Chapter 5 : The More You Ignore Me The Closer I Get

41K 4K 217

Pengalaman Adrie akan dunia cowok memang minim. Dia hanya pernah pacaran sekali, yaitu kelas satu SMA dan hanya sekedar cinta monyet-monyetan, itu pun hanya bertahan selama 7 bulan. Sejak kenal Emir, Adrie menyadari bahwa ternyata cowok pun bisa segila cewek kalau sedang suka dengan orang yang disukainya. Adrie bukan tipe cewek yang gampang kegeeran jika didekati laki-laki, tapi sudah rahasia umum kalau Emir memang menyukainya. Hal itu juga diperjelas oleh omongan semua orang. Mulai dari anak-anak tongkrongan yang sering menggoda Emir jika mereka berpapasan dengan Adrie, senior-senior di kampus yang suka menggoda Emir jika Adrie lewat di dekat mereka, sampai Mira yang sudah mulai bosan dititipi salam oleh Emir untuk Adrie.

Mira dan Adrie memang cukup dekat. Walaupun mereka tidak intens bertemu, tetapi seringkali mereka nongkrong bareng dengan teman-teman geng ospek seperti Talitha, Laras, dan Marsha. Waktu itu mereka sedang makan siang di kantin Teknik. Tiba-tiba Mira menepoknya dari belakang.

"Woy, dapet salam dari abang gue!" ujarnya cuek. Mira memang sedikit cuek. Dalam arti, dia memang tidak suka mencampuri urusan orang lain. Mendengarnya, Adrie jadi sedikit bete.

"Iya. Waalaikumussalam."

"Abang gue nggak capek-capek yaa nitip salam mulu ke elo. Gue yang nyampein aja capek, kalo nggak disampein, dosa," tumben-tumbenan Mira komentar begini.

"Udah jelas ditolak mentah-mentah," hiyaaah dilanjutin sama Mira. Kakak lo... emang batu! Annoying bangeeeeetttt tau nggak! Jerit Adrie dalam hati. Andai Mira bukan adik Emir, pasti Adrie sudah cerita padanya.

Yang paling mengesalkan adalah Emir sering membuntuti Adrie! Sumpah, orang itu annoying banget! Stalker parah! Tidak jarang Emir mengajak Adrie pulang bareng naik motor, naik mobil, naik kereta. Adrie selalu mencari alasan untuk menolaknya seperti: "Mau ngerjain tugas di rumah Laras" atau "Diajak pulang bareng Talitha" atau "Masih ada kelas." Makanya setiap pulang Adrie selalu mengecek belakangnya apakah ada yang membuntutinya atau tidak, kemudian jika aman ia akan buru-buru ngibrit ke stasiun. Jika terlihat Emir membuntutinya, ia akan memutar arah seolah ia punya urusan lain.

Tetapi bukan Emir namanya kalo nggak punya ide gila untuk mendekati Adrie. Suatu hari ketika Adrie pulang, seperti biasa ia melakukan cek punggung. Yaitu memastikan bahwa Emir tidak membuntutinya. Setelah tidak melihat batang hidung Emir di belakangnya, ia pun buru-buru ke stasiun. Emir itu seperti setan sodara-sodaraaaa! Emir memarkirkan mobilnya di dekat stasiun! Sebisa mungkin Adrie menghindarinya, berpura-pura tidak melihat dan memalingkan wajahnya agar Emir tidak melihatnya. Tapi radar Emir selalu cepat menangkap bayangan Adrie. Ya, bayangan! Karena tanpa lihat wajah saja, Emir pasti tau 'bentukan' Adrie kayak gimana. Cowok itu menghampirinya sambil senyam-senyum cengengesan.

"Hai, Adrie! Mau pulang kan? Bareng gue aja yuk!"

"Emm... nggak usah repot-repot, gue naik kereta aja."

"Nggak repot kok, kan kita tetangga hehehe. Lagian gue lagi narik nih."

"Narik?"

"Iya, nih!" ditunjukannya kertas bertulisan "NEBENGERS ARAH PINEWOOD, JAUH-DEKAT RP. 10000"

"Lumayan kan buat isi bensin," ujarnya.

"Makasih, Mir. Kapan-kapan aja. Gue mau ke....... rumah nenek di Pasar Minggu. Udah yah, udah telat. Bye!" ujar Adrie bohong, kemudian ia langsung melesat ke dalam stasiun. Untung Emir nggak terlalu gila ngikutin dia sampai ke dalam stasiun!

Gila ya, si Emir! Ujar Adrie dalam hati. Ngapain coba dia pake acara bikin nebengers segala?!

***

Hari itu sudah jam 8 malam. Adrie baru selesai mengerjakan paper di perpustakaan kampus. Malam itu hujan cukup deras, walaupun tidak badai tetapi cukup membuat sekujur tubuh basah kuyup. Ia menunggu hujan reda di koridor hampir setengah jam. Andai saja ia bisa menelepon Ayah, andai saja Ayah masih sanggup menyetir malam-malam seperti ini, andai saja ia bisa menyetir...

