26 September 2023
Hai, apa kabar?
Jumpa lagi dengan cerita baru dari saya, NinsJo. Pasti bakal ada yang demo nih karena kemarin udah janji bakal lanjutin Hard to Believe, eh malah bikin cerita baru. Habis gimana ya...susah jelasinnya. Intinya, untuk cerita Hard to Believe bener-bener kena writer's block atau kebuntuan menulis 😖 padahal setelah kelar Predestination udah mantengin part htb untuk selanjutnya dan siap nulis, tapi tetep aja berasa kehilangan kemampuan menulis. Akhirnya, saya memutuskan untuk mencari pelampiasan dengan bikin cerita baru.
Harap dimengerti ya man teman penggemar Juan dan Electra 🥺 Kalau nanti tiba-tiba dapat pencerahan, janji bakal dilanjut kok htbnya. Terima kasih atas pengertiannya.
Sekarang beralih ke cerita ini yukk.....
Cerita ini bertema sama seperti karya Author yang sudah-sudah.
Perpindahan jiwa— transmigrasi— reinkarnasi— rebirth— relife— time travel, semacam itu pokoknya.
Btw, cerita ini adalah cerita fantasi. Yang namanya genre fantasi pasti berhubungan dengan khayalan atau sesuatu yang tidak benar-benar ada dan hanya ada dalam benak atau pikiran saja. Jadi, apapun imajinasi Author yang tertuang pada story ini semoga dapat diterima baik oleh pembaca sekalian ☺️
Sebelum baca vote dulu yuk 😊 dan jangan penuhi paragraf dengan komen kalian 🫰🏻
────────────────────────────────────────────
"Buku apa yang kau baca, Brisia?" tanya Isvara ketika memasuki kamar keponakannya yang berusia 10 tahun itu.
"Tidak tau. Aku mengambilnya dari kamar aunty." balas Brisia yang kini dalam posisi tengkurap di atas ranjang. Tangannya sibuk membolak-balikkan halaman buku yang menjadi pusat perhatiannya.
Begitu menghampiri Brisia, Isvara dapat melihat buku yang dibaca Brisia tampak usang dan warna kertasnya sudah kecoklatan. Isvara membalikkan buku itu hanya untuk melihat sampulnya.
"Buku ini tidak cocok untukmu." Isvara mengambil paksa buku itu.
"Aunty...." protes Brisia. "Nama aunty ada di dalam buku itu. Aku ingin membacanya."
Isvara menggelengkan kepala. "Kau boleh membaca buku ini saat usiamu menginjak 17 tahun."
"Aunty tidak asyik." Brisia mencebikkan bibirnya.
"Lebih baik membaca buku pelajaran saja, supaya kau makin cerdas dan nilaimu paling unggul di kelas." Tangan Isvara mengacak-acak puncak kepala Brisia sebelum ia berjalan menuju pintu, keluar dari kamar Brisia untuk mengembalikan buku yang ia bawa ke kamarnya.
Isvara melarang Brisia membaca buku ini karena di dalamnya mengandung adegan kekerasan dan beberapa hal lain yang tidak seharusnya dibaca anak berusia 10 tahun. Isvara sebagai pemilik buku tentu saja pernah membaca buku usang ini. Kakek buyutnya yang memberikan buku ini padanya dan hingga sekarang Isvara masih menyimpannya.
Ucapan Brisia yang mengatakan namanya ada di dalam buku ini adalah benar adanya. Dan Isvara hanya menganggapnya sebagai kebetulan semata. Mungkin alasan kakeknya memberikan buku ini padanya juga karena salah satu tokoh memiliki nama yang sama dengannya.
'The Kingdom of Amalis' adalah judul yang tertera pada sampul depan buku tersebut. Isvara tentu saja menganggap buku ini adalah buku fiksi, sebab tidak ada Kerajaan bernama Kerajaan Amalis di sepanjang sejarah ia hidup di dunia ini. Buku ini bercerita tentang Kerajaan Amalis di bawah masa kepemimpinan Raja Zeroun Xerxes Ivanovski. Alur yang disajikan tidak hanya berisi tentang peperangan yang terjadi antara Kerajaan Amalis dengan kerajaan yang berniat merebut wilayah kekuasaan, namun di dalamnya juga dibumbui dengan kisah cinta segitiga antara Raja Zeroun dan kedua selirnya. Yakni selir Isvara dan selir Galina.
KAMU SEDANG MEMBACA
Miracle of Life
FantasyBukannya pergi ke alam baka setelah insiden penembakan yang ia alami, namun pada saat membuka mata, pemandangan yang pertama kali dilihatnya adalah wajah seorang pria rupawan yang membayang tepat di atasnya. Ia dan pria itu sama-sama telanjang dan p...
