13☕

10 1 0
                                        

Rehal sudah ditangani, dokter bilang luka-lukanya cukup parah. Raska menghela nafasnya. Meraup wajahnya lalu menatap kosong arah pintu yang menghubungkan tempatnya duduk sekarang dengan tempat Rehal terbaring tak berdaya.

Ia meraih benda pipih pada saku celananya.

"Sorry, Ra. Gue bikin lo dan bunda khawatir,"

Raska membalas satu persatu pesan dari Lentera dan bundanya. Jelas mereka semua panik.

"Ka, lo baik-baik aja, kan? Bunda tadi ke rumah. Raut wajahnya panik banget, chat gue juga dari tadi ngga lo bales," ucap Lentera di seberang sana. Nada khawatir terekam jelas di telinga Raska saat ini. Namun, tak ayal bahwa dengan mendengar suara Lentera, kekhawatiran serta rasa lelahnya sedikit pudar.

"Ka? Lo ngga mau jawab pertanyaan gue? Lo di mana biar gue susul."

"Gue di rumah sakit, Ra."

"Astaga! Gue ke sana sekarang."

"Ngga perlu, Ra. Gue baik-baik aja. Gue lalai," Raska menyalahi dirinya sendiri.

"Cukup, Ka. Lo diem di sana, gue nyusul. Gue tau apa yang lo butuhin sekarang. Jangan dimatiin, ya?"

Raska hanya mengangguk. Ia bersandar pada dinding ber-cat putih rumah sakit. Ditaruhnya ponsel itu pada bangku kosong di sampingnya. Muak sekali hidup di dunia yang penuh dengan manusia biadab. Ia yang tak pernah paham akan cinta kasih dan bersikap baik, ia yang serakah menuntut penghormatan oleh manusia yang lebih lemah, ia yang lupa caranya berterimakasih. Mereka itulah pecundang, pecundang yang enggan mengakui kesalahan dan mengucapkan kata maaf.

Di sudut ruang tunggu rumah sakit yang dingin dan berbau antiseptik, Raska duduk terpejam di atas bangku keras yang terasa lebih menusuk dibanding biasanya. Ponsel yang semula berada di genggamannya pun terlepas menciptakan bunyi nyaring, namun tak mengusiknya. Tubuhnya lunglai, namun rahangnya tetap tegang, seperti menahan sesuatu yang ingin meledak. Wajahnya yang biasanya tenang kini sedikit berkeringat, alisnya berkerut dalam, bibirnya mengepal rapat. Di balik kelopak matanya yang terpejam, sebuah mimpi buruk memutar dirinya ke dalam ruang yang penuh sesak oleh rasa amarah dan kekecewaan.

Ia melihat seorang pria paruh baya, wajahnya kabur tetapi terasa sangat akrab, sosok yang tak lain adalah ayah sahabatnya sendiri. Pria bajingan yang sejatinya tak pantas disebut sebagai ayah. Pria itu tertawa kecil, suara tawa yang sinis, penuh arogansi, seperti anjing liar yang baru saja mendapatkan tulang busuk. Raska merasakan tangannya gemetar, ingin sekali membalas, ingin memaki, ingin menghentikan sikap pria itu yang selama ini terus menghancurkan hati sahabatnya tanpa rasa bersalah. Menghancurkan mental tanpa henti.

Suara di mimpi itu makin memekakkan. “Kau terlalu peduli, bocah. Bukan urusanmu!” Pria itu berdecih, matanya tajam, menusuk relung. Tapi Raska tau, di balik semua itu ada kesombongan kosong yang menjijikkan. Ia berteriak dalam hatinya, memaki pria itu, meluapkan kemarahan yang selama ini ia pendam. Tapi tubuhnya terasa berat, seperti terjerat rantai. Ia tidak bisa bergerak, tidak bisa bicara, hanya bisa merasakan rasa benci yang menguar semakin kuat. Ia memberontak sekuat tenaga berusaha melepaskan diri dari jeratan rantai tak kasat mata, namun sia-sia. Tenaganya habis hanya untuk memberontak.

Tiba-tiba, ia tersentak bangun. Napasnya memburu, dadanya naik turun, seperti baru saja berlari sejauh bermil-mil. Tangannya mencengkram sisi bangku, matanya memandang kosong ke depan. Ruang tunggu yang sunyi dan temaram kini terasa lebih pengap. Raska tahu, ini bukan sekadar mimpi buruk. Ini adalah potret nyata dari amarah yang belum selesai.

Ia tangkup wajahnya yang bercucuran keringat dingin. Amarah yang tersimpan untuk pria bajingan itu nyatanya masih meluap-luap. Badannya gemetar menahan tangis. Semuanya tak bisa lagi ia kendalikan, Isak tangisnya kian terdengar menyakitkan.

"Ka! Ini gue." Lentera membawa tubuh gemetar itu pada dekapnya. Iringan kalimat penenang terlontar lembut dari gadis itu. Pertama kalinya ia melihat Raska sekacau ini.

"It's oke. Luapin semuanya. Segala kekesalan, amarah, atau apapun yang mengganggu lo saat ini. Nggak akan ada yang menghakimi," ucap Lentera. masih dalam dekapnya, Raska masih enggan untuk mengucap kata.

"Everything will be fine."










LENTERASKATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang