Jebakan

175K 2.9K 107
                                        

“Mana barangnya?” tanya seorang pemuda kepada pemuda lainnya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

“Mana barangnya?” tanya seorang pemuda kepada pemuda lainnya. Suara itu cukup pelan, tak ingin seseorang menguping pembicaraan mereka.

Malam ini suara musik terdengar cukup keras. Sekolah yang mengadakan perayaan kelulusan untuk anak kelas tiga berlangsung sangat meriah dengan berbagai macam acara yang dilakukan. Acara prom night ini tak hanya mengundang anak kelas tiga, bahkan anak kelas dua dan satu ikut hadir untuk memeriahkan acara.

“Gue bingung mau bawa barang apa, gue punya dua barang. Lo mau obat perangsang atau obat tidur buat senang-senang?”

Kedua pemuda itu sudah menjauh dari kerumunan. Mereka berada di salah satu kelas sepi dengan lampu yang mati total. Kelas itu berada di belakang, terletak paling ujung dari ruangan yang menjadi tempat acara.

“Obat tidur,” jawab Renald. Pemilik nama panjang Renald Matius bintang. Netra tajamnya beberapa kali melirik arloji di tangannya sambil bernapas kasar menghadapi kebosanan.

Sudah pukul 10 malam, namun acara semakin ramai dengan suara musik berdengung heboh. Puncak acara sedang berlangsung, hanya saja Renald enggan terlibat karena tak ada yang menarik di matanya.

“Kenapa lo nggak mau obat perangsang? Lo pasti bosan karena nggak ada perlawanan.” Kepala yang bersandar pada dinding sesekali mengintip ke luar jendela untuk melihat keadaan koridor. Sangat sepi.

“Acara terlalu ramai, di luar prediksi gue. Kalau pakai obat perangsang bakal ribet.” Tepat setelah menjawab pertanyaan barusan, Renald juga menerima obat tidur yang dilemparkan ke arahnya.

Setelah proses penjualan dan pembelian berjalan dengan lancar, mereka kemudian pergi dari tempat itu, menuju ruangan dimana acara berlangsung sangat meriah.

Keduanya memilih berpisah; yang satu bergabung bersama teman-temannya, dan satunya lagi mencari perempuan dengan rambut sebahu, memiliki poni pada bagian depan. Perempuan itu adalah kekasihnya.

○○○○○

“Minum!”

Kiara Velovi tersentak, saat mendengar suara dingin dengan nada memerintah dari pemuda yang tiba-tiba berada di sampingnya. Tangan si empunya juga terjulur menyerahkan gelas yang berisi sebuah jus.

Kiara tak langsung menerima, kepalanya justru mendongak, menatap kekasihnya yang sempat menghilang tak bisa dihubungi beberapa jam lalu.

“Minum, Kiara Velovi!” titah Renald sekali lagi. Mata setajam silet itu menyorot intens wajah cantik yang sudah sejak kelas satu SMA mengisi hari-harinya yang begitu monoton.

HERIDATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang