الهداية بيننا

127 27 44
                                        

Senja perlahan memeluk langit di pelataran Masjid Al-Layyan, menyisakan semburat jingga yang lembut

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Senja perlahan memeluk langit di pelataran Masjid Al-Layyan, menyisakan semburat jingga yang lembut. Udara sore berhembus sejuk, mengusik dedaunan yang bergoyang perlahan. Nadira menoleh ke arah sahabatnya, Aghnia Adeeva, tengah duduk di salah satu anak tangga masjid, mengusap pelan ujung jilbab pastelnya.

"Adeeva, aku sudah daftarkan kita untuk kelas tafsir pekan depan," beritahu Nadira sambil tersenyum, memecah hening antara mereka.

"Syukran, Nadira. Aku memang butuh ilmu baru," jawab Aghnia—mengangguk kecil. "Semoga bisa memperkuat langkahku." Seutas senyum mengembang di bibirnya.

Nadira hendak kembali menanggapi. Tapi belum sempat, saat langkah kaki terdengar mendekat. Seorang pria jangkung dengan jubah sederhana serta sorban melingkar di bahu berdiri di hadapan mereka. Sosoknya tampak familier, membuat Nadira langsung menyapa.

"Assalamualaikum, Suhail. Baru selesai halaqah, ya?" Nadira menyapanya dengan nada santai.

Suhail Rafassya, pria itu mengangguk kecil sambil tersenyum tipis. Berujar lembut dengan intonasi rendah. "Waalaikumussalam. Iya, baru selesai tadi. Alhamdulillah, dapat ilmu yang luar biasa."

Sedang Aghnia, terdiam. Atensinya tetap terjaga ke arah depan, tak berani menoleh sedikit pun. Nama Suhail membawa kenangan lama yang terlalu kuat untuk diabaikan. Ia adalah teman sekolah yang dulu terkenal bengal, acuh, dan sering kali meremehkan perempuan berhijab seperti Aghnia. Dan kini, dia berdiri di sana, dengan tampilan yang begitu berbeda.

Dada Aghnia, terasa berdenyut aneh. Bukan sekedar—rasa tak nyaman, tapi juga sedikit getir. Bagaimana mungkin sosok pria yang dulu memandang rendah dirinya kini berada di jalan yang sama? Apakah perubahan itu benar-benar tulus? Atau hanya sebuah pencitraan semata? Lontaran pertanyaan itu menggantung di benaknya.

"Deeva, kamu kenal Suhail, kan?" Nadira bertanya sambil melirik sahabatnya yang tetap diam.

"Iya," jawab Aghnia akhirnya, dengan suara yang nyaris tak terdengar. "Kami teman lama."

Tarikan pada kedua sudut bibir Suhail, terlihat—dia tak memaksa pembicaraan lebih jauh. Tahu betul, perubahan dirinya pasti meninggalkan banyak tanya, terutama di hati seseorang yang mengenalnya di masa lampau.

───────✿───────

Matahari dan rembulan, terus bergerak bergantian, menggulirkan waktu—sebagaimana takdir senantiasa mempertemukan mereka. Suhail yang kini aktif di kelas tahfiz sering kali terlibat percakapan dengan Nadira. Dalam rundingan itu, tak jarang Aghnia hanya menjadi pendengar. Gadis itu memilih bungkam menjaga jarak, berusaha menenangkan hatinya yang mulai terusik oleh rasa ingin tahu.

Selama pertemuan-pertemuan itu, sering kali Aghnia mendengar bisikan dari teman-temannya. "Hati-hati dengan Suhail. Dia memang sudah berubah, tapi siapa tahu itu hanya sebentar," ucap salah satu dari mereka. Kalimat itu mulai mengoyak keyakinannya. Apa benar orang seperti Suhail bisa sepenuhnya lepas dari kebiasaan masa lalu?

Brief Yet EndlessTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang