Cuacanya cukup dingin, dan Keyla tak memakai ataupun membawa jaket,

Menurut Keyla dia lebih baik berada di dalan lingkungan yang panas dibanding yang dingin,

Keyla melihat Justin sedang berjalan terburu buru layaknya orang sibuk,

Justin semakin mendekat ke arah Keyla, saat dilihat lihat raut wajah Justin sangat tak amat enak untuk di pandang,

Wajah orang galau.

Tiba tiba saja,

PUUK

Sebuah pelukan mendarat,

Justin langsung memeluk Keyla, Keyla terpaku layaknya patung dan wajahnya sudah seperti kepiting rebus.

Berhubung Keyla dan Justin tingginya tak sama, jadi Keyla di peluknya itu kena dadanya Justin,

Sudah lebih dari satu menit Justin memeluk Keyla, dan sudah lebih dari satu menit pula Keyla mematung.

Lalu, Keyla tersadar bahwa sahabatnya ini sedang sedih, jadi Keyla membalas pelukan sahabatnya itu, lalu Keyla segera melepaskan pelukan itu.

"Cuma bentar tapi anget." Justin tersenyum

Mungkin Keyla masih kaku karna pelukan tiba tiba tadi, jadi dia hanya diam

"Ayo" Justin menggandeng tangan Keyla, lalu mengajaknya ke suatu tempat.

KEYLA POV

Jantungku masih berdegup sangat kencang karna pelukan tadi, ditambah gandengan ini- ah ini membuatku seperti bukan diriku.

"Hmm- kemana?" Tanyaku sambil menatap wajah Justin

"Dih kepo." ucap Justin dengan sinis, "ke taman Key" ucap Justin lagi tapi kali ini disertai dengan senyum pepsodent

"Oh- haha"

"Emang lucu?"

"Ga" jawabku sambil mepelaskan genggaman tangan itu, lalu berjalan lebih cepat mendahului Justin

"Hey tunggu!"

-Taman-

Saat kami sampai taman, aku memutuskan duduk di ayunan, sedangkan Justin memilih untuk berdiri didekat ayunan

"Gue tuh gangerti--""

"Ga ngerti apaan?, jangan setengah setengah" ucapku sambil bermain ayunan

"Dia dateng cuma buat nyampein mau break dulu, itu buat hati gue sakit."

"Tapi gue seneng, dia sekarang bercita cita jadi seorang guru- guru agama. Lah dulu dia cita cita jadi dancer ga kebayang bajunya kayak apaan, ditambah lagi kini dia jadi berkerudung makin cantik jadinya"

"Gini deh- coba kamu pandang sisi lain kenapa Faras mau break duku." ucapku

Justin hanya terdiam.

Aku melirik ke arah Justin dan kudapati dia sedang menutup mukanya memakai telapak tangannya,

Aku segera berdiri, lalu menggoyang goyangkan tubuh Justin,

"Oyy, lo nangis?" tanyaku sambil menggoyang goyangkan tubuh Justin

Tak ada respon.

"Ih parah yaa lo ih, cowok, idup, udah gede, lagak kayak playboy, tapi nangis? Cuma karna Faras minta buat break dulu? Cengeng amat lu." Ucapku

"Aku ga nangis, cuma- sakit- disini" ucapnya sambil menunjuk arah dada

Aku sedikit kaget karna tiba tiba Justin berkata 'aku' bukan 'gue' atau 'gua'

Stalker✨Baca cerita ini secara GRATIS!