan.

"Lo mau nurut apa gue panggil dokter aja biar lo ditempeleng?"

"Emang tega?"

"Udah diem, gausah banyak cencong tuh mulut! Buruan buka mulut lo! Apa perlu gue bikin ni sendok melayang-layang jadi pesawat biar lo mau makan?" sendok berisi satu suap bubur itu terhenti tepat di depan bibir Rehal. Remaja itu tak kunjung membuka mulutnya membuat Raska hampir kehilangan stok sabarnya. Apa tadi Rehal bilang? Bisa makan sendiri? Lalu mengapa bubur itu masih utuh sejak siang hingga sore?

Kali ini Rehal mulai pasrah. Ia membuka mulutnya, tak terlalu lebar sebab perih masih sangat terasa. Sudut bibirnya pecah lumayan parah. Ia terlihat sesekali meringis pelan saat rasa perihnya tak tertahankan. Sedikit demi sedikit bubur itu mulai tandas. Raska dengan telaten menyuapi Rehal, mengambil air saat sahabatnya itu haus, dan membersihkan bubur yang tak sengaja mengotori baju.

"Udahan, gue kenyang. Bubur ngga ada rasa malah dikasih ke orang. Heran gue," celetuk Rehal. Bubur itu benar-benar hambar.

"Makanan rumah sakit ya gini, kalo mau makan enak harusnya lo pergi ke resto bukan malah ndekem di rumah sakit!"

"Yang bawa gue ke sini siapa?" Rehal melirik ke arah Raska. "Lo yang bawa gue ke sini. Ngapain lo malah nyalahin gue karna ndekem di sini?"

"Beuh, main tarik-tarikan ginjal kayaknya seru, ya?" sarkas Raska.

"Hehe, jangan dulu. Gue belum nikah, belum punya anak, belum punya cucu, dan yang paling penting adalah gue belum pengin mati apalagi kalo harus mati konyol di tangan lo itu," cicit Rehal. Raska mode serius memang membuat nyali menciut. "Gue udah boleh balik kalo infusnya udah abis, sorry udah ngerepotin lo tiga hari ini. Bolak-balik ke rumah sakit, belum lagi lo juga pasti capeknya double abis pulang sekolah langsung ke sini. Gue beruntung karna bisa kenal sama lo, justru lo yang bakal kena sial kalo kenal sama gue. Bokap gue udah pasti nyusun rencana jahat buat lo sesuai ancamannya waktu itu. Ancaman bokap gue ngga bisa dianggep sepele, Ka. Bokap gue ngga pernah main-main kalo udah ngancem, bukan cuma gertakan doang biar nyali lo ciut."

"Abis ini lo pura-pura ngga kenal gue, ya? Jauhi gue demi kebaikan lo sendiri. Gue mohon," pinta Rehal. Raska hanya diam menatap binar sendu di mata Rehal. Ia yakin sekali Rehal tidak menginginkan hal yang baru saja terucap dari bibirnya. Ia tahu Rehal tengah berperang dengan segala riuh di kepala. Bingung ingin menuruti kata hati atau logika, hingga keputusan berat terpaksa terlontar dari mulutnya.

Raska mendekat setelah menaruh sisa bubur di atas nakas. Tatapannya tajam dan penuh selidik. "Kalo gue mundur, cara lo dapetin keadilan gimana? Atau lo mau nyerahin nyawa lo? Apa lo yakin setelah lo mati di tangan bokap lo, semuanya bakal selesai? Jangan egois sama diri sendiri, Al. Gue tau lo capek, gue tau lo juga pengen hidup tenang, gue tau lo mau lindungin gue, tapi di sini gue juga lagi lindungin lo. Gue ngelindungin orang yang gue sayang, apa gue salah?"

Rehal menggeleng pelan. Matanya berkaca-kaca menahan tangis yang bisa kapan saja meluncur.

"Bokap lo ngga bisa dibiarin lebih lama. Gue ngga mau kalo suatu saat nanti harus ngeliat sahabat gue tergeletak kaku, gue ngga mau kehilangan lo."

"Jangan peduliin gue. Peduliin orang-orang yang lo sayang selain gue. Gue yakin bokap gue ngincer orang lain yang mungkin jadi titik lemah lo. Antara bunda atau bisa juga Lentera. Bokap gue licik, Ka. Dia ngga langsung nyerang lawannya, tapi nyerang titik lemahnya. Bokap gue kejam, Ka. Gue ngga mau kalo harus ngeliat lo hancur karna bokap gue."

LENTERASKATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang