"Sial, aku kapan sih bisa balik dari sini." Ucapnya kesal, menatap keliling ruangan.
"Lu gabakalan bisa sembuh kalau marah marah gitu, apalagi sampe ngumpat, istighfar dek siapa tahu besok mati." Tiba tiba ada cowok yang datang menggunakan kursi roda.
Alana noleh, dia ngerutin alisnnya antara kesal dan heran.
"Kak Mahen kesini juga, sakit apa?"
Alana mengabaikan omongan Mahen yang agak gila itu, wajahnya yang tadi di tekuk kini penuh sinar bahagia.
"Rahasia."
"Ih ngeselin banget." Mahen gapeduli dia julurin lidahnya lalu cabut gitu aja, ngebuat Alana kesel setengah mati tapi kayaknya cinta dia lebih besar daripada kekesalannya.
Alana menatap obat di nakas, dia menghela nafas pelan sebelum menelannya, Alana benci obat.
Setelah meminum obat Alana pergi keluar dengan infus yang ia pegang, duduk di kursi taman rumah sakit.
"Nih." Dan tiba tiba ada cowok di sampingnya yang menawarkan roti.
"Gue tahu lu gak suka obat."
Alana menoleh kesamping, dan dia kesulitan menebak karena orang itu memakai masker, cowok itu terkekeh ia mendekatkan wajahnya lalu membuka maskernya. Ketika Alana tahu ia langsung menjauhkan wajahnya.
"Kak Mahen stop bikin aku suka sama kakak." Mahen cuman ngangkat alis.
"Siapa peduli?, lu suka sama gue itu, bukan urusan gue."
Jahat banget, tapi Alana gak gentar.
"Oh ya, dan aku gabakalan berhenti ngejar kakak."
Alana pergi gitu aja, lalu ia berhenti ketika Mahen berujar.
"Gue takut lu sakit hati di akhir Na."
***
Alana menghentikan sepedanya di gereja, sebenarnya di depan gerbang gereja.
Alana tersenyum ketika melihat Mahen yang tengah mengenakan kemeja dan celana berwarna navy.
"Kak Mahen." Alana melambaikan tangannya dan sukses di notice Mahen.
"Lana, lu ngapain kesini."
Alana nyerahin kotak kecil.
"Ini buat kakak." Mahen menerimanya
"Buka." Mahen membukanya yang ternyata isinya adalah gelang jam.
"Makasih. Lu masih suka sama gue?"
Tanya Mahen dan Alana mengangguk.
"Tempat ibadah kita aja beda Lana, gimana tuhan mau mempersatukan kita?"
"Gatau..."
"Tapi aku cuman mau kak Mahen, aku pengen setidaknya sekali seumur hidupku ada kakak di dalamnya."
***
