14☕

17 1 0
                                        

"Ka, pulang dulu, ya? Liat, dia udah ngga papa, semuanya udah kembali ke baik-baik aja. Setidaknya, pulang buat ngasih tau bunda kalo lo baik-baik aja dan ngga ada yang perlu dikhawatirkan. Lo percaya sama ucapan gue, kan? Atau lo masih tetep mau egois sama diri sendiri?" Lentera berusaha membujuk Raska agar mau pulang dan beristirahat. Sejak empat jam yang lalu, lelaki itu hanya diam dan membisu.

Raska perlahan mencari sorot teduh kekasihnya, ditatapnya lekat-lekat. Pelupuk mata remaja itu masih sembab, meskipun tidak terisak hebat, tapi air mata setia mengalir tak henti-hentinya. "Gue anter pulang, ya, Ra? Udah malem banget, takut mama lo nyariin," ia gamit jemari Lentera lalu bangkit.

Tangan yang satunya ia gunakan untuk mengusap wajah lelah Lentera. Lentera hanya mampu tersenyum simpul, membiarkan lelakinya menunjukan ketulusannya.

"Besok sekolah, Ra. Maaf ya, bikin lo belum istirahat di jam segini. Ayok kita pulang, tapi nanti di jalan sambil peluk gue, ya, Ra?"

"Iya, nanti gue peluk sampe depan rumah. Kalo masih belum tenang sampe hari besoknya, gue peluk lagi sampe lo bener-bener tenang dan ngga nyalahin diri sendiri lagi," tuturnya.

"Tetap cintai gue, ya, Ra. Meskipun suatu saat lo bakal tau semua kekurangan bahkan sifat buruk gue."

"Tenang aja soal itu. Karena pada kenyataannya, di setiap harinya akan ada sesuatu yang justru ngebuat gue makin jatuh cinta sama lo. Akan ada banyak cara yang gue lihat dari detail-detail kecil yang lo lakuin dalam memperlakukan gue layaknya ratu. Lo itu istimewa, istimewa dengan segala kekurangan dan kelebihannya yang justru menjadi pemicu kuatnya perasaan gue buat lo, Ka."

"Dan lo indah, Ra. Bener-bener definisi indah yang ngga bikin bosen buat dipandang. Duh, peletnya pake apa si mbak? Kuat pisan euy!"

"WOY! DAH SONO LU BERDUA BALEK?! BARU JUGA MELEK DAH DISUGUHIN ADEGAN CMIWIW. NGENES AMAT DAH HIDUP GUA, DAH SONO BALEK! HEH?! JUNAEDI?! JUBAEDAH?! NGAPA MALAH PADA KE SINI?! STOP DI SITU GAK LU PADA? ATAU GUA LEMPAR AJA NI TIANG? BALEK SONO LU KAMPRET, DAH MALEM TU CEWEK LU KASIAN BAMBANG?!"

Lentera dan Raska sontak tertawa bersama. Pasalnya mereka tak tahu sejak kapan remaja bongkotan satu itu mendengar obrolan manis tadi. Raska mengurungkan niatnya untuk menghampiri Rehal yang tengah mencibirnya habis-habisan. Sembari terkekeh pelan, ia tatap sosok Rehal yang kini terlihat lebih baik.

"Bangsat! Bisa-bisanya lo ngusir gue, ya? Yaudah lah, mending nganter cewe gue dulu si, kan lo juga yang nyuruh. Awas ntar digelendotin setan lo sendiri di sini!" Raska hanya bercanda. Ia paham arti tatapan Rehal saat ini. Rehal bukan bermaksud mengusir Raska, niatnya baik. Tentu saja, memang benar ... ia tak mungkin akan membiarkan Lentera lebih lama berada di rumah sakit dan melewatkan waktu istirahatnya.

"Yeuh, aman ntar gue ajak pacaran sekalian," celetuk Rehal.

"Ra, tunggu sini bentar, ya?" gadis itu mengangguk patuh dengan senyumnya yang merekah lebar. Raska mengambil langkah mendekati Rehal. Berbisik pelan seolah tengah membicarakan hal penting selayaknya rahasia negara. Namun setelahnya, mereka nampak terkikir bersama.

"Yaudah, gue anter calon bini dulu. Nanti gampang gue balik lagi ke sini buat nemenin lo." Raska menepuk pelan punggung tangan Rehal yang terbebas dari selang infus. Pemuda itu hanya mengangguk lemah dengan senyum tulus yang terbit di wajahnya. Tubuhnya masih sangat sakit untuk digerakkan, rasanya seperti semua tulangnya remuk tak berbentuk.

"Jaga diri lo baik-baik selama gue ngga ada di sini. Kalo bokap lo berani ke sini, langsung kabarin gue. Hp lo ada di atas nakas," pesan Raska sebelum benar-benar meninggalkan sahabatnya itu. Tentu ia digelayuti rasa khawatir, tapi bagaimanapun juga ia harus mengantar Lentera untuk pulang segera. Beruntung Rehal justru mengutamakan untuk membolehkan dirinya mengantar Lentera terlebih dahulu.

LENTERASKATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang