4. Abang Ero

1.6K 90 0
                                        

Sekarang, keluarga Adibrata sedang berada di dalam kapal untuk mencapai daratan.

Ya, akhirnya mereka sepakat untuk pergi ke panti asuhan yang sudah diperiksa dulu semua latar belakang panti asuhan itu sendiri atau anak-anak pantinya.

Setelah bangun dari tidurnya tadi, Alta kembali berkata bahwa ia ingin seorang abang.

Jadi rencana untuk pergi menaiki bianglala ditunda dulu karena Alta ingin abangnya ikut menaiki bianglala itu bersamanya.

Setelah sampai di daratan, Alta beserta keluarganya menaiki sebuah mobil.

Lalu beberapa pengawal mengikuti mereka dari kejauhan, ya tentu saja mereka tidak ingin terlihat mencolok dengan membawa pengawal kemana-mana.

Dan mereka juga ingin diperlakukan seperti orang biasa bila sedang berbaur dengan masyarakat umum, itu sebabnya keluarga tidak pernah menunjukkan identitasnya.

Setelah menempuh kurang lebih 40 menit perjalanan, mobil mereka berhenti di sebuah panti asuhan sederhana di pinggiran kota.

Ada sekitar 15 orang di dalam panti asuhan itu, 2 orang pasangan suami istri sekaligus pemilik panti, 3 orang pegawai yang membantu pasangan suami itu mengurus sepuluh anak panti yang ada disana.

Begitu sampai di sana, nenek Risa dan kakek Andi langsung duduk di ruang tamu bersama pemilik panti, sedangkan Papa Sean dan Alta sedang berkeliling ditemani oleh salah satu pegawai laki-laki yang ada disana.

"Kenapa menangis?" tanya seorang anak laki-laki kepada anak laki-laki lainnya yang terlihat lebih kecil.

"Es klim punya jatuh." ucap anak kecil itu sambil terus menangis.

"Jangan menangis, kamu bisa meminta lagi es krim pada kakak sehabis makan siang nanti." ucap anak yang tadi bertanya, kakak yang ia maksud adalah pegawai yang bekerja di panti itu.

"Tapi bagaimana kalo gak dikasih." katanya masih merasa sedih. "Aku kan udah ambil jatah es klim tadi."

"Bilang saja itu punya abang, nanti kamu boleh memakan jatah es krim abang."

"Baiklah."

"Bagus, jangan menangis lagi." katanya sambil mengelus rambut anak yang lebih kecil dengan lembut.

Kemudian kedua orang itu terlihat berbicara dengan pelan, entah membicarakan apa tapi tidak lama setelahnya, kedua orang itu tertawa dengan lepas.

"Adek mau abang." kata Alta menunjuk seorang anak lelaki yang tadi menanyai anak kecil yang sedang menangis.

Tadi memang saat berkeliling mereka berhenti saat melihat seorang anak yang sedang menangis, pegawai yang sedari tadi menemani Papa Sean dan Alta meminta izin untuk menemui anak yang sedang menangis itu sebentar, tapi belum ada melangkah menuju anak itu, anak yang lainnya muncul dan menghampiri anak yang menangis itu.

Alta yang sedari awal memperhatikan kedua orang yang berada di depan sana, merasa kagum dengan seseorang yang memanggil dirinya sendiri dengan sebutan abang.

Orang itu mau mengorbankan jatah es krim miliknya agar anak kecil itu berhenti menangis.

Alta ingin abang yang seperti itu, Alta ingin abang itu menjadi abangnya.

"Ah anak yang lebih besar itu ya? Namanya Cavero." kata pegawai itu memberi tahu nama anak lelaki yang ditunjuk Alta. "Umurnya 6 tahun."

"Adek mau dia?" tanya Papa Sean pada Alta yang masih berada dalam gendongan koalanya.

"Eum!"

"Nah, sekarang coba adek kesana dan berkenalan. Kalau memang cocok dia akan menjadi abangnya adek." kata Papa Sean sambil menurunkan Alta.

Little AltaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang