Normal POV

Aku akan bercerita padamu, sesuatu yang selama ini mereka sembunyikan. Edward hanya memendam dalam hati sembari membenci orang-orang sekitar. Mengapa harus berbohong jika kejadiannya seperti itu? Mengapa Anne harus melakukan ini?

Kisah ini tetap bermula pada ulang tahun mereka, Anne pengidap kanker paru-paru akut saat itu. Charles dan Annie tahu bahwa hidup Anne takkan bertahan lama lagi dan karena itulah mereka bertukar. Inilah awal kebencian Edward pada Ibunya.

Pagi itu, Ellena mempersiapkan sarapan untuk Edward yang masih lelap. Harus diakui jika gadis itu terkejut mengetahui rahasia terbesar Keluarga Styles. Maksudnya, Ellena tahu jika Ayahnya tak dulu menyimpan rasa pada Anne namun sang pujaan memilih pria lain sedangkan Anderson terpaksa menikah dengan Maddy---Ibunya.

Ellena masih terngiang-ngiang sehari yang lalu Ia berpikir untuk pergi tinggalkan Edward dan memulai hidup baru bersama Jack tetapi sekarang Ed. Bukan, tentu saja takdir mendesak agar tetap disisi Ed. Bukan hal buruk jika kau pergi setelah mengetahui rahasia seseorang.

Aroma roti bakar cokelat membangunkan Edward dari tidur, berjalan sempoyongan dengan mata mengantuk yang belum sepenuhnya sadar.

"Selamat pagi, tukang tidur." Gadis itu berjalan menuju Edward agar dapat memeluknya.

"Selamat pagi, sayang. Apa yang kau lakukan pagi-pagi seperti ini?"

"Oh Ya Tuhan, Edward. Ini sudah hampir pukul 9. Ini bukan pagi lagi kurasa. Jadi, aku buatkan kau sarapan pagi. Ada roti bakar dan susu, oh dan bisakah kita pergi berbelanja nanti siang?"

Edward cekikikan mendengar gaya bicara kekasihnya itu. Meletakkan tangan kemudian memeluk tubuh Ellena adalah favorit Ed saat ini. "Tentu. Mungkin habiskan sarapan lalu pergi mandi dahulu."

"Kumohon Edward jangan memulai hal menjijikkan lainnya." Peringat Ellena dengan mata mengintimidasi.

"Maksudmu kau ingin aku mengajakmu mandi bersamaku? Baiklah, ayo kita menghemat air."

"Edward!" Ellena memukul lengan kiri Edward sembari tertawa malu akibat candaan yang dilontarkan kekasihnya itu.

"Kalau begitu kita sarapan dulu sebaiknya. Aku agak kelaparan pagi ini."

Belum sempat Ed meletakkan bokongnya suara ketuk pintu terdengar. Ellena tampak terkejut dan waspada mengingat tidak ada yang tahu siapa di depan. Lelaki itu kemudian berdiri di depan Ellena dan mulai berjalan mengendap.

Pun ketuk pintu semakin kencang.

"Edward! Kami tahu kau berada di dalam. Keluarlah! Kita dalam keadaan genting!"

"Sialan! Itu suara Harry!" Wajah Ed kelimpungan melindungi Ellena sedangkan gadis itu hanya pasrah sebab yang lain sudah tahu di depan. "Ellena kita sebaiknya pergi lewat jendela. Ambil barang-barang yang penting."

Ellena bergegas masuk ke dalam kamar dan membiarkan Edward menunggu di depan pintu.

"Ayolah Ed! Kita dalam masalah genting dan tak ada sangkut paut dengan Ellena." Suara Harry kembali terdengar.

Ellena lalu mengintip, "Mungkin ada sesuatu yang benar-benar penting Edward." Ellena juga menyarankan Ed untuk membukakan pintu tetapi dia menolak sebab takut jika Jack bersama mereka. 

"Aku tak ingin kau pergi bersama Jack, El. Sudah, cepatlah berkemas selagi aku menunggu disini kalau-kalau terjadi sesuatu." Perintah Edward dengan cepat. Ellena terdiam memandangi lelaki itu sekali lagi sebelum memutuskan untuk berlari ke arah pintu dan membukanya.

"Ellena apa yang kau---"

"Sialan kau Edward. Kau benar-benar ingin pergi meninggalkan Ellena sekarang?" Tanya Harry dengan nada sarkastik. Matanya mendelik melihat tajam pada saudara kembarnya itu. "Ayah akan mengirim kita ke London akhir musim panas ini, kami berharap kau bisa membujuk beliau."

Edward terlihat bingung seketika. Layak pohon rapuh tertiup angin kencang, tubuh Ed terasa terhempas. Mengapa sekarang giliran Ed meninggalkan Ellena? Ini semua diluar dugaan. Dia tahu jika Tuan Anderson tidak segan membatalkan kontrak kerja dengan perusahaan Ayahnya mengingat Ed berniat menggagalkan pernikahaan Ellena dan Jack.

Apa yang bisa dilakukan Edward? Terdiam takkan menyelesaikan masalah. Ellena menepuk pundak Edward, mengisyaratkan untuk tenang. 

"Kelsey sakit keras. Kurasa aku tak bisa meninggalkan dia. Kels akan sangat terkejut jika aku memberi tahu semua ini. Kuharap kau mengerti Edward." Pinta Marcel. "Aku tahu kau juga tak ingin meninggalkan Ellena."

"Fuck, mengapa kalian tak mengerti ini??" Bentak Edward tiba-tiba saja. "Kau pikir aku melakukan ini untuk apa? Untuk tetap tinggal bersama Ellena tentu saja! Ayah dan Anderson bekerja sama, Anderson menawarkan kontrak menanamkan saham asal aku dan Ellena putus! Apa yang dapat kuperbuat?? Selama ini kalian memang tak tahu apa-apa tentang Ayah. Tentang aku dan Ellena."

"Benarkah itu, Ed?"

Edward mengangguk pada Ellena yang menanyakan kepastian. 

"Tak ada yang dapat kulakukan. Sebaiknya relakan saja semua. Aku tak bisa lakukan apapun." Jawab Edward kemudian. 

Ia harus pergi sekarang. Meninggalkan Ellena. Berpisah dengan gadis yang dia cintai sejak lama untuk kedua kali. 

"Edward, mungkin ini saat yang tepat untuk mengatakannya. Ketika aku akan pergi ke London waktu itu, yang kurasakan hanyalah kehampaan. Bahwa aku akan meninggalkanmu, aku takut jika tak ada seorang pun disampingmu, lalu aku tahu kalau Harry dan Marcel selalu ada disampingmu sebagai saudara dan juga Sienna," Mereka bertiga tercengang akibat pernyataan Ellena. "jangan terkejut. Aku tak marah. Aku hanya sedikit terkejut karena ada seseorang yang akhirnya menggantikanku. Selama ini tak ada satu pun orang mengerti Edward sepertiku, lalu tiba-tiba saja seorang gadis datang dan menyadarkanku kalau aku tak ada apa-apanya."

"Maafkan aku Ellena. Aku sungguh minta maaf. Ini salah---"

"Tidak-tidak. Jika aku jadi kau, aku pasti akan membenci orang yang meninggalkanku tanpa kabar lalu kembali tanpa kabar pula. Sienna orang baik sebab dia selalu disisimu kemudian pergi begitu saja ketika aku kembali. Aku yang sangat jahat disini. Maka dari itu, biarkan aku yang menyelesaikan ini semua, tinggalah disini atau pergi kemana saja yang kalian mau. Aku akan menikah dengan Jack kuharap ini belum terlambat."

"Bagaimana kau bisa melakukan itu padaku, El? Aku mencintaimu dan kau akan menikah dengan orang lain?" Keluh Edward tak tahan lagi. Air muka Edward cemas dan takut membayangkan Ellena berdiri di altar bersama pria lain.

"Ini adalah ucapan terima kasihku. Dan, kumohon Edward berbahagialah bersama orang yang benar-benar mencintaimu, yang benar-benar perduli terhadapmu. Ingat bahwa aku selalu mencintaimu."

"Ellena--" Harry seperti ingin mengucapkan sesuatu namun batal. Harry yakin Edward kali ini hancur.

"Baiklah ayo kita pulang sekarang!" Teriak Ellena begitu bersemangat dan tersenyum pada Edward.

Here we go guys enjoy dont forget vote and comment okie <3


The Triplets // harry stylesBaca cerita ini secara GRATIS!