Tak pernah terpikirkan dalam benak seorang Raska bahwa dirinya akan berada satu kelas bersama gadis yang sukses membuat jantungnya berdebar dua kali lipat semenjak pertemuan pertamanya kala itu.
Pagi tadi, guru piket yang tak lain adalah Bu Endang memintanya untuk menjemput siswi baru yang akan menjadi teman sekelasnya. Bukan tanpa alasan Bu Endang memerintahnya. Raska adalah ketua kelas. Tentu saja perannya sangat dibutuhkan, apalagi bagi guru piket yang lumayan malas seperti Bu Endang. Wali kelas? Entahlah, selama dua bulan pembelajaran di kelas sebelas, wali kelas tak pernah hadir meskipun hanya untuk sekedar absensi siswa yang tak berangkat.
Sempat tak menyangka bahwa gadis yang duduk di seberangnya persis adalah Lentera, kini Raska jauh lebih sibuk menormalkan detak jantungnya kembali. Degup yang tak beraturan itulah yang membuat fokusnya teralihkan.
'sialan! Jatuh cinta emang bener-bener bikin gila!'
Benar, Raska meyakini dirinya tengah jatuh cinta. Untuk kali pertamanya semasa hidup, ia akui bahwa jatuh cinta memang merepotkan.
Sedangkan Lentera sibuk menutup sebelah wajahnya dengan buku, berharap Raska tak melihat tampang tak berdosanya lagi.
"Anak baru itu siapa namanya?" Tunjuk seorang guru yang tengah mengajar pada Lentera. Jangan lupakan tuding yang setia berada di tangannya.
"Saya, bu?" Lentera menunjuk pada dirinya sendiri.
"Ya iyalah kamu. Emang siapa lagi murid baru di kelas ini selain kamu," sindir guru tersebut. "Ingat! Untuk semuanya. Jika pembelajaran saya sedang berlangsung, jangan sampai saya mendapati siswa yang tidak fokus, apalagi bermain sendiri. Semuanya tetap fokus dengan apa yang saya sampaikan. Mengerti?"
"Siap, mengerti, Bu!" Satu kelas serentak menjawab.
"Murid baru atau nggak, di sini semuanya diperlakuin sama. Kayak tadi pagi, telat ya tetep dilaporin ke guru piket. Jadi, buat kesan indah selama lo sekolah di sini, jangan kesan buruk kayak hari ini," bisik Raska. Lentera hanya mengangguk kaku.
Semuanya berjalan begitu lambat. Entah apa yang terjadi di hari ini. Intinya matematika selalu berhasil memperlambat waktu. Seakan memang benar bahwa matematika adalah ilmu yang mematikan.
Bel istirahat pertama berbunyi. Setiap perut yang keroncongan meminta di isi menyambut bel dengan baik. Berteriak penuh semangat setelah bergelut dengan rumitnya angka-angka matematika yang mematikan.
"Thanks for today. Kalo nggak ada lo hari ini mungkin gue bisa jamuran di pos nungguin guru piket itu," ucap Lentera pada Raska membuat Raska mengernyitkan dahinya.
"Dan maaf buat hari itu. I mean, hari dimana gue salah paham nganggep lo orang suruhan nyokap gue, sampe berlaku nggak sopan nyuruh lo bikin kopi buat gue. Gue bener-bener nggak tau kalo lo pemilik rumah itu."
"Rumah bokap nyokap gue," potong Raska. "Sebenernya bukan sepenuhnya salah lo. Lo cuma lupa, bukan sengaja. Jadi lupain aja. Sorry, gue udah ditunggu di depan, masih ada yang mau dibicarain?"
Lentera menggeleng, mempersilakan Raska untuk pergi. Sedang dirinya masih diliputi rasa bersalah.
Raska berjalan cepat. Bergerak lambat bukanlah solusi di saat jantungnya kembali berdetak tak normal. Baru satu hari saja ia sudah kewalahan, lalu bagaimana dengan hari-hari selanjutnya. Ia mungkin harus menyiapkan diri sebelum jantungnya benar-benar tak bisa ia kendalikan lagi.
"Akrab banget sumpah kagak boong gue! Demi apa sih seorang Raska ngomong sepanjang lebar itu sama cewek? Atau jangan-jangan cewek itu yang lo ceritain semalem ke gue?" Sambar Rehal membuat Raska cepat-cepat membungkam mulutnya sebelum Lentera mendengar suara bariton Rehal yang menggema di lorong kelas.
KAMU SEDANG MEMBACA
LENTERASKA
Teen FictionRaska Lautana Biru Nama indah milik remaja dengan nayanika seteduh sinar bulan. Tutur katanya lembut, selembut sutra. Siapa yang tak jatuh cinta pada insan sesempurna Raska? Siapa sangka, jatuh cinta perdananya justru jatuh pada seorang gadis yang...
