1. Sepatu Cinderella [Versi Revisi]

17.1K 976 22

Suara ringtone bernada manis mengganggu kegiatan Paras yang sedang mengecat kuku. Sambil menggerutu dalam hati, gadis itu melangkah ke nakas lalu mengangkat ponselnya dan mengapitnya di bahu.

Hari minggu adalah hari libur tentunya. Free day. Waktu yang paling tepat buat me time. Dan dengan alasan apa bosnya menelepon sepagi ini?

Paras berdecak sebal ketika suara di ujung sana berbicara tanpa ba bi bu dulu.

"Paras sayaaang, lo dengar gue nggak? Gue mau minta tolong. Cepetan ke kantor ya, babe. Gue butuh lo sekarang!"

Panggilan ditutup.

Demi Tuhan, Paras sama sekali tidak dibiarkan menyela. Itu bukan permintaan minta tolong. Melainkan perintah yang jika dibantah, akibatnya pekerjaan melayang.

"Dasar nenek sihir!" umpatnya setengah mendesis.

Dengan setengah hati, Paras meletakkan cat kukunya dengan kasar, lalu melompat ke arah lemari, mengganti pakaiannya kilat. Ia memilih t-shirt oranye berlengan pendek, dipadankan jeans abu-abu yang baru dibelinya sebulan yang lalu. Tak lupa, dia mengaitkan tali converse hitamnya dengan cepat. Gadis itu langsung ngacir tanpa mengunci pintu kamar.

Di perjalanan, mobil yang dikendarai Paras terpaksa melaju lambat. Di depan sana sebuah truk pengangkut telur terbalik dan mengakibatkan macet panjang. Paras berdecak sambil mengklakson berkali-kali. Hari ini benar-benar sial! gerutunya pada diri sendiri.

Suara ponsel berdering terdengar lagi dari dalam tasnya. Musibah apa lagi ini?

Army calling...

Paras mendesah kuat. Pria itu lagi. Apa sih maunya? Apa tidak cukup dia menyakiti hati Paras?

Gadis itu memilih mengabaikan panggilan tersebut. Tapi, ponselnya terus berdering dan membuat kepalanya semakin pusing.

Baiklah, dengan pertimbangan yang cukup kuat, dan setelah meyakinkan diri sendiri, Paras akhirnya menjawabnya.

"Hm," gumamnya malas. Suara di ujung sana terdengar lega.

"Akhirnya diangkat juga. Gue pikir lo masih ngambek, Ras?"

Paras mendelik. Ia melajukan kembali mobilnya sedikit demi sedikit. Kesabarannya benar-benar teruji saat ini. Ditelepon bos, terjebak macet, bahkan ditelepon mantan di hari yang sama. Rupanya semesta sedang senang mengaduk-ngaduk perasaannya.

"Mau ngomong apa?" tanyanya ketus.

"Hari ini lo libur, kan? Gue mau traktir lo makan siang. Ya, itung-itung buat permintaan maaf gue."

Wow, semudah itukah caranya minta maaf?

"Gue sibuk!"

Panggilan diputus Paras secara sepihak. Tak lama, ponselnya kembali berdering. Tanpa melihat nama si penelepon, emosi Paras akhirnya bangkit.

"Lo punya kuping nggak sih? Hah! Gue sibuk. Dan gue nggak mau ketemu lo lagi. Jangan ganggu gue lagi!" teriaknya kencang melebihi suara klakson di samping dan belakang mobilnya.

"Mau gue pecat?" suara tegas di ujung sana membuat Paras mengernyit. Sejak kapan suara Army berubah?

"Paras yang cantik dan budiman, jangan sampai kesabaran gue habis dan akhirnya mendepak lo dari kantor gue! Cepaaaatt ke kantooorr!!!"

Sial!

***

Paras memarkirkan mobilnya asal. Dengan cepat, dia berlari ke dalam kantor untuk menemui bos sekaligus sahabat, sekaligus musuh bebuyutannya itu. Paras cukup dekat dengan bosnya---Erlin. Ia yakin, Erlin akan mengamuk setelah ini. Erlin sangat tidak suka dengan keterlembatan dan jenis hal lainnya yang merugikan. Selain disiplin, Erlin juga wanita yang judes dan galak.

TENDER LOVE [COMPLETED STORY]Baca cerita ini secara GRATIS!