Hari itu adalah ulang tahun Harry, Edward, dan Marcel ke-5. Semua orang berkumpul di Rumah Charles yang sudah dihias sedemikian rupa untuk merayakan ulang tahun ketiga putranya. Anne berada di samping Charles sembari memeluk Harry, sedangkan Marcel berdiri ditengah-tengah dengan Edward. Harry yang lahir pertama kali, ada yang bilang jika yang lahir pertama kali adalah adiknya namun bagi Anne Marcel-lah putra terakhir.

Annie-saudara kembar Anne, juga hadir. Dengan Ansel, Ia datang jauh-jauh dari Inggris hanya untuk merayakan ulang tahun keponakannya.

"Oh Ya Tuhan, kau sudah sangat besar Edward!" Anne tampak gemas melihat Ed yang sedari tadi diam dipojokkan sembari menggenggam kemeja ayahnya. "Apa dia tak apa? Mengapa hanya diam dipojokkan?"

"Dia inginkan sebuah miniatur helikopter tetapi Charles lupa membelikannya. Bukankah dia sangat menggemaskan?" Anne berkomentar. Annie setuju pada pendapat saudara kembarnya itu. Edward terkadang bisa sangat manja dan cengeng saat tak dibelikan apa yang dia inginkan.

"Selamat ulang tahun, Harry, Edward, Marcel. Kalian beruntung diberi umur panjang. Semoga kalian sehat selalu tak seperti Ibumu itu."

"Ansel!" Annie melirik tajam pada putra sematawayangnya. "Apa yang kau katakan?? Minta maaflah sekarang pada Bibi Anne!"

"Apa kau tak bisa mengajari putramu hingga dia berbicara sekasar itu?" Charles ikut andil. "Aku tahu dia tak memiliki bapak, tapi apakah seburuk itu kau mendidik Ansel?"

"Charles!" Pekik Anne buru-buru.

...

Blue POV

"Jadi ini adalah apartemenku. Anne dan Robin membelikan ini untukku lebih tepatnya. Disana ada kamar utama dan disebelah situ ada kamar yang tak berukuran terlalu besar." Ansel masih dengan koperku sembari menjelaskan isi apartemen yang Ayahku belikan. Agak sakit mengetahui dia bisa membelikan keponakannya apartemen namun tak bisa mengirimkan uang sepeser pun padaku.

Ruangan-ruangan di

cat warna putih tulang dengan dekorasi menggantung pada setiap dindingnya. Pantry yang berornamen kayu ditambah gelas-gelas berjajar rapi.

Ada figura foto di sudut-sudut ruang makan. Bisa kulihat, seorang gadis berambut coklat dipelukan Ansel begitu bahagia---Itu Jane. Lalu disebelah figura itu ada foto sewaktu Ansel kecil, kira-kira berumur 8. Raut mukanya agak sedih padahal ada pria tinggi dibelakangnya yang siap menjaga dari bahaya.

"Itu Ayahku." Aku sedikit terkejut ketika suara Ansel mengganggu pengamatanku. "Ayahku dulu sering kemari. Uh, aku pindah kemari saat usiaku menginjak 7 tahun. Ibu dan Ayah tidak menikah, mereka berpisah saat aku berusia 3 tahun."

"Maafkan aku."

Ansel menggelengkan kepalanya serta tersenyum menegaskan bahwa dia baik-baik saja. Aku pernah merasakan hal itu, tinggal oleh Ayah.

"Okay disini sudah tersedia banyak bahan makanan. Aku rasa kau tahu cara memasak atau paling tidak memesan makanan cepat saji?"

"Ya tentu. Tentu. Aku bisa memasak pasta. Kuharap aku tak banyak merepotkanmu, Ansel. Terima kasih ini lebih dari cukup."

Dia terdiam namun tersenyum. Mungkin dia brengsek sebab merebut kekasih sepupu sendiri tetapi tak bisa dipungkiri kalau lelaki tinggi dengan rambut kecoklatan itu memiliki sisi lembut. Sama saja seperti Edward dan Harry.

"Kau tahu, jika apartemen ini paling tidak memiliki pemandangan pantai yang bagus? Harganya tak terlalu mahal memang, tapi kami tak sengaja mendapatkan kemewahan disini. Mau kutunjukkan?" Tanya Ansel mengajakku. Oh ya tentu saja. Bagaimana melewatkan sehari tanpa memandang pantai?

Dia berjalan beberapa langkah di depan, kemudian membukakan pintu bercat kayu pernis. Angin laut menyambut kami dengan deburan kencang. Rambutku dan miliknya berterbangan disana-sini. Aku tertawa melihat Ansel dengan rambut menutupi seluruh wajah.

"Ini luar biasa hebat! Terima kasih, Ansel!" Seruku pada Ansel.

Setelah beberapa waktu kami menikmati pantai, aku memutuskan untuk membuat limun. Kami duduk berdampingan pada kursi santai sembari menikmati udara sekitar.

"Ini limunmu." Ucapku menyerahkan segelas penuh pada Ansel. Dia tampak tenang memandang langit yang agak berawan. Raut muka Ansel terlihat damai namun juga gembira dalam satu waktu. 

"Blue?" Aku menengok ke sebelah mendapati Ansel bangkit dari kursi untuk duduk menyamaiku. "Aku ingin bertanya sesuatu padamu. Sesuatu yang mungkin sedikit privasi. Maukah kau menjawabku?"

"Itu tergantung. Bagaimana jika pertanyaanmu menjebakku?" Tanyaku penuh selidik gurauan. "Misalnya pertanyaan seperti apa?"

"Apakah kau menyimpan rasa pada Harry?" 

Rasanya seperti ditendang tepat diperutku. Untuk apa dia bertanya seperti itu?

"Apa maksudmu?" Aku menaruh nada seolah-olah itu lelucon. Siapa yang tahu jika itu hanya lelucon? Namun Ansel menatapku serius. Dalam dan penuh keingintahuan. Sempat aku memalingkan wajahku atau ingin mengalihkan pembicaraan tetap saja raut muka Ansel begitu serius. 

"Aku tidak tahu. Aku tidak tahu apa yang kurasakan pada Harry. Terkadang aku merasa bahagia didekatnya, terkadang juga merasa kesal luar biasa karena tingkah Harry. Harus kuakui dia membuatku bingung."

Ansel menghela nafas. Seakan-akan sesuatu yang sangat buruk terjadi.

"Aku juga tahu jika kau menyukai Edward." Akunya--membuatku terkejut. "Tenang saja. Edward tak mengetahuinya."

"Aku sudah melupakan dia. Kurasa. Entahlah aku seperti gadis murahan bukan begitu?"

Ansel menggelengkan kepala.

"Tidak. Itu adalah hal yang wajar jika kau menyukai Edward atau Harry atau keduanya. Mereka memang pantas." Ansel beralih dan menyandarkan kepala pada kursi. "Kau tahu, Harry sangat baik kepada siapapun. Sewaktu kami masih kecil, Ia selalu membantuku. Menghiburku. Semuanya. Aku yang bajingan karena membuat Jane menyelingkuhi dia. Sedangkan Edward, andai kau tahu saja, dia adalah pria menarik dengan ratusan gadis menunggu sewaktu SMA. Tetapi, tetap saja, Ellena yang Ia sayangi. Edward begitu setia pada pasangannya."

Tunggu! Berselingkuh dengan Sienna apakah itu yang dimaksud setia? 

"Harry begitu menyukaimu. Aku akan jadi sangat brengsek kalau merebutmu. Jadi aku minta, terimalah Harry dengan sepenuh hati. Percayalah bahwa dia tidak seperti yang kau lihat selama ini. Dia bukan laki-laki yang gemar memainkan wanita jika dia tak melihat Jane berselingkuh."

Aku melihat ke arah lain. Menarik nafasku dalam-dalam sebelum angin menerpa wajahku lagi. Mana mungkin aku bersama Harry atau Edward. Mereka adalah saudaraku. Walaupun kami tak ada hubungan darah sekalipun, kupikir orang tua kami tidak akan setuju dengan itu.

"Aku tidak bisa, Ansel. Kau tahu alasannya."

"Jika alasanmu itu bukan lagi suatu halangan, maukah kau bersama Harry?"

Aku tersenyum. Bingung.


MARHABAN YA RAMADHAN babes. CHAPTER INI DI DEDIKASIKAN BUAT YANG KEMARIN COMMENT PERTAMA KALI YA EHEHE. BTW KALO AKU PUNYA SALAH DIMAAFKAN YA. OH IYA MAAF INI PENDEK BGT HAHAHAHAHA, DAN AKU BUKA COVER REQUEST LHO, kalau ada dari kalian yang lagi butuh cover, cek buku terbaruku aja hihihih. 


Vote and comment


The Triplets // harry stylesBaca cerita ini secara GRATIS!