"Kembali terjatuh dalam pesona yang menjerat jiwa dalam bayangan. Sementara bumi dengan angkuhnya tetap bermimpi memeluk semesta."
Seorang remaja laki-laki tengah menikmati hamparan ombak di bawah langit yang menjingga. Hembusan nafasnya terdengar jelas, laptop yang berada di hadapannya kali ini seolah menjadi objek yang paling tak terlihat. Pandangannya sempurna tertuju pada desir ombak yang bergemuruh.
Siapa yang tak terpesona pada hamparan langit di kala senja hampir tergantikan malam? Warna indah dengan hembusan angin semilir yang menyejukkan. Sepi, hampa, namun tenang.
"Nggak pernah jatuh cinta, sekalinya jatuh cinta kayak berat banget ternyata, ya? Rasa yang nggak bisa di definisikan oleh kata, rasa yang nggak punya alasan untuk jatuh pada siapa. Tapi, rasa itulah yang membuat hidup menjadi sedikit berwarna dari yang sebelumnya monoton dan kelabu."
Raska akui, ia bukanlah orang yang pandai perihal jatuh cinta. Raska bukanlah orang yang mudah luluh pada cinta sebelum ia membuktikan cinta itu nyata dan benar adanya. Selama cintanya tak menyakiti apa yang ia cintai, ia pastikan akan menjaga apa yang sepatutnya ia perlakukan pada seseorang yang dicintainya.
"Tuhan, ku akui aku telah terjatuh dan tenggelam dalam pesona salah satu ciptaan-Mu yang paling indah. Layakkah aku untuk memilikinya? Sedang aku sadar bahwa ini adalah pengalaman pertama bagiku untuk jatuh cinta. Aku memiliki potensi untuk menyakitinya, aku memiliki potensi untuk membuatnya terluka karna aku hanyalah manusia yang tak luput dari salah. Namun, tak pantas untuknya mendapat semua potensi itu. Gadis baik yang lugu. Aku sungguh mencintainya," monolog Raska. Ia berbicara bertemankan keheningan.
"Terdengar bodoh memang. Atensi dan perasaanku jatuh pada seorang gadis yang ku temui secara tidak sengaja. Namun, ketidaksengajaan itulah yang membawaku pada detik ini."
"Apakah salah jika aku menaruh perasaan pada seorang gadis yang bahkan asal-usulnya saja belum ku ketahui?"
"Apakah pantas pria brengsek sepertiku jatuh cinta pada gadis baik itu?"
"Tidak ada yang salah dari mencintai. Kamu hanya perlu sedikit belajar apa itu cinta dan ketulusan. Bakti yang perlu kamu berikan atas nama cinta, dan kesetiaan sebagai pilar cinta yang kamu rasakan," ucap seorang nenek yang entah datangnya dari mana. Raska sempat terkejut dan hampir berfikir yang tidak-tidak. Pasalnya sedari tadi ia hanya merasa sendiri, tak ada seorangpun yang tengah berada di sekitarnya.
Raska menoleh dan tersenyum manis. Ia beranjak berdiri, sebagai bentuk hormat yang ia berikan pada yang lebih tua.
"Nenek datang dari mana?"
"Nenek biasa jalan di sini. Rasanya plong setiap nenek capek jualan seharian setelah nenek liat hamparan air di sana. Meskipun dunia nenek terenggut di dalamnya," tutur nenek itu. Raska mengernyitkan dahinya. Bingung, tak paham apa yang tengah nenek itu maksudkan.
"Anak muda, jatuh cinta tidak seseram yang kamu bayangkan. Kamu tidak perlu takut untuk menyakiti orang yang kamu cintai. Karena bila kamu benar-benar cinta, kamu tidak akan pernah melakukan itu. Cinta itu sederhana. Yang rumit adalah alurnya. Terkadang manusia terlalu terbawa akan cinta dunia yang bisa kapan saja berubah bahkan hilang. Menaruh harapan sebesar samudra pada yang hakikatnya bukan miliknya adalah kesalahan fatal."
"Jatuh cinta boleh, berlebihan jangan."
"Nek?"
"Sttt ... Nenek hanya ingin berpesan padamu," ujar nenek itu. Tangannya tergerak untuk mendarat pada dada kiri Raska. Tersenyum indah yang membuatnya tampak lebih muda dua kali lipat. "Taruh harapanmu sesuai porsinya, jangan lupa tetap sisakan ruang ikhlas. Jika sewaktu-waktu takdir tidak memihak, kamu masih memiliki ruang ikhlas yang cukup untuk sembuh."
Raska mengangguk patuh. Seolah mendapat pencerahan yang benar-benar membuatnya tersadar akan satu hal. Cinta itu sederhana. Sesederhana memandang hamparan laut. Sedang yang rumit adalah alurnya.
"Sudahi gelisahmu, lalu pulanglah. Udara semakin dingin, tubuhmu hanya terbalut kaus tipis." Nenek itu menepuk-nepuk pundak Raska. Terlihat pancaran kasih sayang yang memancar dari wajah nenek itu. Umur hanyalah angka, yang keriput hanya kulitnya bukan hatinya.
"Apa aku bisa kembali bertemu denganmu lagi, nek? Mungkin suatu saat nanti aku kembali membutuhkan arahanmu," tanya Raska.
Nenek itu mengangguk. Tentu. Ia selalu berada di sini setiap sorenya. Sama seperti Raska, langit senja dan hamparan laut adalah favoritnya.
"Cari nenek di sekitar sini di jam yang sama seperti ini. Nenek selalu berada di sini setiap sore," jawab nenek itu tak lupa dengan senyum indahnya yang terukir manis di bibirnya.
Rasanya seperti ada desiran hangat yang menyelimuti dirinya setelah mendengar tutur lembut nenek itu.
"Baiklah, nek. Terimakasih untuk hari ini. Kebingunganku akhirnya tuntas. Aku tau apa yang harus aku lakukan selanjutnya," ucap tulus Raska. Entah sihir apa yang nenek itu gunakan sehingga kebingungan yang semula keruh kini mulai menemukan jernihnya.
Nenek itu mengangguk kembali. Ingat, senyum di wajahnya tak pernah pudar. Menjadi ciri khas yang akan paling Raska ingat sampai nanti.
Raska dan nenek itu berpisah.
"Tuhan, permudah jalan anak muda itu. Dia terlihat sangat baik," tutur nenek tersebut.
Ia berjalan ringkih menuju satu titik yang menjadi spot favoritnya. Desiran ombak pantai yang membawa dingin menyelimuti tak membuat keteguhannya runtuh begitu saja.
'Aku melihatmu dalam diri anak muda tampan itu, suamiku. Apakah kau melihatnya tadi?"
☕
Raska sampai di rumah pukul delapan malam. Lelaki itu baru tersadar, bundanya pasti tengah menghawatirkan dirinya. Ia melakukan kesalahan dengan tidak meminta izin atau sekedar mengabari dirinya tengah berada di mana. Ponselnya pun habis baterai, jadi ia tak bisa mengabari sang bunda.
Benar saja, saat suara motornya menggema di tempat biasa ia menyimpan motornya, bundanya berjalan tergopoh-gopoh dengan raut khawatir yang bisa Raska lihat dengan sangat jelas.
"Kenapa pesan dari bunda nggak kamu baca, nak? Bunda khawatir loh, takut kamu kenapa-kenapa," cicit Maira dengan sisa-sisa kekhawatirannya. Raska memeluk Maira erat. Lalu menunjukkan bahwa dirinya baik-baik saja. Tak ada yang perlu dikhawatirkan.
"Ponsel Raska mati, Bun. Kehabisan daya. Jadi nggak bisa ngabarin."
"Terus abis dari mana aja?"
"Dari pantai. Nenangin diri. Terus di sana ketemu sama nenek baik hati yang ngasih Raska pencerahan. Hati Raska udah adem, Bun," ujar Raska.
"Tapi tetep aja loh. Kamu harusnya pulang dulu, bilang sama bunda mau kemana. Charger juga bawa ke sekolah biar kalo mau kemana-mana baterai aman buat ngabarin bunda. Bunda nggak mau kamu kenapa-kenapa." Maira mengungkapkan segala kegelisahannya.
"Iya bundaku sayang ... Lagian kan Raska juga udah gede, Bun. Bisa jaga diri, kok."
"Kamu tetep anak kecil di mata bunda, Ka."
"Lucu banget si bunda! Kan Raska jadi makin sayang!" Raska kembali merengkuh tubuh bundanya yang hanya sebatas dadanya. Mungil sekali.
Kekhawatiran Maira adalah bukti nyata bahwa seorang ibu akan selalu menganggap putra-putrinya adalah anak kecil yang masih membutuhkan segala perlindungannya. Seorang ibu yang menjadi garda terdepan untuk menjadi tameng pelindung kala ancaman datang dan mengancam keselamatan buah hatinya.
Raska adalah salah satu anak yang paling beruntung. Terlahir sebagai anak yang semasa hidupnya dipenuhi cinta kasih dari keluarga. Siapa yang tak ingin?
☕
___
nb: jangan lupa vote dan komen
KAMU SEDANG MEMBACA
LENTERASKA
Teen FictionRaska Lautana Biru Nama indah milik remaja dengan nayanika seteduh sinar bulan. Tutur katanya lembut, selembut sutra. Siapa yang tak jatuh cinta pada insan sesempurna Raska? Siapa sangka, jatuh cinta perdananya justru jatuh pada seorang gadis yang...
