EN

125K 4.3K 88

Ballerup, The Edge of Copenhagen

Seorang lelaki berhenti, menatap kedai kopi di sebelah kanannya. Matanya memperhatikan orang-orang yang tengah bersenda gurau dan bercengkerama. Awal musim semi yang murung tidak mengurangi keceriaan di wajah mereka. Dia membuang muka ketika melihat seorang pemuda berbisik di telinga gadis yang duduk di sebelahnya, lalu sang gadis tertawa dengan pipi merona. Tidak terhitung waktu yang pernah dia habiskan di kedai kopi, duduk menunggu hujan reda. Dia tidak duduk sendiri. Ada orang yang selalu ia genggam tangannya. Dia juga pernah merasakan cinta yang sama.

Ya, hanya pernah. Sekarang sudah tidak lagi. Hanya dia sendiri yang tertinggal di sini. Tidak ada gunanya memohon Tuhan mengembalikan cintanya. Karena cinta itu tidak mungkin akan kembali seberapa keras pun dia menginginkannya.

Sudah dua minggu ini dihabiskannya untuk memikirkan sebuah rencana. Rencana untuk segera meninggalkan kota ini. Kota kelahirannya. Kota yang memberinya bermacam cinta. Pindah ke negara yang lebih hangat mungkin pilihan yang baik. Dia memerlukan banyak sinar matahari. Untuk mencairkan hatinya yang telah membeku. Yang seakan membatu sejak hari itu. Sejak hari di mana dia begitu ingin bisa mengulang waktu, ingin kembali ke masa lalu. Ingin sekali dia mengatur ulang semua keputusannya. Tapi dia bisa apa? Bahkan sedetik saja dia tidak mungkin melangkah mundur. Waktu tidak mau menunggu, tidak ada pilihan selain terus maju.

Ballerup tidak pernah sama lagi. Copenhagen sudah tidak seperti dulu lagi. Ke mana pun dia melangkah, kenangan buruk itu menyertainya. Hela napas beratnya, sorot penuh luka dari matanya, akan selalu ada. Lelaki itu bergeming di tempatnya. Selama belum ada sesuatu yang bisa mencairkan hatinya, selama belum ada jawaban atas sebuah pertanyaan di hatinya, kota ini akan selalu tersaput kabut tak kasat mata. Tak akan bisa ia nikmati keindahan dan kenyamanannya.

Gumpalan awan berubah menjadi rintik hujan. Tidak peduli, dibiarkannya hujan membasahi wajahnya. Seolah rintik itu bisa menghapus kepedihan dari hidupnya. Hujan semakin deras, kini bercampur dengan setetes air matanya. Setelah sekian lama ditahannya, luruhlah semua rasa bersama air matanya. Dia berharap air hujan ini bisa menghapuskan rasa sakitnya. Bisa menghilangkan lukanya.

Orang-orang di kedai kopi menatapnya heran. Hujan semakin lebat, namun tak tampak keinginan lelaki itu untuk meninggalkan tempatnya berdiri. Apa yang sedang dilakukan oleh lelaki itu di luar sana? Kenapa dia biarkan hujan menghajar tubuhnya?

Kini laki-laki itu menengadahkan kepalanya, menantang langit kelabu.

Seperti tidak ingin memperpanjang rentetan pertanyaan di mata semua orang, lelaki itu berjalan menyusuri trotoar basah. Langkah kakinya berat, menyiratkan beban di hatinya.

Langit musim semi, hari kedua musim semi, masih terus diselimuti awan kelabu. Setelah musim dingin yang menyakitkan, musim semi yang dia harapkan adalah musim semi yang hangat. Namun, mendung tebal seolah enggan memberi ruang kepada matahari.

Lelaki itu, bersiap meninggalkan semua luka dan kegelapan di sini. Fritdjof Møller bersiap pergi.

THE DANISH BOSSBaca cerita ini secara GRATIS!