Kabur

224 30 0
                                        

"Siapa dia? mengapa dia ada di sini?", tanya Breinde.

"Kau lupa? mereka pernah bilang jika mereka kedatangan anggota baru yang adalah seorang pria", ingat Suzura. Breinde memang seseorang yang gampang melupakan sesuatu. Sebenarnya, ada alasan khusus dibalik sifat pelupanya.

"Oh iya, hampir saja aku melupakan nya", balas Breinde membuat mereka hanya dapat menggeleng atas tingkahnya.

"Ungh..", lenguhan pelan terdengar disertai dengan aroma yang semakin menusuk di indra penciuman mereka.

Seisi ruangan terdengar hening. Bau manis semakin menyeruak. Seakan mengundang mereka untuk melakukan sesuatu kepada pria yang sedang tertidur pulas itu.

Perlahan, mata yang semula terpejam, kini mulai menunjukkan eksistensinya. Riku terbangun, terkejut mendapati beberapa orang pria berada di dalam kamarnya.

"Ah!", Riku berteriak terkejut saat sebuah sengatan aneh tiba-tiba saja datang. Rasa sakit yang dia rasakan juga semakin menjadi. Bahkan tempat yang dia duduki kini, sudah basah akibat cairan bening yang keluar dari lubang belakangnya, bersamaan dengan aroma manis yang semakin dan semakin menusuk.

"Hah.. kau benar-benar mengundang kami hm?", ujar Breinde tiba-tiba. Dia tanpa sadar segera memerangkap Riku di bawah kukungannya. Mencium bibirnya dengan sedikit kasar, membuat Riku tak dapat menandingi ciuman tiba-tiba tersebut.

"Hei Breinde! tidak adil jika hanya kau yang bermain", ujar Suzura yang sedari tadi menonton.

"Ck! jika ingin bergabung, bergabung saja! jangan menggangguku!", balas Breinde kesal.

Beberapa orang pria itu, segera ikut bergabung dengan kegiatan yang sahabat mereka lakukan. Beruntungnya bagi Riku, dapat mengatasi panas pertamanya dengan beberapa orang pria tampan.

...................

"Ukhh..", mengercapkan matanya berulang kali untuk membiasakan cahaya yang mulai masuk di retina matanya.

Dia merasakan sakit yang teramat, apalagi di bagian bawahnya. Namun beberapa saat kemudian, dia akhirnya sadar jika panas yang dia alami sebelumnya kini sudah hilang. Ia bingung, pasalnya dia tidak ingat apa-apa mengapa panasnya bisa hilang.

"Rasanya sakit sekali. Apa yang terjadi padaku?", gumamnya.

Saat pandangannya mengarah ke depan, dia terkejut tatkala melihat tubuhnya yang tidak mengenakkan apa-apa, tidak sampai di situ, dia melihat beberapa orang pria sedang tidur mengelilingi ranjangnya.

Tiba-tiba saja sekelebat bayangan tentang kejadian yang baru saja menimpanya muncul, membuat wajah pemuda itu sontak memanas.

"A.. apa yang sudah kulakukan?", lirihnya.

"Tidak, aku harus segera pergi dari sini", lirihnya kembali sebelum beranjak pelan-pelan dari tempat tidurnya.

Mulai sekarang, dia memutuskan untuk tidak tinggal di sana kembali. Entah kemana di akan pergi, hanya saja ia segera pergi dari sana. Dengan langkah yang terseok-seok, dia memunguti pakaiannya yang kembali berserakan.

...................

"Sial! ke mana dia pergi??", seru seorang pria yang tidak lain adalah Breinde. Ia dan teman-temannya sudah terbangun dari tidur mereka sejak beberapa saat yang lalu, namun mereka sampai sekarang belum menemukan keberadaan Riku di manapun.

"Mungkinkah dia telah pergi dari sini sebelum kita terbangun?", celetuk Zhouyan membuat semua mata menatap padanya.

"Kami pulang, loh, kakak? kenapa kau ada di sini?", seru Ellen saat mendapati kakaknya, Elaxo, ada di markas guild timnya.

"Apa menemui adik sendiri adalah sebuah dosa? bagaimana kabarmu, Ellen?", tanya Elaxo pada adik perempuannya itu.

"Ellen baik kak, apa kalian sudah bertemu Riku? omong-omong, di mana Riku sekarang?", tanya Ellen yang mulai mencari-cari keberadaan Riku.

Ketujuh pemuda tersebut hanya diam. Sebelum akhirnya dengan keberanian penuhnya, Breinde maju untuk menjelaskan tentang apa yang terjadi.

"Sebenarnya..".


...................


PLAAKK!!

Sebuah tamparan keras mendarat di pipi putih mulus milik Breinde, bukan hanya dia, teman-temannya pun mendapatkannya semua dari adik-adik mereka. Dia tau ini akan terjadi.

"Apa kalian gila?! kalian, bajingan!", Ellen pergi dari sana dengan perasaan kesal sekaligus kecewa.

"Aku ga nyangka kalian bisa berbuat seperti itu. Aku kecewa pada kalian", ujar Suzune pada kedua kakaknya sebelum berlalu pergi.

"Kau sungguh bajingan! sialan!", seru Siena yang kemudian pergi juga dari sana.

"Jangan temui aku lagi", ucap Tamae sebelum dirinya pergi seperti yang lain.

Kini hanya tersisa Sera dan tujuh orang pria yang baru saja mendapatkan tamparan dari adik mereka masing-masing, kecuali Breinde yang mendapatkan tamparan keras dari Ellen sebelum Sera juga menamparnya dengan keras, begitu juga dengan pria yang lain.

"Kalian bajingan! apa kalian tidak tau kalau Riku tidak punya tempat tinggal lain di sini? kalian sudah membuatnya pergi dari sini yang otomatis membuatnya tak lagi memiliki tempat tinggal. Cepat cari Riku di manapun, atau jangan harap kalian bisa bertemu dengan kami kembali", ujar Sera sebelum dia pergi menjauh seperti yang lain juga.

Ketujuhnya terdiam, ini memang salah mereka. Elaxo tiba-tiba melangkah pergi ke luar, dia akan mencari keberadaan Riku sekarang, begitu juga dengan yang lain yang mulai beranjak dari tempatnya.

Omong-omong soal keberadaan Riku, entahlah pemuda itu berada di mana. Yang jelas, dia sekarang berada di tempat yang hampir setengahnya hijau.



........

.

Udah ah

.......
To be continued

Trapped in LoveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang