1. MARSELINO RAYGAN BUMANTARA

294K 11.2K 1.5K
                                        

🥂3k vote and 1.5k comments for next🥂

1. MARSELINO RAYGAN BUMANTARA

Ketidakmampuan menolak permintaan orang lain lambat laun akan menjadi racun yang menggerogoti mental dengan sendirinya.

***

Cuaca hari ini terasa lebih sejuk ketimbang kemarin. Kencangnya tiupan angin pun bisa dibilang lebih dari sekadar sepoian angin sore. Sementara di atas sana, matahari tidak memancarkan sinarnya secara sempurna karena gumpalan awan hitam pekat yang sedari siang terus berkeliaran di atmosfer berhasil menyembunyikan sumber kehidupan yang satu itu.

Gemuruh guntur terdengar nyaring tepat sehabis perempuan berkulit putih pucat itu selesai membayar ojeknya. Wanita yang punya tahi lalat kecil di pipi kirinya itu berjalan gontai memasuki pekarangan rumah megah yang tentunya bukanlah rumahnya. Melainkan kediaman milik majikan kedua orang tuanya.

Alana Gardenia Senja. Pada name tag seragam sekolahnya bertuliskan beberapa untaian huruf yang berfungsi sebagai tanda pengenalnya. Samar-samar, gelak tawa pria yang terdengar bersahut-sahutan sampai ke telinga Alana, hingga tanpa sadar, satu umpatan berhasil lolos begitu saja dari bibir ranumnya.

"Sial." Alana menghela napasnya dalam-dalam. Langkahnya terhenti tidak jauh dari ambang pintu masuk rumah yang kini terbuka lebar. Kedua tangan kecil Alana bekerja meremas rok abu-abu sekolahnya guna melampiaskan perasaan risau yang hadir dalam dadanya.

Sial. Ya. Mungkin satu kata tadi cocok untuk menggambarkan nasib perempuan bermanik mata cokelat terang itu sekarang. Lagi dan lagi, sepertinya Alana harus mengorbankan waktu istirahatnya hari ini karena tampaknya, pria bajingan itu sudah pulang lebih dulu sebelum dirinya.

Kepala Alana menjenguk ke dalam. Pandangannya bergerak liar mencari keberadaan makhluk yang gemar sekali mengganggu kehidupan tentramnya. Fokus Alana tertuju pada sofa ruang tengah, di mana ada sekitar enam laki-laki duduk santai di sana dengan posisi membelakangi dirinya.

Alana membuang napas leganya lewat mulut. Gadis itu seka keringat sebesar biji ketumbar yang hadir di pelipisnya lantas melangkah masuk. Naasnya, karena terlalu waspada dengan kepala yang terus menoleh ke belakang—memastikan bahwa tidak ada yang melihat kedatangannya, Alana jadi tidak terlalu memperhatikan situasi di depan.

Tanpa sepengetahuan gadis itu, ada sepasang mata elang milik sosok tinggi yang terus mengawasi gerak geriknya sejak ia melangkah masuk ke dalam rumah. Marsel sengaja pulang cepat sebab ia benar-benar merindukan gadis itu. Atau lebih tepatnya, merindukan air mata Alana yang mengalir gara-gara ulahnya.

Bagai hewan buas yang tengah mengincar mangsa empuk, Marsel menyeringai ketika sedikit lagi Alana akan sampai padanya. Dengan sigap Marsel tangkap pinggang Alana lantaran tidak ingin melihat gadis itu terjatuh ke belakang usai menubruk keras tubuh tegapnya.

"Ma—Marsel?" Alana tergagap. Lututnya melemas, jantungnya berdegup kencang bak sebuah bom yang ingin meledak detik itu juga. Dengan sisa kewarasannya, Alana mulai berontak supaya terbebas dari kurungan kedua lengan kekar Marsel. Namun sayangnya, tiap kali ia bergerak, punggungnya malah semakin pria gila itu tekan sampai tubuh mereka berdua bertambah menempel.

"Lo pikir bisa kabur gitu aja setelah dua hari ngehindarin gue hm?" Marsel kunci netra bulat Alana yang tidak berkedip menatapnya. Ia tilik bergantian sepasang iris mata meneduhkan yang gadis itu miliki. "Mau lari ke mana lagi lo sekarang?"

"Lepas!" Alana dorong sekuat tenaga dada bidang Marsel kala pria itu lengah.

Bruk!

Sesuai permintaan gadis itu. Marsel melepaskan pinggangnya. Dan dia terjatuh mengenaskan di lantai akibat tidak bisa menopang beban tubuhnya sendiri. Marsel mendengus kasar lantas berjongkok dengan satu lutut bertumpu pada lantai.

MARSELANA Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang