lowercase intended.
────
pagi menjelang siang dengan cuaca terik ini sangat cocok untuk bermalas-malasan di rumah saja. cuaca di ibukota belakangan ini jauh dari kata baik. bahkan terik matahari pun seperti ingin menyaingi kota bekasi.
bahkan air conditioner yang biasanya menyala hanya pada saat malam hari saja kini terpaksa harus dinyalakan akibat panasnya cuaca saat ini.
abim yang sedang duduk manis di sofa ruang tengah dengan AC di atasnya itu menatap penuh minat ke arah televisi di depannya yang sedang menayangkan sebuah seri NCIS season terbaru.
ada untungnya hari ini merupakan hari sabtu, itu artinya tidak ada jadwal perkuliahan yang mengharuskan pemuda tersebut untuk berganti baju dan melawan sinar matahari yang terik beberapa hari ini.
suara pintu diketuk membuat abim menolehkan kepalanya, ia melirik jam dinding yang ada di atas televisi. pasti si hares, pikirnya.
pintu masih diketuk secara konstan membuat abim menautkan kedua alisnya. ia mengambil ponsel yang ada di sebelahnya, mencari icon telepon atas nama hares partner dan segera menekannya.
“halo? kamu dimana?”
“ini lagi di depan pintu.”
“barang bawaan kamu banyak?”
“gak sih, cuma mau ngetes aja kamu denger apa gak.”
“kurang kerjaan banget.. ya udah masuk aja.”
────
“aku bawa bahan-bahan nih,” tutur hares, menaruh dua kantong barang belanjaan di depan abim yang masih duduk nyaman di sofa.
bola mata abim membola ketika melihat isi kantong belanjaan yang penuh itu, “kita belum nikah loh? kok banyak banget beli bahan? aku ganti deh duitnya.”
hares menggeleng, ia menolak keras ketika abim ingin bangkit dari tempat duduknya. hares menahan lengan pemuda itu untuk tetap duduk manis disana.
“gak usah di ganti, aku yang mau kok.”
“ya tetep aja?! kamu beli pake duit orang tua kamu bukan uang kamu sendiri.”
“dibolehin mami kok, abim.”
abim mendelik, “gak percaya aku.”
hares mengangkat kedua bahunya tidak acuh ketika jibran masih kekeuh ingin mengganti uang belanjaan. padahal kan sudah dibilang kalau dirinya lah yang mau, dirinya lah yang inisiatif ingin membeli.
apa susahnya untuk menerima?
“oke aku paham sih kamu orang kaya. ngeluarin duit untuk hal ini pasti gampang untuk kamu, tapi bisa gak kamu kayak gini terus?”
“oh kamu suka?”
“BERCANDA SUMPAH! GAK, AKU GAK SUKA YA. cuma kalau dikasih gratis ya pasti gak nolak.”
hares tersenyum tengil sebagai respon, “dasar.”
setelah itu abim langsung membawa dua kantung belanjaan ke area dapur, menaruhnya ke tempat semestinya. meninggalkan hares yang kini sudah duduk bersantai di sofa.
“aku masak aja kali ya res? kamu mau apa?” tanya abim, ia sudah menelaah satu kantung bahan yang dibeli oleh hares dan diperkirakan itu bisa habis dalam waktu dua minggu atau tiga minggu sih. banyak ya. mau juga gak kalian?
hares menoleh ke arah dapur, melihat abim yang sudah membuka kantung belanja yang memang untuk mereka masak hari ini, “whatever you want, aku pasti bakal habisin kok.” abim mengangguk saja.
“mami kangen masakan kamu, dia mau dimasakin lagi.” hares kini mendekat ke dapur, tangannya bersidekap di dada, sorot matanya mengamati satu kantung belanja yang belum disentuh oleh abim.
abim yang sedang cuci tangan itu menoleh, bola matanya mengerjap tidak percaya dengan kalimat yang baru saja terlontar dari bilah bibir hares.
“mau gak masak buat mami?” tatapan mereka bertemu, sorot mata tajam hares sukses masuk ke dalam jiwa jibran yang lemah.
“b-boleh. mau dimasakin apa?”
“coba buka deh kantung yang satu lagi.” tanpa pikir panjang abim pun membuka isi belanjaan satu lagi, bola matanya mengerjap melihat bahan yang dibeli hares. “kalau diliat dari bahan bumbu dapur harusnya kamu bisa nebak sih bim mami mau apa, ya kan?” ucap hares.
abim tersadar ketika melihat ada udang disana, ah mau dibuatkan udang saus padang?
“kamu mau bantuin aku gak?”
hares menyeringai, “sure. i’ll become your assistant today.”
────
“ini serius aku gapapa pake baju kamu?”
“what’s mine is yours too, abim.”
“ya tapi tetep aja hares.. liat nih baju kamu kebesaran di aku, jadinya kelelep.”
“gak kebesaran tuh? lucu malah kayak anak kecil kamu. mau kemana dek bayi? umurnya berapa?”
abim yang cemberut tentu membuat jiwa iseng hares semakin menggebu, ia malah mencubit pipi abim sekaligus di unyel-unyel untuk melihat ekspresi yang diberikan pemuda itu kepadanya.
jadi begini ceritanya, semua berjalan lancar sebelum ada insiden dimana baju abim kecipratan saus padang yang lagi hares aduk. mungkin hares ngaduknya pake kekuatan dalam, jadi kaos human made punya abim jadi kotor.
nah, karena hari ini abim diculik ke apartement hares, alhasil pemuda tan itu tidak membawa apapun selain ponsel. jadi, terpaksa dia pinjam baju milik hares. karena proporsi badan yang sangat berbeda, alhasil abim pakai baju oversize milik hares yang mana bikin dia jadi menciut.
“haress mah... aku bukan bayii.” abim merengek dibuatnya. ia tuh sebenernya mau dipanggil bayi, apalagi sama hares tapi ini dia malu banget.
hares terkekeh, “iya aku percaya... bayi gede.”
“hares kita by one aja deh sini!” sungut abim kepalang kesal membuat hares terpingkal. abim yang melihat respon tersebut pun mendengus kesal, ia merotasikan bola matanya sebelum meninggalkan kamar hares.
“ayoo ke rumah mamii, kita anter udang saus padangnya!!” suara abim terdengar keras, membuat hares berhenti tertawa. ia menyusul abim yang kini sudah ada di dapur miliknya.
“mami lagi kesini kok.”
bola mata abim membulat, “yahh aku ganti baju lagi dong ini. masa ketemu mami pake baju kegedean giniii.”
“gapapa dong? mami pasti makin gemes sama kamu. nanti habis itu kita dinikahin deh.”
plak
“halu mulu kamu!”
end.
a.n memories resmi selesai, trims ol udh mau baca cerita ini. kalau mau baca cerita lain hajeongwoo bisa mampir ke akun twitter ku @ 21141O ( O kapital ya bukan 0 ) see u there !! <3
KAMU SEDANG MEMBACA
memories ★ hajeongwoo
Fanfictionisinya cerita pendek haruto dan jeongwoo. bxb. in hajeongwoo area. if this story not your cup of tea, then you can leave <3
