1☕

124 22 23
                                        

Hujan mengguyur sore hari ini. Dilihat dari tetes-tetes airnya, mungkin akan sampai malam hari sampai hujan mulai mereda. Cuaca yang tak bisa ditebak kali ini membuat Raska pasrah untuk mengurungkan niatnya pergi ke tempat yang ia janjikan bersama teman-temannya.

Raska Lautana Biru. Tatapan teduhnya tertuju pada sebuah cangkir yang terisi kopi susu kesukaannya. Sesekali ia menghirup udara dingin yang berhembus menerobos jendela yang sengaja ia buka. Matanya terpejam, alunan musik yang ia dengarkan lewat earphone yang ia pakai mengalun indah. Sempurna dengan hujan yang masih setia menemani sorenya.

"Langit, sampai kapan kamu akan menumpahkan lara?"

Hujan memang tenang bersama dengan gemerisik airnya. Namun, semakin lama tetesan air itu seakan membawa kenangan buruk yang menghantui.

Lamunan Raska terbuyarkan saat bel rumahnya berbunyi karena di pencet berkali-kali. Siapa yang bertamu dikala hujan lebat seperti ini?

Tanpa menunggu lebih lama lagi, Raska mulai melangkahkan kakinya untuk segera membuka pintu utama. Setengah berlari ia menuruni anak tangga, hingga sang bunda menegurnya.

"Di depan ada teman kamu?" Bunda memasang ekspresi penuh tanya.

"Nggak tau, Bun. Tapi Raska nggak ngundang temen. Lagian mana mungkin mereka mau kesini ujan-ujan gini. Mereka kan anti air," celetuk Raska.

"Yauda sana bukain dulu pintunya. Kasian. Bunda mau lanjut masak di dapur, ya?" Raska mengangguk. Bunda kembali ke dapur untuk menyelesaikan acara memasaknya yang sempat terhenti dan Raska yang membukakan pintu.

Baru hendak membuka suara untuk menanyakan siapa yang datang saat pintu hampir terbuka sempurna, namun gadis yang sedari tadi menunggu langsung menerobos masuk. Raska dibuat tercengang beberapa detik. Terkejut dengan sikap tidak sopan yang gadis itu lakukan saat bertamu.

Raska berjalan menyusul dengan tenang. Menghampiri gadis asing yang tengah sibuk mengeringkan rambutnya dengan handuk yang entah gadis itu dapatkan di mana. Mungkin gadis itu membuka koper yang dibawanya, terlihat dari koper yang tergeletak dengan posisi terbuka.

"Lo siapa?" Raska membuka suara. Membuat gadis itu menoleh.

"Lentera."

"Di sini nggak mati lampu, nggak butuh lentera," tukas Raska.

"Itu nama gue. Oh ya, bikinin gue minum dong. Yang hangat, gue kedinginan," perintah Lentera.

"Lo nyuruh gue?" Raska masih dibalut dengan kebingungan.

Lentera mengangguk tanpa rasa berdosa, "Lo kan orang suruhannya nyokap gue buat jagain gue, iya, kan?"

Raska mengernyitkan dahinya. Hingga Lentera kembali membuka suara untuk kembali memerintah Raska. Mengingatkan untuk segera membuatkan sesuatu yang hangat.

"Coffee or tea?"

Netra Lentera membulat saat mendengar logat bahasa inggris yang sempurna. Sejak kapan Luvita paham permintaannya yang meminta pembantu di rumahnya harus yang serba bisa, ganteng, dan berotot. Ia baru sadar, remaja di depannya saat ini sangat menyerempet pria idamannya.

"Jadi mau kopi atau teh?"

"Ah ya, kopi aja. Hidup butuh yang pait-pait sedikit, kan?"

Tanpa membalas pertanyaan Lentera, Raska langsung membalikkan badannya menuju dapur. Meskipun begitu, pikirannya masih tertuju pada gadis aneh yang tiba-tiba datang seolah-olah majikan.

Dan apa katanya tadi? Orang suruhan nyokapnya? Gadis itu pasti sedang melantur.

"Loh, kenapa ke dapur? Oh ya, siapa tadi?"

"Gadis aneh. Minta dibikinin kopi," jawab Raska.

"Ada-ada saja anak muda jaman sekarang."

Raska kembali terfokus pada racikan kopi di depannya. Aroma kopi yang lembut mulai menyebar.

Setelah kopi yang ia buat sudah siap, Raska membawa secangkir kopi itu untuk ia bawa ke ruang tamu.

"Bun, Raska ke depan dulu, ya?" Maira mengangguk.

"Aku udah sampe kok, mah. Ini aja aku udah duduk di sofa sambil nonton tv,"

"Jangan ngelantur kamu, Tera. Mamah nggak liat kamu di ruang tv. Kamu ada di mana?" Suara yang terdengar dari ponsel milik Lentera.

"Apa sih, mah. Tera nggak bohong, kok. Tera serius."

"Cepat pulang! Kamu ada di rumah siapa?"

"Di rumah kita lah. Kan tadi mamah yang bilang kalo rumah baru kita itu yang nomor 53A, iya, kan?"

"Astaga Tera, kan mamah bilang itu tadi mamah salah. Mamah udah ngasih tau kamu kalo rumahnya yang nomor 54A. Cepat pulang, bikin malu saja kamu, Tera. Jangan lupa minta maaf sama pemilik rumah karena udah ganggu kenyamanan mereka!"

Tut....

Lentera terpaku.

"Udah sadar? Rumah lo ada di samping. Dan ini rumah gue," Lentera menatap Raska hati-hati. Tatapan teduh yang remaja di depannya berikan sangat membuatnya malu hingga ubun-ubun.

"Dan satu lagi, gue bukan orang suruhan nyokap Lo," ucap Raska.

Lentera malu bukan main. Bisa-bisanya ia lupa nomor rumahnya sendiri. Diam bukan hal yang tepat untuk ia lakukan saat ini. Tapi ia harus apa? Tubuhnya kaku menahan malu.

"M-maaf."
Lentera lari, meninggalkan Raska yang masih setia memegang secangkir kopi.

"Lucu. Sampe nggak sadar kopernya ketinggalan." Raska mengukir senyum disusul dengan gelengan kepalanya.

Terkadang memang sebuah pertemuan terjadi dengan hal yang tak terduga dan mungkin tak pernah sekalipun terlintas dalam benak.


___
nb: jangan lupa vote dan komen

LENTERASKATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang