Berryl

11.1K 84 2
                                        

ILUSTRASI:

ILUSTRASI:

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

BERRYL

Wali kelas 

Seharusnya kelasku sudah bubar semenjak lima menit lalu, tapi harus tertahan karena suatu hal.

Aku mendengus keras saat pak Supratman masih betah ngomong didepan.

Sementara beberapa murid, yang aku yakin sedang caper, meneteskan air matanya.

Hari ini hari terakhir pak Supratman mengajar, beliau sudah menjadi wali kelas kami sejak awal.

Aku tak merasa iba atau sedih sama sekali, karena ya memang image pak Supratman di kepala ku memang sudah tidak bagus.

Beberapa kali aku harus menerima hukuman darinya, walau aku hanya melakukan kesalahan kecil.

Seperti pada waktu itu, aku harus bersih-bersih kamar mandi satu minggu full, hanya karena aku menempelkan permen karet bekas ke rok seorang siswi.

Atau aku yang pernah dihukum harus jadi relawan perpus, karena sengaja menyiram kuah soto bekas ke seorang guru yang ku anggap menyebalkan.

Oke, aku akui bahwa aku mungkin sedikit nakal, tapi hei, aku juga merupakan siswa berprestasi lho.

Hampir semua piala yang dipajang sekolah ini adalah milikku.

Kalian bisa menyebutkan apapun kompetisi nya, aku pernah ikuti.

Mulai dari kompetisi sains, matematika, melukis, bernyanyi, olahraga, bahkan sampai debat bahasa asing pernah aku jabani.

Itu juga yang merupakan alasan bahwa mereka tidak pernah bisa mengeluarkanku.

Huft, pidato pak Supratman masih lama. Aku sudah mengantuk.

"Eh Berryl, kamu udah ngasih pak Supratman kado, belum?"

"Ngapain?"

"Lah kok ngapain? Kan itu pak Supratman bentar lagi keluar."

"Bagus dong! Kita bisa pulang."

"Alah, kamu mah!"

Bodo amat lah! Yang penting untuk sekarang ini adalah pulaang dan tidur.

Lalu ketika pak Supratman pergi keluar pintu, aku pun mendahului nya dan berlari pergi.

Jangan salahkan aku kalau bertingkah tidak sopan, pinggangku sudah cukup sakit menunggu daru tadi.

Dengan pensiunnya pak Supratman artinya kami akan memiliki wali kelas baru.

Dari isu yang berhembus sih, katanya wali kelas baruku juga adalah seorang guru baru.

Tapi apa peduliku? Semuanya sama saja bagiku.

Tidak pernah ada dalam sejarah aku, seorang Berryl Pramudya suka kepada guru.

Yah mungkin kalau besok guru itu mulai mengajar, akan aku jahili sedikit.

part offTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang