7☕

28 11 27
                                        

"Calon mantu Tante jangan lupa sering-sering mampir ke sini, ya?" Harap Luvita pada Raska yang kini tengah mengantar putrinya pulang. Lentera sontak melotot pada Luvita yang justru malah semakin merayu Raska untuk menjadi mantunya kelak.

"Doain aja Tante, semoga Lenteranya cepat menerima saya. Selebihnya biar saya yang berjuang membuktikan perasaan saya terhadap anak tante." Di luar dugaan, jawab itulah yang terlontar dari mulut Raska. Lentera malu bukan main, pipinya merona. Ia merasa malu sekaligus bingung hendak merespon seperti apa. Ia meraih lengan Luvita dan menariknya ke dalam pelukan.

"Kalo gitu gue pulang dulu, Ra. Besok gue jemput, sekalian pulangnya mampir beli bunga boleh, kan, Tante?"

"Boleh, asal jangan main jauh-jauh." Luvita berpesan demikian.

"Tenang aja, Tante. Selama Lentera ada bersama saya, saya pastikan Lentera aman tanpa ada lecet sedikit pun. Nanti kalo ada luka, langsung hukum saya aja asal jangan jauhkan saya dari anak tante," papar Raska. Luvita sumringah mendengar penuturan lembut Raska. Sedangkan Lentera sendiri merasa kikuk dan menarik-narik lengan Luvita tanda ia ingin segera mengakhiri percakapan sore ini. Karena jika dilanjutkan yang ada jantungnya akan berhenti berdetak selama beberapa detik ulah kata-kata manis Raska.

"Tante percaya sama kamu. Yasudah, sekarang udah sore, kamu pulang dulu abis itu bersih-bersih. Mainnya dilanjut besok lagi," ujar Luvita.

Raska mengangguk dengan seulas senyum yang tak pernah tertinggal.

"Thanks buat tumpangannya hari ini, Ka."

"Sama-sama, kalo gitu gue pulang dulu." Raska mengalihkan pandangannya pada Luvita. "Saya pamit, Tante." Tangannya tergerak untuk menyalami punggung tangan wanita paruh baya itu. Setelahnya, ia benar-benar meninggalkan halaman luas milik kediaman Luvita.

Ada desiran hangat kala ia tak sengaja menatap senyuman indah yang terulas di bibir Lentera. Perasaan yang menenangkan sekaligus hangat itu benar-benar membuat Raska candu.

Setelah punggung Raska benar-benar tak terlihat sejauh mata memandang, Lentera menarik Luvita untuk masuk ke dalam rumah.

"Ada apa, Tera?"

"Mah, tolong jangan terang-terangan minta Raska buat jadi mantu mamah. Tera lagi nggak mau pusing mikirin soal itu. Tera nggak mau bikin Raska berharap, mah. Jujur, Tera nggak tega setiap liat mata Raska. Karena di sana ada banyak harapan yang ditujukan buat Lentera, sedangkan Lentera masih menggantung harapan-harapan itu. Tera belum bisa, Tera belum seberani itu." Lentera menatap manik Luvita lekat. Luvita hanya diam mendengarkan. Sebab berbicara pun tak akan berpengaruh. Biarkan Lentera mengeluarkan isi hatinya, biarkan Lentera mengeluarkan pendapat dan keinginannnya.

"Tera nggak mau jadi jahat di hidup Raska. Tera tau seberapa dalam perasaan Raska hanya dengan mendengar sekali ungkapan Raska tadi pagi, tapi Tera lebih milih bungkam. Tera belum siap. Tera takut. Tera takut nyakitin Raska, mah."

"Jadi, tolong biarin Tera dan Raska jalanin dulu status kita sebagai teman. Nanti kalo Tera udah siap dan takdir memihak pun, Raska bakal tetep jadi mantu mamah," ucap Lentera. Ia sebenernya lelah dengan perang batin yang terjadi pada dirinya. Tentu ia ingin kembali merasakan bagaimana syahdunya dicintai dengan hebat oleh pasangan, namun di sisi lain ia masih takut. Takut akan sesuatu hal yang terus menghantuinya sedari dulu hingga sekarang.

Belum lagi dengan anak-anak di sekolah yang sudah ia pastikan tak akan setuju jika ia menjalin hubungan dengan Raska. Perasaan kalut benar-benar tengah menyelimutinya sekarang.

"Tera, mamah cuma kangen suara tawa kamu yang dulu. Raska anak yang baik, nak. Dia ngga mungkin akan ngelakuin hal yang sama kayak-"

"Cukup, mah. Jangan dilanjut," potong Lentera. Ia tak ingin nama orang yang telah menghancurkan hidupnya kembali disebut dan terdengar di telinganya.

"Tera tau. Tera tau banget Raska anak baik, mah. Bahkan jauh lebih baik dari dugaan mamah. Tapi apa boleh buat kalo Tera nggak mau? Izinin Tera nikmatin kesendirian Tera kali ini, ya, mah?"

Luvita membawa Lentera ke dalam pelukannya. Ia menangis. Putrinya kini sudah dewasa. Di dalam pelukan Luvita, lentera memejamkan matanya. Melepaskan segala lara dan takut yang selama ini menghantui. Pelukan yang selama ini mampu membawa ketenangan pada dirinya. Pelukan yang selama ini menjadi obat paling mujarab untuk mengatasi perasaan gundah gulana.

"Maafin mamah, Tera. Mamah tau apa yang membuat kamu memilih untuk menikmati kesepian dalam kesendirian. Tapi ini sudah lama, nak. Bukankah hidup harus tetap berjalan? Mamah tau ini berat buat kamu, tapi putrinya mamah yang satu ini kan hebat. Sedari dulu sampai sekarang nggak pernah ngeluh ke mamah."

"Tapi untuk sekarang sampai kedepannya, tolong libatkan mamah dalam segala hal ya, nak. Bahagianya kamu, ataupun sedihnya kamu. Mamah nggak tau seberat apa beban yang kamu tanggung, maka dari itu libatkan mamah, ya?"

Lentera hanya terdiam dan membisu dalam tangisnya.

Sejauh ini, ia hanya bersandar pada diri sendiri yang rapuh. Menampung segala sakitnya sendirian pada bahunya yang telah menampung banyak beban lainnya. Sungguh itu benar-benar melelahkan baginya.

"Kalau dunia lagi nggak baik sama Tera, yang Tera inget cuma mamah. Terus mikir, kalau selamanya ada mamah pasti semuanya terasa lebih ringan, karena nggak peduli setua apa Tera, Tera tetep butuh mamah. You're my everything, kayak bisa nggak sih mamah always be here with me," ungkap Tera. "Tapi di sisi lain, Tera nggak mau terus-terusan ngerepotin mamah. Tera nggak mau selamanya bikin mamah susah dengan segala masalah Tera. Cukup mamah liat bagaimana bahagianya Tera sekarang, lalu sakitnya biar Tera tanggung sendiri."

"Nggak, sayang. Mamah mau kamu berbagi sakitnya juga. Mamah tau kamu sudah dewasa, tapi bagi mamah kamu tetap anak kecilnya mamah. Anak kecilnya mamah yang sampai kapanpun akan tetap membutuhkan sandaran mamah dikala sedih menyapa," tampik Luvita.

"Terimakasih, mah. Tera nggak tau harus ngelakuin apa buat membalas semua jasa mamah."

"Sama-sama, sayang. Kamu tidak perlu membalasnya dengan apapun, cukup dengan kamu bahagia atas hidup kamu sendiri saja itu sudah cukup. Mamah mau kamu bahagia selama hidup kamu. Mulai sekarang dan seterusnya, ayok berusaha untuk membangun bahagia, meskipun nanti sedih menyapa ... Kita hadapi sama-sama, ya?"

Lentera mengangguk. Kini pelukan hangat itu sudah diakhiri. Mereka saling menatap satu sama lain.

"Malam ini Tera yang masak, ya?"

Luvita mengangguk semangat. Lentera memang pandai soal urusan dapur. Jangan diragukan lagi soal rasanya, tentu nikmat dan lezat.

"Yaudah, Tera bersih-bersih dulu. Abis itu masak yang enak buat makan malem," ucapnya sekali lagi.

"Iya, sayangnya mamah." Luvita menjawil hidung mancung Lentera membuat yang empu mengaduh.


"Nanti ikut bunda makan di luar, ya, Ka?"

"Loh, nggak biasanya bunda mau makan di luar," timpal Raska.

"Makan malam kali ini spesial soalnya," ucap Maira sembari terkikik pelan. Namun, Raska tak mau menaruh curiga apapun.

"Oke, deh. Nanti kasih tau aja mau berangkat jam berapa." Raska menyepakati ajakan sang bunda. Lagipula, malam ini ia tak ada agenda apapun.

"Siap!"



___
nb: jangan lupa vote dan komen

LENTERASKATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang