ILUSTRASI
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
CHIKO
Kak Vino
Bila kalian pikir menjadi anak orang kaya itu selalu enak, maka kalian salah.
Apalagi bila kalian dilahirkan dari dua orang tua yang strict nya luar biasa.
Sialnya, itulah yang terjadi pada diriku saat ini.
Dilahirkan dari keluarga berada, ayah adalah seorang direktur perusahaan terkenal, sementara mama juga seorang business woman.
Berlimpah harta, namun kekurangan kasih sayang dan perhatian.
Yang lebih konyolnya, sepertinya orang tuaku mengidap paranoia akut.
Bagaimana tidak? Mereka melarangku sekolah karena takut aku kenapa-kenapa.
Pernah ku rundingkan hal ini, namun keputusan mereka sudah bulat.
Jadilah, sudah sedari kecil aku seperti terkungkung di rumah ini, todak boleh kemana-mana.
Orang tuaku yang begitu sensitif melarangku untuk keluar, walau hanya untuk berjalan-jalan di depan.
Aku juga menjalani home schooling dari dulu, karena mereka tak mau aku sekolah, bahkan jika itu sekolah paling elit sekalipun.
Selain itu aku jarang merasakan liburan, karena kesibukan mama papa.
Paling-paling aku cuma diajak liburan pas ada perayaan kantor atau apa.
Argh! Menyebalkan! Aku bosan berada terus dirumah.
Kadang aku membayangkan lahir di keluarga biasa saja.
Menjalankan sekolah dengan biasa, dan berinteraksi dengan teman-teman sebayaku.
Ah sudahlah, tidak ada gunanya mengeluh, toh omonganku gak pernah didengerin.
Tapi untungnya hari ini sedikit terobati dengan datangnya dua temanku, Bian dan Ryano.
Di hari minggu ini kami menghabiskan waktu bermain ps di rumahku.
"Ah aku bosan."
Celetuk ku, tapi mereka tak menghiraukan, huft dasar!
Tiba-tiba mereka seakan baru sadar sesuatu, dan berubah panik.
"No, hari ini kita ada janji, kan?"
"Ah iya. Yaudah kita pulang yuk!"
"Eh eh eh… kok udah mau pulang sih? Kan kita belum main?"
"Aduh maaf, ya Chiko. Kita udah ada janji privat les."
"Iya, aku juga."
"Loh emang kalian masih ada private les? Kan kalian gak homeschooling kayak aku."
"Iya kita masih ada private les. Tapi bukan itu sih yang kita incer."
"Kita mah ngincer pengajarnya."
