Anestesi Versi Terbaru

55.7K 4.9K 342
                                                  

Sekarang, Gil!

Sentuh bibirnya dengan bibirmu, tularkan segala rasa yang sudah kamu pendam selama ini. Bukankah sangat menarik kalau bisa membuatnya mendesahkan namamu?

Buat dia jadi milikmu. Jangan sampai Ian memproklamasikan status baru di antara mereka kelak! Bagaimana rasanya ketika Ian tadi menggodanya? Sesak? Ayo...sebelum terlambat! Sekarang, Agil!

Sekarang atau tidak sama sekali!

Dalam satu menit yang mendebarkan bagiku, saat pertama kali aku dan Ghea bertatapan tanpa terganggu, isi otakku berhamburan keluar dari tempatnya dan aku sampai menahan kedip supaya isi pikiranku tidak terlaksana.

Kali ini aku tahu, statement Al dan Revan salah. Salah besar. Delapan puluh persen otak laki-laki pindah ke selangkangan setelah menikah? Bullshit!

Bahkan dengan status single dan track record yang bersih sama sekali ini pun aku justru merasa sekarang seluruh otakku sudah turun ke tempat di antara kedua kakiku itu. Apalagi nanti setelah menikah? Akan di mana lagi letak otakku? Berapa persen yang tersisa di tempat semestinya? Tuhan...

Tapi Gil, pilih otak di selangkangan apa di dengkul?

Lalu mengapa otakku bisa pindah dalam sekejap hanya karena berhadapan dengan seorang gadis seperti dia? Hanya, Gil? Hanya seorang gadis yang setiap malam menghantui mimpi-mimpimu dan sanggup membuatmu terbangun dengan jeritan keras namanya yang menggema di seantero kamar apartemen. Parahnya, disertai ceceran cairan dengan warna dan bau khas yang menuntut seprai harus diganti setiap pagi. Sial! Menyusahkan laundry saja.

Akhirnya yang aku bisa hanyalah menutupi rasa grogi dengan senyum dan dengusan tawa yang kutahan. Efeknya seperti menahan BAB! Sialan!

"Pesankan aku dua porsi, Ghea!" akhirnya hanya itu yang mampu kuucapkan setelah setan di kepalaku memikirkan setidaknya sepuluh cara untuk memagut bibirnya yang menggoda itu. Fix, aku sudah gila!

Aku duduk di hadapannya dalam diam. Tapi, tak bisa kuingkari kalau ekor mataku tetap memandanginya. Untunglah manusia dianugerahi kekuatan supernatural bernama lapang pandang seratus delapan puluh derajat. Hal ini memungkinkan aku melirik objek di sisi kiri dan kanan sebesar sudut seratus delapan puluh derajat tanpa menggerakkan bola mata ke kiri atau ke kanan.

"Bubur ayam tiga porsi. Air mineral dan es batu satu gelas," katanya ke arah pelayan yang siap mencatat pesanan kami.

"Pak Agil minumnya apa?"

"Teh hangat saja. Dan Agil saja," sahutku menatap matanya. Kali ini tidak lagi menggunakan ekor mata.

"Tambah teh hangat," katanya kembali ke arah pelayan tadi.

"Kamu minum es?" tanyaku sedikit bingung. Pagi-pagi begini?

Ghea menganggukkan kepalanya, "Iya, Pak. Saya suka sekali ngunyah es batu."

Oh, suka mengunyah es batu? Kenapa tidak mengunyah bibirku saja?

"Kenapa?" tanyaku penasaran.

"Hmm...gak tau, cuma suka aja," katanya lagi dengan pandangan menerawang.

Beginilah, aku susah sekali mencari topik pembicaraan. Ghea juga tampaknya tidak tertarik untuk mencari topik. Apakah kejadian tadi tidak berpengaruh sama sekali buatnya?

"Kamu gak sakit perut kalo minum es pagi-pagi?"

Ghea hanya menggeleng.

Shit! Setahuku anak ini adalah petasan mercon. Dari mulutnya itu bisa keluar berbagai macam semburan dan teriakan. Terus kenapa sekarang seperti makhluk gagu begini?

Anesthetized [Terbit]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang