1

643 84 7
                                        


Kota Seoul, 12 tahun kemudian.








Daksanya enggan beranjak dari tempat duduk yang beralaskan rerumputan setinggi mata kaki. Pandangannya menatap lurus ke arah keramaian, telinganya asik mendengar riak air mancur di kolam di depan sana. Beberapa burung merpati masuk ke dalam pandangannya, memakan remah roti yang diberikan oleh orang-orang. Sayap-sayap kecil mereka berkepak riang.

"Jimin! Aku akan meninggalkanmu disini jika kamu tidak pergi sekarang." Angin berhembus menghantarkan suara nyaring menusuk telinga dari temannya itu. Ia tak menggubris ucapannya, masih asik memandangi orang-orang yang berlalu-lalang di taman kecil pusat kota ini.

"Oke, aku anggap keheningan mu adalah 'ya' untuk membiarkan ku meninggalkan mu." Lalu temannya itu berbalik meninggalkan Jimin yang mendesah pelan. Lelah dengan sikapnya.

Uchinaga Aeri, adalah teman yang tadi berteriak dari jarak sepuluh meter. Seperti tidak tau malu dan masa bodoh dengan sekitarnya, ia berteriak pada Jimin yang berada di tengah lapangan rerumputan. Area luas yang biasanya digunakan untuk piknik.

Jimin akan selalu berada di sini setiap akhir pekan. Alasannya adalah, karena ada seseorang yang selalu menarik perhatiannya. Dia memakai kain yang menutupi sepasang matanya. Rambut sebahu yang halus, wajahnya yang cantik dan kaki mulusnya yang pendek. Entah kenapa ia tertarik pada orang itu. Kenapa dia selalu menutup matanya? Apakah ia buta? Atau ada alasan lain yang memang mengharuskannya melakukan itu. Jimin penasaran.

Suatu hari, ia mendapati dirinya terjatuh akibat mengejar teman bodoh Aeri yang kabur membawa kudapannya. Ketika Jimin sedang mengaduh kesakitan, sebuah tangan halus dan seputih salju terulur di hadapannya. Ia mendongak untuk melihat siapa yang baru saja melakukan hal baik itu. Sebuah kain merah yang menutupi sepasang mata terlihat dengan bibir ranum membentuk sebuah lengkungan kurva-yang membuat lesung kecil di kedua pipinya muncul.

"Kamu tidak apa-apa?"

Saat itu angin berhembus cukup pelan namun cukup membuat beberapa helai rambutnya terhempas-juga menghantarkan suara lembut yang membelai telinganya. Jimin perlahan meraih uluran tangan tersebut. Rasa hangat langsung menjalar di telapak tangannya, naik menuju lengan dan berakhir di dadanya. Seketika jantungnya berpacu lebih cepat.

"Apa kamu.. terluka?" Suara lembut dan candu itu menyadarkan betapa bodohnya Jimin karena tak kunjung menjawab pertanyaannya.

"Y-ya. Maksudku.. tidak. Terimakasih." Jimin langsung merutuki dirinya karena baru saja mengeluarkan suara yang jelek dan gugup. Namun, ia terdiam saat mendengar suara cekikikan yang keluar dari mulut gadis itu. Rambutnya tergerak kedepan karena tawanya, Jimin terpaku oleh keindahan ini. Ya, anggap saja begitu.

"Maaf. Kalau begitu, permisi." Gadis itu menunduk kemudian berbalik dengan tongkat khususnya. Tangan Jimin terangkat untuk menghentikannya, namun terasa begitu berat hingga ia hanya bisa berkata;

"Aku Yoo Jimin!"

Karena tak bisa mengontrolnya, suara yang ia keluarkan terdengar sedikit kencang hingga mengundang perhatian orang-orang disekitar. Gadis itu berbalik, menatap Jimin dengan sepasang matanya yang tertutup kemudian membuka mulutnya untuk membalas ucapan Jimin.

"Hei kura-kura lambat! Konsernya sudah dimulai dan kamu masih disini seperti anak ayam tersesat. Cepat atau kamu akan ketinggalan!"

Tapi, teman bodohnya itu dengan bodohnya malah memotong ucapan gadis di hadapan Jimin-yang ia berharap akan menyebutkan namanya. Gadis itu juga tersentak kaget, namun Jimin tak bisa apa-apa saat tangannya di tarik Aeri untuk mengikutinya.

"Aku menyesal berteman denganmu." Ucapan Jimin diakhiri dengan helaan napas berat.

"Lebih dari 15 tahun kita berteman dan sekarang kamu mengatakan itu? Oke, cukup tau." Gadis itu merajuk, melangkah lebih dulu meninggalkan Jimin.

Lycoris Curse || WinrinaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang