10

48K 3.3K 146
                                        

"Tidak ada cinta yang mampu hilang dan datang dalam waktu singkat"

"Tidak ada cinta yang mampu hilang dan datang dalam waktu singkat"

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

🥀🥀🥀

Bagaimana jika kalian bertemu dengan pria yang paling kalian hindari ? Pria yang sialnya dahulu adalah orang yang memberi cinta dan luka secara bersamaan.

Apakah kalian akan menamparnya sekuat tenaga?Atau justru kembali jatuh cinta?

Sialnya, tidak ada salah satupun dari pilihan tersebut yang sejalan dengan tindakan dan pikiran Gretta. Di tempatnya berdiri, ia terpaku dengan nafas yang tertahan. Dunianya tiba-tiba terasa berhenti sejenak ketika bertemu netra emas tersebut. Bukan karena kembali jatuh cinta seperti saat umur remaja. Gretta tidak merasakan debaran itu. Dia hanya tidak siap.

"Apa yang akan kau lakukan setelah ini?" batin Gretta yang yakin jika mantan kekasihnya itu masih mencintainya. Jika dahulu pertemuan pertama mereka -setelah pernikahan Gretta dan Fredric-ketika di pesta dansa, Egbert akan berlari menujunya. Bertekuk lutut memohon cinta. Maka, Gretta penasaran apa yang akan dilakukan pria tersebut. Namun, sialnya dia juga tidak siap.

"Aku mencarimu," Egbert mengucapkannya dengan nada khawatir.

Dengan langkah tegasnya, ia berjalan mendekat. Membiarkan surai emasnya ikut bersinar diterpa mentari. Terlihat sangat menawan. Layaknya singa yang siap menaklukkan siapa saja di bawahnya.

"Bukankah aku mengatakan untuk tidak perlu datang? Kau terlihat sangat lelah."

Sakit. Entah apa yang terjadi, Gretta merasakan ada rasa sakit yang muncul. Tepat di depan matanya, tubuh jangkung itu berjalan melewatinya. Berbeda jauh dengan alur di masa lalu.

Tidak ingin tenggelam dengan pikirannya, Gretta memberanikan diri untuk melihat lebih jelas. Memutar tumitnya untuk melihat Egbert yang kini memberikan jubahnya untuk menyelimuti tubuh Ornella.

"Kenapa aku merasa sedih?" Gretta bertanya pada dirinya sendiri. Dia tahu dengan pasti bahwa Egbert telah terlalu jahat padanya. Tapi entah mengapa dia merasa sedih. Bahkan, air matanya tiba-tiba jatuh.

Tepat sebelum Egbert membalikkan tubuhnya, Walter berdiri di hadapan Gretta dengan jemari yang menggenggam payung biru muda. Menutupi tubuh Gretta dengan punggung lebarnya.

"Mentari sedang terik. Anda akan kepanasan, Duchess." Walter mengatakannya dengan wajah datar. Namun, jauh di dalam hatinya, tanpa siapapun ketahui, ia tidak ingin ada yang melihat sisi lemah Duchessnya. Walter pastikan tidak ada yang bisa melihat itu.

🥀🥀🥀

Gretta duduk di depan cermin kamarnya. Memperhatikan dengan seksama aktivitas Fleur yang sedang menyisir rambutnya sembari memberikan beberapa perawatan untuk menjaganya tetap lembut dan bersinar.

"Fleur," panggilnya yang tiba-tiba terpikirkan kejadian tadi siang.

"Ada apa Duchess?"

"Kau pernah jatuh cinta?" tanya Gretta.

Fleur tertawa. "Bukankah Duchess tahu bahwa saya mengagumi prajurit di kediaman Morwenna? Saat itu saya berbohong. Saya benar-benar mencintainya."

Tampak berpikir sejenak. Gretta tersenyum setelah berhasil mengingat wajah prajurit yang dimaksud. "Arlo?" tanyanya kembali memastikan.

"Benar, Duchess. Dia pria yang hangat."

"Maaf karena membuatmu harus berpisah darinya," sesal Gretta.

"Kami tidak benar-benar menjalin hubungan. Dia telah jatuh cinta pada perempuan lain. Saya merasa lebih baik berada di sini, Duchess. Bagaimanapun, melayani anda adalah kesempatan terbaik di hidup saya."

Gretta merasa tersentuh. Dia sangat berterima kasih pada Tuhan karena telah mengirim Fleur di sisinya.

"Apakah kau sudah melupakannya?"

"Saya tidak mungkin bisa melupakannya. Namun, saya mengingatnya sebagai bagian lucu di hidup saya. Bukankah terlalu jahat jika kita membenci apa yang pernah hadir di hidup?"

"Bagaimana jika pria yang pernah hadir di hidupmu memberikan luka yang paling menyakitkan?" Apakah kau akan tetap seperti itu?"

Fleur tersenyum. "Tidak semua orang mampu memaafkan. Namun, saya ingin menjadi orang yang mampu mendoakan perubahannya. Saya berharap orang tersebut berjalan sebagaimana semestinya."

Gretta menunduk. Meremas ujung gaunnya. Dia tiba-tiba merasa perlu untuk bercerita.

"Egbert," lirihnya yang tentu mampu didengar oleh Fleur.

Dari balik cermin. Fleur berhasil menangkap pemandangan Gretta yang meneteskan air matanya. Wanita itu terlihat sangat rapuh.

"Cinta pertama di musim semi yang indah. Aku selalu bertanya mengapa kami tidak bisa bersama."

Netra biru Gretta beralih menatap kanvas yang memperlihatkan lukisan pria di atas kuda hitamnya dengan pakaian Zirah perang.

"Pada akhirnya aku mengerti dan menjalani hidupku. Namun, entah mengapa, aku merasa sedih saat kembali melihatnya. Rasanya seperti duniaku runtuh." Gretta menatap Fleur dari balik cermin. "Bukankah aku telah kehilangan perasaanku?"

Fleur tidak tahu harus mengatakan apa. Dia terlalu takut.

Gretta tertawa lirih. "Aku membencinya. Sangat. Dia adalah pria jahat yang menghancurkan semuanya. Namun, kenapa aku menangisi pria yang bahkan telah memiliki dunianya sendiri?"

Pertemuannya dengan Egbert berhasil membuat Gretta berpikir seribu kali. Membuatnya bertanya-tanya atas perasaannya. Dengan kesadaran penuh Gretta akan mengatakan bahwa dia membenci Egbert, pria yang meninggalkannya dengan begitu kejam. Namun, saat kembali bertemu di kehidupan ini, ia menangis. Ia bahkan semakin merasa terusik saat melihat jemari indah yang dahulu menemaninya melukis, kini mendarat di tubuh gadis lain. Seharusnya, Gretta tidak perlu sedih. Bukankah dia membenci Egbert?

"Duchess, apakah anda butuh pelukan?"

Gretta menjadi semakin terisak ketika Fleur menawarkannya pelukan. Ia malam ini menjadi sangat kekanakan.

🥀🥀🥀

Aku ngucapin maaf karena baru up, dikarenakan ada banyak tugas organisasi🥹
Huhu tapi tenang aja, karena semua komen kalian, aku berusaha untuk mengingat anak-anakku ini.

Terima kasih ya telah menikmati cerita ini. Jangan lupa tinggalkan bentuk cinta kalian pada karya ini!

Happy holiday👋🏻✨

Duchess of ValtorTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang