2☕

54 18 27
                                        

Malam sudah menjelang. Namun, hujan masih setia dengan rintiknya, meskipun tak sederas sore tadi. Genangan yang tercipta di aspal menjadi bukti bahwa hujan yang sedari tadi turun meninggalkan bekas. Seolah kenangan yang akan dirindukan di hari esoknya.

Lampu di sepanjang jalan sudah menyala sempurna. Mengisi kekosongan cahaya.

Raska dengan payungnya yang ia genggam di tangan kiri untuk melindungi dirinya dari gerimis dan tangan kanannya yang membawa koper berisi baju-baju milik gadis aneh itu. Ah, ya, ia ingat namanya Lentera.

Sinar yang memberikan cahaya kala gelap menyergap? Mungkin seperti itu jika diartikan.

Raska melongok dari luar rumah bernomor 54A, lebih tepatnya di depan gerbang yang membentang tinggi dan gagah. Terlihat masih ada sisa-sisa nyawa yang masih terjaga. Ia pencet tombol bel pada sisi kiri gerbang hingga tiga kali sampai seorang perempuan paruh baya datang membukakan gerbang untuknya.

Terlihat sangat jelas raut penasaran di wajah perempuan paruh baya itu. Meskipun begitu, senyum tetap tercipta sebagai bukti keramahan.

"Loh, hujan-hujan gini ngapain, nak? Mau nyari Lentera?" Tanya Luvita menumpahkan rasa penasarannya.

Raska hanya tersenyum simpul. Lalu sedikit mendorong koper yang ia bawa. "Saya cuma mau nganter koper ini. Mungkin ini punya anak tante," ucap Raska dengan nada sopan.

"Astaga, jadi tadi Tera pulangnya ke rumah kamu? Ya ampun, maafin anak tante, ya. Dia emang pelupa. Eh, ayok masuk dulu. Badan kamu basah kena hujan. Nanti bisa sakit," ajak Luvita. Ia jelas merasa bersalah sekaligus kikuk dengan tindakan ceroboh putri semata wayangnya itu.

"Nggak perlu, tante. Saya harus pulang. Yang penting saya udah nganter koper milik anak tante." Raska menolak secara halus. Ia sudah di tunggu di rumah untuk makan malam dan ia harus cepat-cepat pulang. Apalagi malam semakin larut dan udara dingin yang terasa menusuk kulitnya.

"Beneran nggak papa?" Raska mengangguk mengiyakan. "Yaudah, tapi maafin anak tante, ya? Kapan-kapan kamu kesini buat makan malem. Anggap aja sebagai permintaan maaf saya atas kecerobohan Tera," tutur Luvita.

"Iya, kapan-kapan saya ke sini."

"Duh, saya jadi malu."

"Kenapa malu? Anak tante lucu kok. E-eh bukan gitu maksud saya. Yaudah saya pamit dulu, ya, saya sudah ditunggu di rumah," ujarnya dengan perasaan malu. Bagaimana bisa mulutnya berceloteh seperti itu di luar kendalinya.

Luvita terkekeh geli. Dilihat dari gestur wajahnya, sepertinya Luvita tertarik untuk menjadikan Raska sebagai menantunya kelak. Pemuda sopan dengan tatapan teduh, tutur katanya baik dan berhati lembut. Siapa yang tak menginginkan menantu seperti itu?

"Idamannya Tera nih yang kayak gini. Mana tipe menantu idaman banget pula. Tera harus berterimakasih sama mamah, karena udah nemu rumah plus dengan tetangga ganteng kayak anak itu. Tapi kenapa tadi lupa nanyain namanya, sih. Nggak papa, masih ada kesempatan lain." Luvita benar-benar tertarik pada remaja satu ini.

Luvita menyudahi monolognya. Dengan senyuman jahil di wajahnya, ia mulai memasuki rumah. Ia panggil nama anaknya berkali-kali hingga sang pemilik nama memunculkan batang hidungnya dari bilik kamar.

"Koper kamu udah di kembalikan sama anak ganteng. Kamu beruntung banget Tera. Untung kamu nyasarnya ke rumah anak ganteng itu, baik lagi. Gimana kalo nyasar ke rumah om-om pedo? Bukannya untung malah bunting."

"Apaan sih, mah! Tera yang malunya sampe ubun-ubun. Mana Tera nyuruh buat bikinin kopi lagih. Serasa jadi majikan," sesalnya, sisa-sisa malu dari tadi sore masih menyembul dari pikirannya.

"Lagian emang mau anaknya dibuntingin sama om-om pedo?"

Lentera mengambil alih koper miliknya hendak ia bawa kembali ke dalam kamar. Namun, belum sempat berbalik badan, Luvita menarik pergelangan tangannya. Menghentikan langkah kakinya yang belum sempat terealisasikan dengan sempurna.

Luvita menatap jahil pada Lentera. "Mamah kasih lampu hijau kalo kamu sama anak ganteng tetangga sebelah. Idaman kamu banget, kan?" Luvita menarik turunkan alisnya. Membuat Lentera jengkel tak karuan. Bagaimana bisa Luvita menggodanya saat suasana hatinya tak karuan seperti ini? Oh tolonglah, ia masih sangat malu memikirkan kejadian tadi sore.

Selalu terlintas di kepalanya bagaimana sikap songongnya yang tak tau malu memerintah tanpa bertanya terlebih dahulu. Ia ingat dengan sangat jelas bagaimana tanpa di filter mulutnya bersuara mengklaim pemuda itu sebagai orang suruhan Luvita.

Ah, memikirkan itu semua membuatnya malu bukan kaleng-kaleng.

Sedangkan di kediaman Raska, sekeluarga tengah berkumpul menikmati hidangan malam ini. Memang malam sudah cukup larut untuk jam makan malam, tapi demi menunggu sang kepala keluarga yang selalu dirindukan kehadirannya itu bukanlah sebuah masalah.

Berbagai candaan yang mengiringi hangatnya makan malam kali ini membuat Raska bahagia. Ia ukir senyuman indah tak terjeda. Kebahagiaan tercipta tiada tara dalam relungnya. Ucapan syukur berulang kali terucap dalam hati dengan selipan doa agar kebersamaan ini bisa terulang kembali.

Baginya, waktu berkumpul lengkap dengan ayah dan bundanya adalah waktu yang sangat berharga. Melebihi apapun. Karena waktu seperti ini tak akan mampu ia beli dengan uang sebesar apapun. Sehebat apapun seseorang, bukankah tak akan pernah mampu untuk membeli waktu? Atau mungkin hanya sekedar mengulang kembali detik indah di masa lalu.

"Tadi ada anak gadis ke sini tau, Yah." Maira menyeletuk sembari memberi tatapan menggoda pada anak semata wayangnya itu. Bimantara cukup terkejut. Pasalnya, dalam sejarah hidup putranya baru kali ini ia mendengar anak gadis datang ke rumah ini.

"Loh, kamu udah punya pacar? Sejak kapan? Kok ayah nggak dikasih tau?" Bimantara melontarkan pertanyaan-pertanyaan itu. Lelaki itu menunda acara menyuap makanan lezatnya guna menunggu jawaban dari putranya.

"Bunda ngarang, Yah."

"Ngarang bagaimana?"

"Dia cuma kesasar. Harusnya ke rumah samping, tapi nyasar ke sini. Raska nggak punya kenalan cewek apalagi pacar," jelasnya. Ia tak ingin terjadi kesalahpahaman di sini. Toh, memang benar gadis itu bukan siapa-siapa di hidupnya.

"Siapa tau nanti jodoh, hahaha." Bimantara dan Maira berujar bersamaan diakhiri dengan tawa yang menggema seisi ruang makan.

"Pantes aja jodoh," cibir Raska.

"Kalo nggak jodoh, nggak mungkin ada kamu di dunia ini," imbuh Maira. Bimantara hanya mengulas senyum lebar. Entah kebaikan seperti apa yang dulu ia perbuat hingga membuat hidup keluarganya sehangat saat ini. Kehangatan yang tak semua keluarga dapat merasakannya, namun dapat ia rasakan setiap kali berkumpul ria seperti ini.

"Yaudah, makasih karena udah berjodoh dan udah lahirin Raska ke dunia. Meskipun dunia emang pahit sedikit, tapi kalo lagi kumpul gini tuh rasanya hangat, Yah, Bun."

"Nggak tau gimana hidup Raska kalo nggak ada kalian berdua. Entah bisa bener-bener hidup atau sekedar bernafas tapi nggak bernyawa. Tolong hidup lebih lama, ya? Sampai nanti Raska bisa bawa kebahagiaan yang besar dalam hidup ayah sama bunda."

Bimantara mengangguk, sedangkan Maira menatap suaminya dan putra semata wayangnya bergantian.

"Melihat kamu tumbuh dengan baik dari yang tubuh kamu masih merah sampai sebesar sekarang saja ayah sungguh bahagia. Jadi, meskipun suatu saat nanti ayah dan bunda udah nggak ada di sisi kamu lagi, kamu harus tetap melanjutkan hidup. Bukan sekedar bernafas, tetapi juga bernyawa dan mewujudkan semua impian hingga semuanya tercapai tak tersisa."

"Tuh, dengerin kata ayah. Bunda sih setuju sama ayah. Nanti sekiranya kamu ngerasa dunia nggak adil sama kamu, jangan pernah salahkan Tuhan, ya, nak? Tuhan akan mengirim sebuah keajaiban besar dalam bentuk sederhana yang mungkin akan membuat kamu kembali berdiri tegak menatap hamparan semesta," imbuh Maira.

"Meskipun begitu, tolong hidup lebih lama."

"Tentu."






___
nb: jangan lupa vote dan komen

LENTERASKATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang