“mau jadi jagoan apa gimana?”
jose tertohok ketika ucapan itu terlontar dari mulut hadian, pemuda itu memandangnya dengan tatapan menilai. seolah tingkahnya kali ini sangat parah.
“sakit iyaann” jose merengek. tidak peduli dengan tatapan menilai tak suka dari pacarnya itu.
hadian memutar bola matanya malas, ia mendekat menuju jose yang masih berdiri di depan pintu kamar mandi miliknya. pelan-pelan iyan membuka kaos jose yang sudah kotor dan sedikit robek akibat aksi berantem gak jelasnya itu.
“mana yang sakit?” hadian bertanya. tatapan tak sukanya kini berganti menjadi khawatir akibat jose sesekali mengerang dan mengeluh perih.
“semuanyaaa iyaaann”
mulai. jose kumat lagi. hadian hanya bisa menghela napasnya menikmati pertujukan drama pacarnya itu. tidak berniat masuk ke dalam dialog.
hadian menekan luka pada bahu jose dengan telunjuknya yang dibaluti kassa. jose meringis sebagai respon, ia mendelik ketika hadian menatapnya kembali acuh.
“gausah ngeluh. pas di pukulin tadi gak ngeluh sakit, kan udah biasa.” jose tau, ucapan yang keluar dari mulut iyan itu merupakan sindiran keras untuknya karena tidak patuh. hadian sudah memohon kepadanya untuk mengurangi aksi berantem yang membuat dirinya bahaya. tapi sepertinya, jose lebih memilih abai.
hadian sudah selesai mengobati luka yang ada di tubuh jose, ia lega karena saat ini lukanya tidak separah dulu. tapi tetap saja, kulit mulus jose harus kembali memiliki bekas luka akibat sang empu. hadian sudah menyerah untuk menasehati. sepertinya memang jose lebih senang jika harus bertengkar seperti itu.
jose yang melihat tidak ada perubahan raut wajah dari hadian sontak mengatupkan bibirnya rapat-rapat. iyan kali ini hening, bahkan terlalu hening bagi seorang hadian. jose jadi bersalah. seharusnya ia tidak gegabah, seharusnya ia mendengarkan concern hadian tentang kesehatannya.
jose memperhatikan gerak-gerik iyan yang mulai menaruh kembali kotak P3K, lalu berjalan mengambil salah satu kaos milik pemuda itu. hadian meminjamkan kaos putih bercoraknya untuk jose pakai, ia melemparnya yang langsung di tangkap. setelah itu, tanpa suara hadian berniat untuk keluar dari kamar, meninggalkan jose di sana sendiri.
“iyan, aku—”
blam.
jose kembali mengatupkan bibirnya ketika hadian tidak berminat untuk menunggunya. perasaan bersalah kini muncul, hadian bahkan sejak tadi tidak memandangnya penuh cinta seperti biasa. kekasihnya itu bahkan enggan mengucap sepatah kata kepadanya. perasaan jose jadi gak nyaman.
jose memakai kaos pemberian iyan dalam diam. ia tidak mau keluar dari kamar sang kekasih, jose lebih memilih merenung di dalam kamar. karena ia hafal betul, jika jose menghampiri iyan di luar, itu artinya dirinya akan semakin di acuhkan oleh hadian. dan jose tidak mau hal itu terjadi.
susah payah jose menyusun kalimat permintaan maaf kepada hadian, memikirkan kalimat yang pas agar hadian bisa kembali percaya kepadanya. karena jose yakin, setelah hadian menciduk aksinya kali ini, radar kepercayaan hadian kepadanya pasti menurun. jose takut.
clek
pintu kamar terbuka kembali, menampilkan hadian yang masuk membawa dua gelas susu cokelat dingin untuk mereka. hadian berhenti di hadapan jose, menyodorkan satu gelas pada kekasihnya itu yang sedang duduk di kursi kamarnya. jose menerimanya, walau tidak berani menatap langsung ke arah hadian.
setelah itu hadian langsung saja menaruh susu cokelat miliknya di meja kecil yang ada disana. ia berjalan menuju meja belajarnya, menyalankan iPad miliknya. seratus persen mengabaikan jose disana.
“iyan.” suara jose nampak lirih. ia takut-takut memanggil nama sang kekasih yang sedang memberikan sikap acuh kepadanya.
hadian tidak menoleh, ia tetap fokus dengan iPadnya. sorot mata tajamnya tentu tidak luput dari pandangan jose, dan dia jelas tau ada kilatan amarah disana. dan itu semua karena jose.
“hadian.” kini jose memanggilnya sedikit lebih tegas, walau tidak dapat dipungkiri nadanya sedikit gemetar. ia memegang erat gelas yang ada di tangannya, bahkan tanpa sadar dirinya mengigit bibir bawahnya karena terlalu takut.
hadian menghela napas, “kalau udah enakan, pulang gih. ibu pasti nyariin.” mutlak. jose yang tadinya ingin melanjutkan kembali terdiam. hadian memintanya untuk pulang.
