Full Moon

241 1 0
                                    

Suara deru kereta malam menemaniku dalam kesendirian, ku terdiam menikmati alunan suara gemerisik dedaunan yang menyambut desau sang angin.

Seakan laju ini adalah musik, aku pun menikmatinya dan merasakan getaran-getaran indah dalam setiap harmoninya.

Malam masih panjang, hingga kereta yang aku tumpangi melewati lautan, mataku memandang dalam kesepian. Seolah mengerti sang rembulan pancarkan sinarnya dalam keheningan malam menyambut kilau deburan dalam rona di kegelapan. Ciptakan gemerlap cahaya seperti permata yang menari indah dalam buaian kidung sang rembulan.

Kornea mataku beralih memandang luasnya langit malam penuh taburan bintang yang seakan mengajak menari sang rembulan.

Tapi bolehkah aku berujar?

Full moon yg indah,
Aku layaknya manusia yg hina yg mengatas namakan cinta sbg bahagia,
Manusia yang berucap manis pada kegelapan malam
Kau adalah keindahan semesta yang dinantikan dunia,
Menyinari hati dalam luka lara
Membendung asa yg mengakar dalam duka

Full moon sang kekasih malam,
Maafkanlah aku si manusia lancang yang memandangmu dalam diam, tak perduli kekasihmu meronta seakan tak terima dengan rasa yang aku punya. seperti pecundang yang mengharapkan keajaiban.
Memandang nanar pada sinarmu yg tak jua meredup meski waktu telah berlalu menemani masa.
Aku bahagia telah memujamu sedemikian rupa meski kau tak memandangku seperti apa yg telah aku lakukan padamu,

Full moon sang pendamba,
Aku sadar bukan hanya aku si manusia hina itu, beribu mata telah memandangmu selayaknya pandanganku padamu.
Kau bukan hanya milikku,
Kau adalah kekasih malam
Dan kau lahir dari sang semesta,

Full moon ...
Kilau bulat sinarmu mampu redupkan gelapnya hatiku,
Para gemintang berebut bersinar bersamamu seolah mereka adalah selir sang malam dan kau sbg permaisurinya.
Aku tersadar kau tak bisa menjadi milikku meski terlihat dekat namun kau terlalu sulit untuk digapai.

Full moon sang cahaya,
Bersinarlah terus temani kekasih malammu, karena itulah alasanku untuk tetap memandangmu meski tanpa memilikimu,
Memeluk cahayanya mu meski aku tau tak akan mampu,
Hingga pijar indahmu sapukan kehangatan malam dalam dekap kesunyian.

Aku tersentak dari lamunanku, membiarkan pikiran jalangku berkelana jauh menembus batas irasional dalam nalarku.
Tak perduli keindahan itu milik siapa tapi aku hanya ingin memandangnya.
Karena itu menjadikan alasan agar aku tetap berjalan meski lelah tapak kaki ini melangkah.

Deru roda keretaku terus mengalun, ciptakan harmoni indah menembus dinginnya malam. Menemaniku bertemu fajar sang mentari yang menghantarku pada kenyataan dimana aku harus berhenti pada haluan kehidupan.

Stasiun, layaknya persinggahan saat aku lelah.
Dan kupejamkan mataku hingga waktu itu tiba...

Inspirasi : Full Moon - Garasi

Lantunan Dalam BaitTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang