Blue Pov

Harry. Entah mengapa Ia seperti sedang bermain-main dengan perasaanku ini, terkadang Ia membuatku senang, tetapi juga sebal karena tingkahnya yang tak wajar, atau khawatir. Aku belum bisa memastikan perasaanku pada Harry, yang aku ingat aku masih memiliki sedikit rasa suka pada Edward, namun waktuku disini akan habis sebentar lagi. Jika dikata aku hendak mengungkapkan perasaanku pada Ed, rasanya tak mungkin. Pada lain pihak, gadis dalam batinku menjerit memintaku mengakui perasaan, sungguh aku benci diriku sendiri sekarang. Mengapa aku begitu munafik?

Aku hendak keluar ketika Marcel tiba di depan rumah, wajahnya terlihat bingung mendapati aku dengan tas besar yang kubawa.

"Blue kau mau kemana?"

"Dia akan tinggal di apartemen sewaanku," sahut seseorang tiba-tiba. "Bukan begitu, Blue?"

Marcel mencari-mencari, sepertinya Harry. Kurasa maksud Ayah mengirimku ke apartemen adalah apartemen milik Ansel yang baru-baru ini dia beli. Ini gila karena dalam waktu 24 jam semua begitu cepat berubah. Anne membenciku. Ayah mengusirku. Harry menyatakan perasaannya. Ini terlalu rumit.

Harry mematung disana dengan tatapan kosong, aku ingin meraihnya, aku ingin membawanya dalam pelukan dan berkata semua akan baik.

"Ayo Blue." Ajak Ansel. Tangan Ansel diletakkan pada pundakku. Hangat telapak pria itu langsung menjalar pada kulitku. "Anne pasti takkan senang jika masih melihatmu disini."

"Tentu. Aku pergi dulu." Kataku tak yakin. Harry menundukkan kepala. Mengapa aku begitu kelewat jahat karena mementingkan perasaanku saja? Harry menyimpan rasa untukku, aku tak peduli.

"Maafkan aku, Harry. Maafkan aku."

Entah apa yang membuatku merengkuh dalam pelukannya. Aku berlari ke arah Harry. Memeluk tubuh Harry.

"Blue..."

"Maafkan aku." Perlahan aku melangkah mundur dan mengambil koper yang kutinggalkan di pintu. Ansel menarik koper dari tanganku.

Kuharap Harry akan baik-baik saja.

...

Normal POV

"Jadi kau menyukai Blue?" Marcel duduk santai dengan secangkir teh melati yang telah diseduh. "Lalu, Ibu mengusir Blue?"

Sial karena suasana Harry sedang kacau, ini berarti Marcel haru membatalkan niatnya untuk mendiskusikan London serta mencari Edward yang kemungkinan berada di Victoria.

"Aku terkejut ketika Ibu berkata kita akan pergi ke London akhir musim ini. Itu berarti Blue kembali ke Amerika sedangkan aku di London. Aku sudah merancang rencana untuk pindah ke Amerika dan sekarang Ayah menghancurkan rencana itu."

"Begitu pula denganku," Marcel dengan cepat mengambil celah. "Kelsey sedang sakit. Aku tak mungkin pergi ke London. Tapi bagaimana dengan Edward?"

"Sebaiknya kita temukan dia segera. Perasaanku berkata pengiriman kita ke London ada sangkut paut dengan Ayah Ellena."

Marcel mengangguk setuju. Jadi mereka memulai untuk mencari Edward ke Victoria. Jaraknya memang tak terlalu jauh, yang jadi masalah adalah di bagian mana Edward dan Ellena sekarang?

Harry yang membawa mobil. Siapa yang menduga jika ternyata Harry begitu merindukan mobil hitam dengan nama SEXBLACK itu?

"Kupikir kau menjual mobil ini dan membeli motor. Kupikir kau suka motor?" Tanya Marcel memecah keheningan mereka.

"Tidak. SEXBLACK adalah mobil pertamaku. Aku begitu jatuh cinta pada dia. Gadisku yang teramat seksi, jadi aku takkan menjual yang satu ini. Bicara soal motor, aku tak tahu apakah aku menyukai itu. Kukira balapan mobil lebih keren ketimbang motor."

"Jadi dia takkan dijual?"

Harry mengangguk. Mobil hadiah dari Charles memang memiliki arti sendiri untuk pria tampan ini. Charles tak selalu mengabulkan permintaannya, sama seperti Anne. Memiliki SEXBLACK sebagai kado natal adalah kesenangan luar biasa.

"Apa kau pikir ini membutuhkan waktu lama?" Sekejap Ia ingat kencannya dengan Blue. Meski kesempatan mendapat kata ya dari Blue kecil.

"Kurasa ya. Ada apa?"

Harry menggeleng. "Aku ingin mengajak Blue kencan malam ini. Tapi sudah lupakan saja. Lagipula dia takkan mau pergi denganku."

"Ngomong-ngomong kemana kita akan pergi?" Tambah Harry.

"Villa lama kita. Besar kemungkinan Edward membawa Ellena kesana."

Sementara itu, Ellena mendengarkan saksama semua penjelasan Edward. Mengapa dia begitu membenci Anne, mengapa semua hal mengerikan itu terjadi. Bagaimana yang benar telah disembunyikan. Segalanya. Edward tak pernah memberitahu siapapun--termasuk kedua saudaranya.

"Mengapa kau tak memberitahu Harry dan Marcel?" Ellena menanyakan dengan wajah yang dibuat serius. Namun juga prihatin dan juga terkejut. "Mereka akan sangat terkejut jika tahu sekarang."

"Aku sungguh tak berniat memberitahu mereka. Itu hanya akan membuat mereka bertambah sedih. Aku sudah memperparah keadaan selama ini. Harry begitu menyayangi Ibu kami. Begitu pula Marcel. Aku hanya berharap Ibu mereka menyayangi Harry dan Marcel sepenuh hati." Jelasnya. Edward terlihat sedih sembari menundukkan kepala. Rambut yang tertiup angin membuat mukanya tak terlihat, siapa sadar jika Edward menangis?

"Aku hanya ingin dia berkata jujur, El. Semua kebohongan ini harus diakhiri."

"Bisakah kita pergi kesana?" Edward menyetujui.

Membereskan peralatan piknik mereka, kemudian Edward dengan sopan membukakan pintu mobil kepada Ellena.

Bagaimana keadaanmu, Ed? Aku akan segera pergi, kuharap aku masih bisa menyampaikan rasa sukaku padamu.

Pesan singkat dari orang itu lagi. Sebenarnya siapa dia? Seorang wanita yang naksir pada Edward diam-diam?

"Edward??"

"Ya. Ayo kita berangkat."

Perjalanan begitu hening, hanya ada suara mesin mobil yang sesekali berderu karena panas. Edward bahkan tak menyalakan radionya. Ellena sibuk dengan pemandangan tepi laut dengan sebuah kamera polaroid yang tak sengaja terbawa olehnya.
Udara laut berhembus cukup kencang sehingga Ed memutuskan mematikan AC dan membuka jendela.
Tebing-tebing tinggi tampak menakjubkan ditepi kiri, matahari mulai tak terik dengan langit lembut.

"Ini tempatnya. Mereka tak pernah kemari sejak kejadian itu. Bahkan mungkin Ayahku."

Setelah memarkirkan mobilnya, Edward turun dengan menggandeng tangan Ellena erat menuju pemakaman seseorang. Seseorang yang teramat berarti bagi Edward. Tempat terakhir orang yang paling Ia cintai diistirahatkan.
Ada batu nisan yang cukup besar dengan ukiran nama pemiliknya, Edward berhenti tepat di depan itu,

RIP ANNIE COSTA
1970-2000

"Ibu, ini Ellena. Kekasihku yang sering kuceritakan." Edward tersenyum. "Dia sangat cantik bukan?"

Hey akhirnya selesai juga chaps ini, lama banget sumpah mampet soalnya, and walaaa. Wdyt guys, soo close to the end i guess ehe.

Oh iya fyi yang pengen baca THE TRIPLETS dalam ENGLISH GO CHECK @stylesrenners profile!!

And oh please check my others story REBIRT and MALIK 1993 hope you like it guys

Dont forget vomment guyss, love youu

The Triplets // harry stylesBaca cerita ini secara GRATIS!