Part 7: The Last Episode [7]

254 7 0

Keduanya duduk disebuah sofa panjang yang disediakan oleh kafe itu. Tak ada yang saling melepaskan pelukan.
Jong Hyun terus menenangkan Yura, tak henti-hentinya ia mengecup dahi Yura, menepuk-nepuk halus punggung Yura.

"Oppa, aku tak siap untuk berpisah".

Jong Hyun menghebuskan nafasnya pelan. Hatinya sangat hancur mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Yura.
"Aku takkan meninggalkanmu. Hanya saja, keadaan kita takkan bisa seperti ini lagi", kata Jong Hyun.
Yura melepaskan pelukannya perlahan, membuat Jong Hyun merasa aneh.
"Aku lapar"
Jong Hyun tertawa terbahak-bahak. Kalimat itu sangat mengubah atmosfer mereka. Bahkan para kru ikut tertawa. Yura hanya tertawa malu.
"Hahaha. Kau ini lucu sekali. Baiklah, ayo kita pindah ke meja sebelah sana", kata Jong Hyun, lalu menarik Yura dari sofa panjang itu.

***

Keduanya duduk berhadapan di sebuah bangku kayu. Dimejanya terdapat lilin kecil berbentuk 'love' dan bunga mawar.
Sambil menunggu pesanan mereka, Jong Hyun menarik tangan Yura dengan lembut, lalu menggenggamnya serta menciuminya.
"Aku suka perlakuanmu padaku hari ini, oppa. Kau sangat berbeda. Ada apa denganmu?", ujarnya. Ketika Jong Hyun ingin menjawab, tiba-tiba makanan mereka telah diantar.
Jong Hyun mulai melepaskan genggaman tangannya, "makanlah dulu, baru kita lanjutkan perbincangan kita tadi", katanya, lalu mengelus rambut Yura.

Yura makan dengan lahap, mungkin karena ia terlalu lapar, membuat Jong Hyun tersenyum melihat kelakuan istrinya yang sangat menggemaskan.
"Yah, oppa! Berhenti memandangiku dan makanlah makananmu", kata Yura sambil memelototinya dengan canda.
Jong Hyun mengiyakannya dengan anggukan dan senyum lebar.
Mereka makan tanpa ada satupun yang berbicara. Sangat sunyi. Namun Yura terlihat makan dengan buru-buru. Entah ia kelaparan atau ada sesuatu yang ingin ia bicarakan.
"Oppa, makananku sudah habis. Sekarang ceritakan padaku mengapa kau sangat berbeda hari ini", katanya tiba-tiba mengagetkan Jong Hyun yang sedang makan.
"Biarkan aku menghabiskan makananku dulu", katanya pelan, lalu memakan suapan terakhirnya.

***

Jong Hyun mengajak Yura duduk di bangku taman yang ada di kafe itu. Duduk bersebelahan namun tak bersentuhan.
"Jadi, Oppa, wae?" tanya Yura sambil memandang lurus kedepan.
Jong Hyun menghembuskan nafasnya, mengumpulkan segala keberanian untuk menjawabnya.
"Apa salah jika aku bersikap baik padamu?", tanyanya, membuat Yura sedikit jengkel.
Yura menghentakkan kakinya pelan.
"Sejak satu jam yang lalu sampai detik ini aku menunggu alasanmu, hanya itu jawabanmu?", tanyanya kembali, lalu memalingkan wajahnya ke sisi lain.
Jong Hyun menggigit bibirnya. Ia merasa terlalu bodoh.
Dengan segenap keberaniannya, ia memandang kearah Yura.
"Aku hanya ingin bersikap baik pada orang yang kucintai".
Jawaban itu membuat seluruh orang yang ada disana menahan nafas, terkejut. Namun tidak dengan Yura.
Yura memang cukup terkejut dengan kata-kata yang dilontarkan oleh Jong Hyun, tapi ia malah mengeluarkan setetes air matanya. Entah itu airmata kebahagiaan atau air mata kesedihan.
"Waktu kita tinggal 5 menit lagi, apalagi yang mau kau ucapkan?", tanyanya langsung menghadap dan menatap Jong Hyun lekat, membuat Jong Hyun merasa lemah.
Jong Hyun langsung menariknya kepelukannya. Jong Hyun menangis dan seketika semua kru merasa ikut bercampur aduk emosinya. Begitupun dengan Yura, ia sangat merasa hancur dan tak pernah sekalipun dalam hidupnya ia merasa seburuk ini. Ia harus menerima kenyataan.
"Gwenchana, Oppa, gwenchana..", Kata Yura dengan suaranya yang masih bercampur dengan tangisan.
"Mianhaeyo, jeongmal mianhae. Maafkan atas perilakuku yang membuatmu tersiksa. Maafkan aku, aku menyesal", ujar Jong Hyun yang masih menangis juga.
Penuh tangis, penuh sakit. Itu yang dirasakan mereka berdua.

"Waktu kalian tinggal satu menit lagi", ujar sang produser mengingatkan mereka.

Jong Hyun mengambil secarik kertas dari kantong celananya. Itu adalah kertas yang tadi pagi ia isi. Ia memberikannya kepada Yura.
"Bukalah nanti ketika kita berpisah malam ini. Hubungi aku jika ada sesuatu yang masih mengganjal di hatimu. Terima kasih atas 365harinya. Karenamu, aku bahagia. Aku.. mencintaimu"
Yura menunduk, menatap kertas lusuh itu. Ia tak mau menangis. Tak mau menangisi keadaan ini.
"Aku akan selalu menghubungimu jika aku membutuhkanmu, bahkan jika aku merindukanmu, kita masih bisa menjadi teman, kan?" jawab Yura sambil tersenyum polos seakan tak pernah terjadi apapun diantara mereka.
"Bahkan aku bisa lebih dari yang kau mau, Ah Young-ah", ujarnya, membalas senyuman Yura dengan hangat.
Yura mengangguk-angguk,

"Terima kasih telah menjagaku selama ini. Aku juga mencintaimu, Jjong Oppa".

We Can't DenyRead this story for FREE!