“aku gak mau pulang.” suara tegas jose sudah berganti menjadi lirih, parau, dan kecil. jose memandang hadian dengan tatapan nanar, kapanpun air mata miliknya bisa jatuh.
“iyaann,” panggilnya lirih. “iyaaan, a-aku mau minta m-maaf sama kamu.” pecah sudah. jose menangis di hadapan hadian. ia tetap menatap lurus ke arah hadian yang masih bergeming di tempatnya. “m-maaf udah b-bikin kamu jadi k-khawatir.”
hadian masih bergeming, ia tidak berniat untuk bangkit dan merengkuh pundak sang kekasih yang sudah menangis hebat. ia masih ingin mendengar penjelasan jose lebih banyak. ia ingin tau, apakah jose menyesal setelah ini?
“k-kalau aku nurut s-sama kamu, harusnya a-aku gak harus dapet l-luka kayak gini,” jose menunduk, berusaha menahan air matanya yang keluar lebih banyak. “a-aku nyesel iyan. aku nyesel kenapa bisa diboongin s-sama mereka. s-seharusnya aku bisa baik-baik aja”
setelah mengucapkan itu, air mata jose semakin mengalir banyak. gelas yang menjadi objek dirinya remat kini sudah pindah, diganti dengan pelukan hangat dari hadian. ketika menghirup aroma wangi yang familiar, jose langsung mengeratkan pelukannya pada sang kekasih. ia menangis sejadi-jadinya di dalam pelukan hadian.
“masih mau lagi gak?”
jose menggeleng ribut, ia semakin menenggelamkan wajahnya pada ceruk leher hadian. tangisannya menjadi sedikit mereda karena sang kekasih mulai mengelus punggung miliknya pelan.
hadian menangkup pipi tembam jose, mendengus geli melihat air mata yang masih mengucur dari mata jose itu. “sok gaya berantem, di diemin pacar belum ada sejam udah nangis”
jose semakin mengerucutkan bibirnya, ia merengek kepada hadian. “iyaaann, aku minta maaf.” hadian terkekeh kemudian mengangguk, menerima permintaan maaf jose.
“tapi kamu tau kan? rasa kepercayaan aku ke kamu.” hadian sengaja menggantungkan kalimatnya untuk melihat reaksi dari jose.
jose yang menangkap sinyal itu mengangguk lesu, “aku bakal bikin kamu percaya lagi sama aku seratus persen”
“pede banget?”
“KAK IYAANN.” jose merengek lagi. bahkan, kata mutiara yang selalu hadian harapkan itu muncul untuk pertama kalinya dari mulut jose.
“eh?! tumben banget.” iyan memandang jose cukup skeptis, sedikit tidak percaya kalimat yang baru saja keluar dari bibir sang kekasih.
jose yang melihat raut keheranan itu hanya bisa tersenyum lebar, ia mendongakkan kepalanya untuk menatap netra hadian di atas sana. “i told you already, kak iyan. aku bakal bikin kamu percaya lagi sama aku”
“curang banget kamu, pake manggil aku kayak gitu biar cepet dimaafin”
jose hanya cengengesan, “gak kok! lagipula kak iyan lebih tua dari aku, iya kan?”
hadian mengigit bibir bawahnya menahan gemas akan tingkah jose kali ini, lengannya terulur untuk mengusap bekas air mata yang ada di pipi pacarnya itu. pikirannya mendadak kosong, efek dipanggil ‘kak iyan’ sama pacarnya itu.
“kak iyan ga nyaman ya?”
“kata aku kamu diem deh, daripada kamu nanti aku culik terus aku bawa jauh-jauh dari sini.” jose langsung mengatupkan bibirnya. ia jadi ikut kepikiran. apa panggilan tadi cukup sakral bagi iyan sampai reaksinya seperti err.. gimana ya bilangnya.
“kamu bengong mulu, kenapa?” melihat raut melamun hadian tentu membuat jose sedikit khawatir. takut pacarnya itu kenapa-napa.
“panggil aku kak iyan lagi ya. aku suka.” pernyataan itu sukses membuat jose melongo di tempat. tak lama ia mengangguk mengiyakan saja, mungkin misi kali ini sedikit lebih mudah karena hadian nampak lemah dipanggil dengan panggilan ‘kak’ oleh dirinya.
a.n halo hehe, pelan-pelan ya aku lanjutin <3
KAMU SEDANG MEMBACA
memories ★ hajeongwoo
Fanfictionisinya cerita pendek haruto dan jeongwoo. bxb. in hajeongwoo area. if this story not your cup of tea, then you can leave <3
