Kartu 06 : Reason of God

15 4 1
                                        

"Semuanya akan baik-baik saja, Zara. Semuanya."

Evelin mengusap cairan bening yang mengalir dari pelupuk mata. Ia beranjak pergi dari ruangan, mencari udara segar agar adiknya tidak melihat ia menangis.

***

Secarik kertas terbang mengenai muka pemuda yang terlihat bergulat dengan kanvas dan aneka warna di paletnya. Ia lantas mengambilnya dan melihat isi kertas tersebut.

Tenang menghanyutkan

Dingin tak membuatku menyerah

Suara angin, gulungan ombak deburan karang

Tak bisa kusimpan dalam...

Tangan gadis itu berusaha merebutnya, membuat lelaki tadi menatap gadis yang berdiri di depannya.

"Maaf, tadi kertasnya terbawa angin," tutur gadis bersurai coklat yang tersenyum manis dengan berbalut pakaian pasien yang serupa. Matanya bulat bersinar sedikit redup, bibirnya agak pucat, tetapi sama sekali tidak mengurangi raut indah di wajahnya. Pemuda itu terpana sejenak sebelum akhirnya mengulurkan tangan hendak memperkenalkan diri.

"Tidak masalah. Maaf, aku tidak sengaja membaca puisimu, tapi hanya beberapa bait saja."

Gadis itu tersenyum menyambut uluran tangan Daffa, namun seperti ada kekhawatiran yang tersirat dibalik bola matanya. Sejak peristiwa itu, mereka semakin akrab. Seperti akrabnya malam dan rembulan. Mereka terlibat obrolan yang mengalir begitu cair. Cukup terkejut, tidak biasanya dia banyak bercerita apalagi dengan orang yang baru ia kenal beberapa menit yang lalu. Nampaknya, gadis itu sengaja Tuhan datangkan untuknya. Tanggapan riang dari Zara, si manis yang membuat wajah murung pelukis terus bercerita tanpa henti. Daffa bercerita dengan nada hati-hati tentang masa-masa sulit saat ia terjebak dalam kegelapan koma akibat kebodohannya yang hampir merenggut nyawa. Hal itu, membuat Zara heran. Pasalnya entitas dihadapannya mengatakan bahwa ia lebih suka saat koma, sebab dapat bertemu dan bahkan ia bisa ikut bersama almarhumah ibunya.

"Apa seperti ini pola berpikir orang putus asa? Atau memang seperti ini cara mereka menghadapi hidup? Ah, entahlah," pikirnya.

"Tentu semua memiliki alasan tersendiri, mengapa Tuhan tetap membangunkanmu. Jadi, jangan sia-siakan kesempatan kedua," tutur Zara menasihati.

"Ya, anggap saja begitu. Sekarang giliranku bertanya, kenapa kau ada di sini?"

"Aku sedang sakit."

"Tanpa kau bilang begitu aku juga tahu," ujar Daffa sembari mendengus.

"Aku sedang berjuang untuk hidup, suatu saat kau akan tahu. Jadi, doakan aku agar semua baik-baik saja dan aku ingin memiliki teman di sini. Kau ingin jadi temanku, kan?" ungkapan serta tatapan penuh harap itu, bagaimana Daffa bisa menolaknya? Ia pun menganggukkan kepala tanda menyetujuinya.

***

Daffa berada di ruangannya setelah menghabiskan waktu di taman bersama teman barunya. Mereka saling memperlihatkan hobi satu sama lain. Dari situ Daffa tahu Zara sangat menyukai laut, tetapi gadis itu berkata dirinya tidak bisa ke sana lagi. Daffa paham dari raut wajah gadis itu seperti merindukan hal tersebut. Hari-hari berikutnya, Daffa selalu bertemu dan menghabiskan waktu bersama Zara di taman, tetapi sore ini Zara benar-benar tidak datang meski Daffa sudah menunggu hingga matahari hampir tenggelam. Akhirnya, pemuda dengan kursi roda itu memutuskan kembali ke kamar. Netranya membesar ketika mendapati seseorang yang ia nanti-nanti sekarang duduk menunggunya dengan senyuman manis khas miliknya.

"Kau dari mana?" tanya Zara, tengah beranjak mendekati Daffa yang berada di kursi roda.

Daffa mendengus, "Dari taman. Aku menunggumu kau malah ada di sini."

ChrononautCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang