Happy reading...
(*typo bertaburan, harap maklum)
★~(◡﹏◕✿)
"Eomma...?" tidak ada jawaban, hanya ocehan tidak jelas dari wanita paruh baya berstatus Ibunya.
Kim Bum, datang berkunjung hampir setiap hari sepulang bertugas. Ia akan menceritakan semua kejadian yang setiap hari dirinya alami. Meskipun mustahil mendapat jawaban, setidaknya dia sedikit lega ketika resahnya tersampaikan.
"Eomma jangan pernah bosan untuk mendengarkan cerita Kim Bum. Sejujurnya Kim Bum butuh suara yang bisa memberikan solusi. Tapi seolah semua tuli dan bisu, semua sunyi sepi. Hanya Eomma, hanya Eomma yang mau mendengarkan Kim Bum!" dia tetap meneruskan ceritanya, meskipun sang Ibu bahkan tidak tertarik dengan apa yang ia ceritakan.
Kim Naira, sedikit melirik ke arah sang putra. Kim Bum tau pasti, jika sang Ibu tidak akan peduli. Setidaknya dia tau jika sang Ibu mendengarnya, meski tidak mengerti apa yang dirinya ucapakan sekalipun, seumpama Ibu yang mendengar keluh kesah sang putra, namun tak apa, Kim Bum tersenyum untuk itu.
"Kim Bum jatuh cinta Eomma!" mantapnya. "Kim Bum tidak tau kapan perasaan ini di mulai. Kim Bumpun tau jika ini salah, perasaan yang tidak seharusnya ada untuk dokter dengan pasiennya. Namun Kim Bum sungguh tidak bisa menahannya lgai Ma."
Masih tidak mendapat jawaban. Sang Ibu hanya bergerak acak bak anak kecil. Berceloteh ria dengan pelafalan kata yang tidak memiliki arti. Terdengar begitu jauh dari konteks yang Kim Bum ceritakan.
"Perasaan yang hadir lebih awal ini, nyatanya begitu menyiksaku Ma. Keadaan memaksaku untuk bungkam, memendam rasa ini sendirian. Hati Kim Bum ingin sekali berkata jujur, namun logika Kim Bum berkata jika ini tidak benar." katanya kemudian.
"Pergi, pergiii... Kamu jahat.... Hahaha... Lalala laaaa... Hikss sakit, pergi. Hikss aku benci, benci sekaliiik...!" itu suara Kim Naira yang membuat fokus Kim Bum terpecah.
Memeluk dirinya sendiri, dengan menyembunyikan wajahnya dalam lipatan tangan. Kim Bum menghela napasnya berat. Berharap jika sesak di dadanya sedikit menghilang. Kemudian berkata lagi. "Jangan takut Ma! Ada Kim Bum di sini. Kim Bum akan melindungi Eomma!?" ekspresi Naira seketika berubah. Membawa matanya menatap kosong yang ditujukan untuk sang putra.
"Dia jahat, bunuh saja yaa... Bunuh?!" rancau Naira lagi, setelahnya dirinya mulai asyik sendiri dengan dunia yang ia ciptakan lagi.
Kim Bum menatap sendu Ibunya. Air mata telah menumpuk di pelupuk, berkedip sekali saja, derasnya sudah pasti membasahi pipi. Selama ini dirinya akan menangis meraung seorang diri, namun kini seolah tenaganya telah habis tak tersisa. Kim Bum sebisa mungkin tidak menunjukkan lukanya di depan sang Ibu. Cukup sekali sang Ibu terbebani dengan kisah pelik hidupnya. Dirinya tidak ingin menambah lagi, meskipun dirinya pun tak kalah hancurnya. Namun Kim Bum masih memiliki akal sehat untuk mengendalikan semuanya. Tidak seperti sang Ibu, telah rusak mental dan pikirannya.
Sebelum kembali berucap, Kim Bum mengulas senyum sebagai bentuk penyemangat untuk dirinya sendiri.
"Dia rapuh Ma, sama seperti Eomma. Namun dia hebat, Kim Bum akui itu. Menyamarkan sakitnya hanya karena ingin orang-orang di sekitarnya tidak ikut merasakan apa yang dirinya rasakan. Mengulas senyum palsu seolah semua baik-baik saja. Tapi nyatanya di dalam dirinya bukan lagi hancur, namun hangus tak tersisa." Kim Bum membayangkan bagaimana seseorang di sana dengan senyum pesakitan.
KAMU SEDANG MEMBACA
𝘁.𝘀.𝘀 𝗯.𝘀.𝘀
RandomBagaiman jadinya jika kamu di nikahinya hanya sebagai penutup kebejatannya~~ bxb Taehyung Jungkook Taekook ANGST... jangan salah lapak, yang homophobia minggir....
