TDH - 25

66.5K 1.6K 22
                                        

Kan kan double up 😌😌
Suka gak double up gini?
🙌🙌

Seperti biasa jangan lupa untuk follow aku terlebih dahulu ya gessss

Camat baca semuanya
🔥🔥🔥

.
.
.
.
.
.

Sekarang Elena datang ke rumah anaknya. Kenapa lagi kalau bukan mengecek keadaan mereka berdua. Ini mah kebalik, ya. Di mana-mana mah yang ada anaknya yang menjenguk orang tua, ini malah orang tua yang menjenguk anak.

Meskipun begitu, Elena tetap senang, kok. Lagipula wanita empat puluh dua tahun itu juga cukup mengerti kesibukan anak-anaknya yang memang masih kuliah. Jadi, wajar saja kalau mereka tidak punya waktu untuk datang.

"Kemarin Jane nginap di rumah kalian, Nak?" Tanya Elena kepada Zanna sambil sibuk mengisi kulkas rumah mereka dengan buah-buahan yang baru saja Elena beli.

"Iya, Mah." jawab Zanna apa adanya.

Sekarang mereka berdua sedang ada di dapur menata ulang kembali bahan-bahan dapur dan menggantikannya lagi dengan yang baru. Tentu saja itu semua Elena yang beli. Padahal, besok Zanna rencananya mau mengajak Algrarez untuk belanja bulanan. Tapi, berakhir Elena membawakan semua kebutuhan mereka selama satu bulan ini.

Sementara mereka berdua yang sibuk di dapur. Algrarez serta Papahnya ada di teras rumah. Biasa lah, ngobrol sambil menikmati kopi di sore hari begini.

Setelah selesai dengan isi kulkasnya, sekarang Elena beralih menata beberapa bahan dapur di tempatnya. "Pacaran jaman sekarang ngeri-ngeri ya, Nak? Untung anak Mamah udah Mamah nikahin sama kamu." Elena tersenyum lebar. Untungnya saja perjodohan mereka yang awal rencananya setelah sama-sama lulus kuliah jadi dipercepat begini. "Dulu Mamah juga nikah muda, mungkin umur dua puluhan. Agak tertekan juga sih sama Papah Algrarez. Algrarez gak buat kamu tertekan kan sayang?" Zanna tersenyum tipis. Dia menggeleng pelan. Meskipun di dalam hatinya berkata lain, sedikit sih.

Elena pun tersenyum tipis mendengarnya. "Syukur lah kalau anak itu gak buat kamu tertekan. Kamu jangan sungkan ya sayang, kalau Kak Algrarez buat kamu kesel atau buat ulah lagi, lapor aja ke Mamah." Biar nanti Elena yang turun tangan kalau dibilangin Zanna sudah tidak lagi mempan.

Zanna mengangguk pelan, "Iya, Mah."

"Kayanya banyak banget ya kerjaan rumah yang perlu di kerjain. Apa Mamah perlu cariin pembantu buat di rumah ini?" Tidak, bukan karena Elena melihat rumah ini kotor atau tidak terawat. Justru sebaliknya. Elena malah melihat rumah ini rapih, bersih, dan sangat tertata. Tentu saja pasti Zanna yang melakukan pekerjaan rumah ini semua. Tapi, melihat lagi rumah ini memang cukup besar, membuat Elena tidak tega jika harus membiarkan Zanna yang mempekerjakan kerjaan rumah ini sendirian. "Udah, udah. Pokoknya nanti atau besok Mamah kirim Bi Ati buat bantu-bantu disini, ya? Ini rumah lumayan gede, loh. Nanti kamu pasti kecapean kalo kerjain semuanya sendirian." Elena tidak memberi kesempatan Zanna untuk menjawab sedikit pun. Membuat Zanna hanya tersenyum tipis seolah setuju dengan Elena. Lagipula, memang Zanna juga terkadang merasa lelah kalau mempekerjakan semuanya sendirian.

"Tapi, sayang. Kok kamu pucet gini, sih?" Elena menyentuh pipi Zanna, memperhatikan wajah Zanna yang memang terlihat pucat.

Zanna hanya meringis, "Oh, ini. Aku lagi Mens, Mah. Jadinya kurang enak badan, sih." jawab Zanna apa adanya. Benar, kok. Dia kalo mens apalagi di hari-hari pertama kaya gini malah rasanya seperti orang penyakitan sekali. Tubuhnya benar-benar remuk. Dari kaki hingga payudaranya pun terasa pegal.

Elena terkejut sedikit, "Oh? Mens, ya." Entah kenapa respons Elena membuat Zanna hanya bisa bungkam. Wanita itu terlihat seperti kecewa, tapi berusaha untuk tetap memaklumi.

ALGRAREZ || The Devil HusbandTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang