3☕

52 23 53
                                        

Entah sudah berapa lama lampu kamar Raska mendampingi sang empu menggoreskan kuas pada sebuah kanvas yang ia goreskan tak beraturan. Coretan demi coretan tersusun indah membentuk sebuah prosa nandikara.

Bukan suatu yang aneh bukan? Raska sang pecinta seni dan sastra. Setiap goresan yang tercipta oleh gerak lihai jemarinya seakan memang mempunyai makna sendiri. Diciptakan untuk seseorang. Seseorang yang Raska sendiri pun tak tahu siapa.

Setiap coretan dan warna terpadu dengan indah.

"Seakan aku meminta pada siang untuk mengembalikan malam. Aku kembali terlarut dalam sebuah kanvas yang tak bermakna," monolog Raska. Ia menutup kegiatannya yang telah dipenuhi oleh lukisan indah. Kanvas yang baru saja mendapatkan sentuhannya diletakkan di sebuah pojok khusus.

Ia hirup dalam-dalam nafasnya, menikmati nikmat Tuhan yang masih diberikan padanya secara cuma-cuma.

Setelah ia pikirkan kembali, apa yang dibicarakan oleh kedua orang tuanya memang benar. Di mana dirinya yang dulu? Baru pertama kali ini ia merasakan gejolak yang berbeda pada hatinya. Ia kerap kali merasakan desiran jantungnya berpacu cepat acap kali mengingat gadis itu. Gadis yang tak lain adalah Lentera.

"Baru kali ini gue ngerasa lebih tertarik pada ciptaan Tuhan yang disebut perempuan dari pada sebuah pena dan lembaran kertas kosong," ungkap Raska.

"Gue nggak lagi jatuh cinta, kan?" Ia pegang bagian dadanya. Ia mencoba untuk kembali mengingat wajah Lentera, dan disaat waktu yang sama ia kembali merasakan gejolak aneh.

"Aneh. Rasanya asing banget."

Tak melanjutkan perang batinnya, ia lebih memilih untuk kembali berkutat pada pena dan lembaran kertas yang sedari dulu menjadi temannya.

Malam berganti pagi. Sinar matahari menggantikan tugas sang rembulan, itu artinya gelapnya malam telah digantikan perannya oleh cahaya matahari untuk menyinari. Burung-burung sudah sibuk mencari makanan, sesekali bertengger pada ranting pohon. Berkicau menyanyikan nyayian khasnya. Menari-nari dengan alunan suara burung dan hembusan angin yang berpadu menjadi satu.

"Gue kesiangan?" Ucapnya tatkala melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul tujuh dini hari. Meskipun bukan kali pertama, tetapi tetap saja, ini bukanlah hal yang patut untuk di sepelekan apalagi dibiarkan.

"Mama! Tera kesiangan kenapa nggak mama bangunin, huwaa!!!" Lentera berteriak nyaring. Mengisi suasana yang sepi menjadi bising.

Tubuhnya bergerak tak tentu kesana kemari. Bingung hendak mengerjakan yang mana dulu. Mandi, atau sekedar mengambil handuk yang tersampir. Benar-benar masalah yang harus dihadapi ketika panik adalah rasa kebingungan yang membandel.

"Astaga, Tera! Mama lupa kalo punya anak gadis jam segini udah harus di sekolah," ujar Luvita tak kalah panik. Ia terlalu terbawa suasana pagi yang damai dengan memutar lagu hingga lupa bahwa anak gadisnya belum memunculkan batang hidungnya.

Lentera bergegas untuk mencuci muka dan gosok gigi. Tak perlu mandi, itu akan membuang lebih banyak waktu lagi. Badannya pun masih wangi.

"Udah siap-siapnya jangan lama-lama. Nanti makin telat. Ini hari pertama kamu sekolah di sekolah baru. Masa udah telat sih," pekik Luvita. Ia berceloteh ria, melupakan bahwa Lentera juga tengah mengusahakan semaksimal mungkin untuk cepat-cepat.

Sepertinya setelah ini ia harus menghapus kegiatan membaca buku di malam hari untuk seminggu ke depan. Pasalnya, ia tidak tidur semalaman hingga jam empat dini hari hanya untuk menamatkan satu judul novel yang sedang dibacanya. Bahaya jika sampai papahnya tau, meskipun Luvita juga akan membelanya.

Setelah bergelut dengan waktu yang terus berjalan dengan cepat, seolah mengejar tanpa memberi jeda untuk berhenti, akhirnya Lentera siap dengan segala peralatan sekolah yang ia bawa di dalam tasnya. Seragam baru pun sudah ia kenakan, warnanya senada dengan jepit rambut yang bertengger manis menghias rambut sang empunya.

"Tera berangkat, ma!" Ucap Lentera setengah berteriak dengan tidak sadar.

"Hati-hati, Tera! Bawa motornya jangan ngajak-ngajak malaikat Izrail, ya!"

"Aman!"

Lentera dengan gesit mengeluarkan motormya. Motor berwarna pink cetar membahana kesayangannya inilah yang selalu menemani Lentera membelah jalanan. Dari yang sepi hingga yang ramai sekalipun. Dari yang buru-buru hingga kecepatan yang paling lambat sekalipun.

Bukan Lentera namanya jika tidak mengebut di suasana genting seperti ini. Jika ia terlalu siang datang ke sekolah, mau ditaruh mana muka imutnya. Bisa-bisa membuat namanya yang masih bagus menjadi jelek karna dipandang sebagai siswi tidak disiplin.

Lima belas menit bertempur dengan puluhan pengguna jalan, akhirnya plang sekolah barunya sudah terlihat oleh mata yang hampir tak bisa terbuka akibat debu yang bertamu tanpa di undang. Perih, tapi masih lebih perih ditinggal pas lagi sayang-sayangnya.

Gerbang tertutup rapat. Jam pelajaran sudah pastinya dimulai sedari tadi. Dan peluangnya untuk bisa menerobos masuk ke dalam sangatlah kecil. Apalagi Lentera bukanlah seorang siswi dengan predikat siswa berandal di sekolah lamanya. Muka boleh kriminal asal tingkah laku jangan.

"Eh? Gue kan murid baru. Ngapain harus nerobos kalo bisa gunain alasan ini, haha. Pinter, Tera!" Tak lama dari Lentera menyelesaikan kalimatnya, seorang satpam dengan tubuh gagah perkasa. Gagah dengan perut buncit, kumis melengkung, dan kepala botak tengah lebih tepatnya, tetiba membuka gerbang. Menatap jeli setiap inci wajah Lentera. Hampir seperti pengamat yang memiliki mata rabun.

"Anak baru?" Tanya satpam itu. Dilihat dari raut wajahnya, sepertinya satpam itu sedang berusaha mengenali wajah Lentera.

"IYA, PAK. SAYA MURID BARU. JADI SAYA BOLEH MASUK, KAN?" Lentera penuh semangat.

"Santai aja, mbak. Jangan ngegas gitu, bapak shick shack shock dengernya," ucap satpam itu sembari mengusap-usap dadanya.

"Eh, maaf pak. Saya kelepasan." Lentera menunduk meminta maaf. "Jadi, ini saya boleh masuk, kan?"

"Tunggu saya hubungi guru piket. Kamu silakan duduk di pos, motor silakan parkir di samping. Nanti biar guru piket yang handle kamu," ucap lugas satpam itu. Lentera menghembuskan nafasnya gusar. Ia pikir, ia akan lolos dengan mudah. Secara dia kan murid baru.

"Harus banget kah, pak?"

Satpam itu hanya mengangguk sebelum akhirnya fokus menghubungi guru piket. Sedangkan Lentera berjalan lemas menuntun motornya untuk parkir di sebelah pos. Menunggu adalah hal yang paling membosankan untuknya.

"Hari pertama sekolah is hari tersial." Lentera tertunduk hingga tersadar bahwa kaus kaki yang digunakannya sekarang beda sebelah. Kanan berwarna putih, kiri berwarna pink motif secangkir kopi.

"Lo anak baru yang telat itu? Gue disuruh nganter lo ke kelas."

Lentera mendongak. Terkejut melihat seseorang yang mengajaknya bicara barusan.

"I-iya."

"...."



___
nb: jangan lupa vote dan komen

LENTERASKATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang