Our First Night

12 0 0
                                        

"Mm.. aduh. Jam berapa.. sih?"

Ia terbangun. Semuanya masih buram, gadis ini atau tepatnya wanita ini, tidak tahu sekarang dimana Ia berada, dan telah bermalam dengan siapa. Yang tersisa samar di ingatannya adalah kenyataan bahwa Ia mabuk berat saat sedang minum sendirian, dan sudah tidur dengan entah siapa pria yang sedang tertidur pulas di sampingnya.

Leandra Vivienne Judith. Lana, akrabnya, adalah seorang akuntan dari suatu perusahaan yang juga merangkap sebagai freelance designer dengan production house miliknya sendiri. Gaji tahunan Lana sudah menyentuh digit tiga, pekerjaan sampingannya sebagai desainer juga menggeret keuntungan besar, hasil karyanya yang apik berhasil membawa namanya, terkenal sampai ke target pasar internasional. Di umurnya yang memasuki awal kepala tiga, sudah dua properti ada di bawah namanya, Leandra V. J.

Soal investasi dan keuangan, Lana tidak perlu memikirkan apa-apa. Hasil kerja kerasnya sejauh ini telah memberikan sedikit rasa manis walau Ia masih memiliki ambisi yang belum tercapai. Work-life Lana stabil, social-life Lana juga aman. Relasinya banyak, menguntungkan baik bagi Lana si pekerja, ataupun Lana sebagai sosialita di kehidupan pribadinya. 

Fisik Lana sendiri bisa dikatakan ideal, hasil dari gaya hidup sehatnya selama ini. Ia tidak percaya pada embel-embel "genetik bagus" atau obat-obatan tertentu. Lana selalu menyempatkan diri untuk berolahraga, juga memiliki pola makan yang seimbang. Ia memiliki cheat day, dan makan mi instan malam-malam adalah pelarian favoritnya ketika lelah pulang lembur kerja. Tidak ada diet ekstrem ataupun olahraga yang berlebihan. Semua itu berproses. Slow but sure, pelan tapi pasti.

Posturnya yang tinggi semampai sering mendatangkan job sebagai talent komersial, posenya sering terpampang di billboard ataupun web dari suatu brand. Bisa dikatakan Ia adalah talent model lepas yang tidak terkait dengan suatu management. Ia berpose hanya ketika senggang dari kesibukannya sebagai akuntan dan desainer. Seringkali hanya membantu kalangan teman-teman yang sedang merintis bisnis clothing. Walaupun ini adalah pekerjaan sampingan, Lana cukup selektif, Ia tidak pernah tidak teliti untuk memilah brand yang menawarinya pekerjaan.

Hal yang tidak jarang dibicarakan oleh orang-orang terdekat Lana hanya satu. Bagaimana wanita ini masih single di umurnya yang sudah masuk kepala tiga?

"Jam dua pagi..? Oh my God I was drunk as hell." Ia bergumam sembari menyisir rambutnya panjangnya dengan jari, mencoba mengumpulkan separuh kesadarannya yang entah ada dimana karena dahsyatnya alkohol semalam.

Lantas, apa yang membuat Lana si-hampir-sempurna ini terbangun berantakan dengan orang asing sebagai teman tidurnya? sedikit yang tahu, Lana merasa bahwa Ia kurang beruntung dalam takdirnya di percintaan. Mantan-mantannya selalu jatuh pada dua opsi : minder, atau bajingan.

Entah perasaan rendah diri bahwa Lana si pacar perempuan lebih 'sukses' hingga si minder harus mencari selingkuhan yang lebih 'rendah' agar terpuaskan egonya. Atau si bajingan yang merasa bahwa Lana ini harus 'dikalahkan', dengan cara membuat Lana jatuh cinta sendirian, membuat Lana 'bergantung'. Entahlah, Lana sendiri hanya ingat bahwa mantan pacarnya yang baik adalah mantannya sewaktu SMP, kalau tidak salah sekarang orangnya sudah meninggal.

Pacar terakhirnya yang sekarang sudah berstatus mantan, Romeo namanya, berhasil membuat satu tamparan melayang taktala Lana yang hendak memberikan surprise monthly anniversary memergoki dirinya sedang berciuman panas di meja kantornya dengan work partner, katanya.

Dan begitu saja, Romeo yang berhasil membuat Lana menjauh, melakukan pilihan bodoh yang mungkin membuat Lana menyesal nanti. Nanti, sekarang Lana hanya ingin alkohol dan tidur.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Jul 17, 2024 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

TurnoverWhere stories live. Discover now