Keyla melangkahkan kakinya lebar lebar saat ia memasuki pagar rumahnya,

"Aku pulang" ucap Keyla saat ia memasuki rumahnya

Suananya hening, sepi sekali

"Hmm mungkin mama belum sampai rumah," ucap Keyla dengan volume yang pelan

Keyla segera bergegas pergi ke kamarnya, lalu berganti baju setelah itu ia berdiam diri di kamar sambil memikirkan siapa yang telah mengerjakan soal matematikanya itu,

"Apakah orang yang tak kukenal atau yang kukenal?" tanya Keyla pada dirinya sendiri

Keyla memutarkan bola matanya, "Hmm, Angga?- hah tak mungkin ia bukannya masih di rawat di rumah sakit?"

Lalu, Keyla mengarahkan pandangannya pada jendela di kamarnya, "Justin?- dih ga mungkin itu anak masuk ke perpustakaan, sangat tak memungkinkan,"

Tiba tiba mata Keyla tertuju pada ponselnya, "Fikri kah?"

Keyla menelan ludahnya, lalu ia mengambil ponselnya

"Jika aku menelefonnya juga tak akan ia angkat, kalau di sms atau yang lainnya pasti ga bakal di jawab"

Akhirnya Keyla memutuskan untuk tak penasaran dengan siapa yang mengerjakan soal matematikanya itu,

ANGGA POV

"Terserah!" aku berteriak pada kembaranku itu

Alasanku berteriak karna dia terus saja mengucapkan nama 'Keyla' di dekat telingaku, siapa yang tak jengkel?

"Jangan marah dong" ucap kembaranku dengan wajah cemberut

"Iya Fikri- iya" aku berbicara dengan menekankan di bagian Fikri.

"Bales dendam ya?" ucap kembaranku dengan senyuman- ku rasa itu hanya senyuman palsu

Aku hanya mencubit kedua pipinya yang cukup chubby

"Aww sakit" ucap kembaranku sambil memegang kedua pipinya itu,

Aku hanya tertawa

"Kapan gue pulang ya? Rindu banget sama rumah"

"Katanya sih lu udah agak membaik, kata dokter sih lu mau istirahat dirumah juga ga apa apa, gue juga bosen disini kerjaannya cuma nemenin lo, kenapa sih engga mamah atau papah aja yang nemenin lo?" ucapan sodara kembarku ini dengan suara bervolume keras kali ini membuat hatiku seperti teriris pisau, sakit.

Jadi, maksudnya dia bosan untuk menemaniku selama ku sakit? Dan dia dengan gampangnya bilang bosan menemaniku secara langsung dengan volume suara yang keras,

Apa dia tak sadar bahwa perkataannya membuat hatiku teriris? Oke ini memang lebay tapi ini adalah fakta

Apakah dia lupa? Aku juga pernah menemaninya selama 2 minggu di rumah sakit, dan sama sekali tak ada pikiran bahwa aku bosan menemaninya.

"Hmm, maaf"

Mungkin Anggi sadar bahwa perkataannya tadi membuat hatiku seperti teriris,

"Maaf, lo tau kan kita kembar, jadi-"

Aku segera mendekap mulutnya dengan tanganku

"Sudahlah, aku tak apa," aku tersenyum

Ya kami kembar,

Aku sakit, mungkin dia juga merasakan sakit

Aku bahagia, dia juga mungkin merasakan bahagia

Kami kembar,

Susah senang kami lalui bersama sejak lahir.

Hmm apakah kalian mengerti dengan maksud yang kubicarakan?

Stalker✨Baca cerita ini secara GRATIS!