Blurb 🔮
"Mungkin sudah suratan takdirku untuk bertemu denganmu, anak muda. Banyak sejarah yang terkubur akibat peperangan ratusan tahun lalu. Kau mungkin salah satu yang terpilih untuk menyelamatkan negeri ini dari kehancuran."
Pertemuan tak terdug...
Zrrshh... Tak disangka, bumi Staraa yang paginya cerah, tiba-tiba sekitar setengah jam setelahnya, ia telah bermandikan derasnya hujan. Biru langit perlahan memudar, digantikan kelabu tebal yang semakin menyelimuti atap bumi. Cahaya matahari yang tadinya menyilaukan kini redup, memberi jalan pada tarian awan hitam pembawa hujan.
Bau aroma tanah basah akibat hujan, sangatlah menyenangkan. Akan memikat para manusia penggemar hujan di muka bumi yang luas ini, contohnya Fiuuna.
Fiuuna berjalan menyusuri gedung Akademi Staraa bagian Tenggara. Yang mana dibagian ini terdapat banyak koridor berjendela kaca transparan. Sehingga, siapa pun yang melintasi area ini akan terpukau oleh taman indah di belakang akademi tua yang bergaya kastil Disney ini, yang dipadukan dengan sentuhan teknologi modern.
Fiuuna menolehkan kepalanya dan melihat sekeliling koridor yang cukup sepi, hanya beberapa siswa yang berlalu-lalang disana. Fiuuna mendongak ke arah atap, lantas membuang mukanya ke arah jendela. Ia menyipitkan matanya agar dapat melihat jelas pemandangan di luar.
Sekitar 2 atau 3 siswa berhamburan memasuki area bangunan akademi. Ada yang melindungi tasnya dari terpaan hujan sambil meringkuk. Sebaliknya ada yang malah menjadikan tasnya sebagai pelindung diri dari tumpahan air hujan.
Fiuuna menghela nafas lega. "Untung saja, aku menuruti bujukan ibu untuk berangkat lebih awal. Kalau tidak, mungkin aku juga akan basah kehujanan seperti siswa-siswa itu." Batinnya.
Fiuuna menilik arlojinya, dan menyadari bahwa dering bel masuķ masih lumayan lama. Ia yang merasa bosan terus menerus memperhatikan taman, memilih untuk mampir ke klubnya sebentar.
"Hai!"
Fiuuna terkejut, dan melihat-lihat sekitar. "Kamu memanggilku barusan?" Tanya Fiuuna menoleh ke seseorang di belakangnya, setelah merasa bahwa tidak ada orang lagi disana selain dia.
"Iya. Kamu Fiuuna Athella Mahiru kan?" Sapa orang itu ramah.
Deg! Fiuuna tercengang. Lagi-lagi, ia disapa oleh siswa yang tak dikenalnya. Fiuuna memperhatikan orang di depannya. "Murid cowok, tampaknya dari kelas sebelah. Apakah mungkin tetangga Meruu?" Decak Fiuuna kesal.
Maklum, untuk seorang yang agak introvert seperti dirinya, ia tidak terlalu suka mengobrol dengan orang baru jika tidak ada kepentingan. Akan tetapi, Meruu, teman sekelasnya yang cukup 'menyebalkan' pikirnya, sering sekali menceritakan Fiuuna kepada tetangga dan teman-teman dekatnya.
"Ah, maaf. Kamu pasti terkejut ya. Namaku Arsen Ivery Ouchi. Kelas 2‐5. Aku sering mendengarmu dari Meruu."
Tuhkan, ini ulah Meruu.
"Ngomong-ngomong, kita kemarin sempat bertemu loh."
"Hah??" Potong Fiuuna bengong.
"I-iya. Kamu kemarin sempat bertemu denganku untuk menanyakan seseorang. Kamu juga bertanya kepada siswa lain, sih.."
Ah iya, Yumee!
"Kamu sudah menemukan orang tersebut?"
Fiuuna menggeleng cepat. "Belum," Ia merubah wajah menyungutnya menjadi datar setelah melihat sebuah benda yang dibawa di tangan 'Arsen'. "Itu-bunga?"
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.