"Adrianna? Kok masih disini?" lamunan Adrie buyar mendengar suara yang tidak asing baginya. "Nunggu hujan, ya? Pulang bareng gue aja, gue bawa mobil kok hari ini."

"Ng... nggak papa gue nunggu hujan berenti aja," tentu saja ia akan menolak ajakan Emir! Iya, Emir lagi Emir lagi. Tuhaaan kenapa hamba selalu ketemu diaaaaaa???????

"Ya ampun Adrie, lo boleh menghindar dari gue setiap saat, tapi nggak pas timing kayak gini juga!" Anjrit! Jadi selama ini Emir sadar gitu gue selalu berusaha menghindar dari dia?! Dan dia masih suka ngekorin gue?! Sarap emang nih orang!

"Ngg... nggak gitu, Mir...."

"Udah, pulang sama gue aja. Lagian ngeri sendirian naik kereta jam segini. Gue janji sehari ini gue nggak bakal gigit lo, nggak bakal culik lo, gue anterin sampe rumah safe and sound. Kalo perlu kita nggak usah bareng jalannya, lo boleh duluan... eh tapi kalo lo duluan lo nggak tau ya gue parkir dimana? Ya udah gue duluan, lo di belakang," ujarnya sambil cengengesan. Adrie berusaha menahan senyum, kali ini omongan Emir menggelitik perutnya. Omongan Emir benar, ia tidak punya pilihan lagi selain nebeng Emir.

"Pakai ini, Drie, buat kepala lo!" Emir memberikan jaketnya pada Adrie. Dilihatnya tulisan di jaket tersebut: "TekKim 2012". Adrie baru tahu kalau Emir mengambil jurusan Teknik Kimia.

Ia pun berjalan di belakang Emir. Tanpa ia sadari ada sedikit senyuman di ujung bibirnya. Emir sesekali menoleh ke belakang, berlagak memastikan kalau Adrie masih utuh di belakang. Lucu sekali, pikir Adrie. Sepanjang jalan Emir tidak bicara. Entah dia menjaga situasi di dalam mobil agar kondusif (membuat Adrie senyaman mungkin) atau memang ia sudah kelelahan seharian ini?

"Jadi, gue hari ini dihitung nebengers nggak?" ujar Adrie memecah kesunyian.

"Hemmm... Bentar gue pertimbangkan dulu... Hmmm.... iya dong! Tapi lo boleh bayar gue dengan soft drink aja kok khusus hari ini," jawabnya cengengesan. Dibalas dengan tawa kecil Adrianna.

"Jadi nama lo Adrianna? Kok jadi Adrie? Kayak nama cowok," tanyanya.

"Ya dipendekkin aja. Biar gampang manggilnya."

"Bagusan Adrianna. Cantik gitu kedengarannya." Adrianna tertawa kecil.

Tawa Adrianna terdengar renyah dan lucu. Melihat dan mendengarnya, pikiran Emir seperti tersesat di dunia lain. Dunia Adrianna. Adrianna yang setengah mati menghindar darinya, sekarang dengan ikhlas duduk di sampingnya dan tertawa. Terdengar samar-samar lagu The More You Ignore Me, The Closer I Get dari Morrisey. Emir membesarkan volume radionya. Adrianna hanya diam dan melihat butiran-butiran air hujan yang menempel ke jendela mobil.

The more you ignore me the closer I get, you're wasting your time... I will be in the bar with my hands in the bar... I am now essential part of your mind landscape whether you care or do not... I made up your mind. Ooh... Let me in...

Sesampainya di depan rumah, Adrianna bertanya pada Emir sebelum keluar mobil, "Jadi... mau minuman apa nih?"

"Nggak Adrianna, bercanda. Dibayar pake senyum lo aja udah seneng gue hehehe," goda Emir. Adrie mulai merasa tidak nyaman lagi.

"Serius, Mir."

"Ini lagi seriuuuuusss, Adriannaaaa...." hanya Emir diantara teman-temannya yang memanggilnya dengan lengkap. Adrianna.

"Makasih banyak ya, Mir. Maaf ngerepotin."

"Nggak papa, Drie. Mana tega sih gue ngeliat lo sendirian kayak tadi gitu? Mana lo kecil gini, nggak bisa ngelawan kalo diapa-apain," tetap Emir yang suka guyon.

"Iya, makasih ya nggak culik gue, nggak gigit gue, nggak nyeremin hari ini."

"Iyaaa sama-sama. Tapi hari ini aja yah, besok-besok gue pengen nyulik lo lagi kayak hari-hari biasanya. Menghindarlah sebisa mungkin, kaburlah sejauh mungkin, Adrianna. Gue akan selalu menemukan lo dan mengganggu lo sampai lo nggak bisa nggak inget sama gue hahahaha," Emir mengeluarkan evil smirk-nya. Setelah hari itu, seperti hari-hari biasanya. Emir mengganggunya. Seperti serangga. Tidak beracun memang, tetapi membatasi ruang geraknya. Karena buat Emir, the more you ignore me, the closer I get.


Runaway From YouBaca cerita ini secara GRATIS!