★ Badmood

725 56 1
                                        

★★☆

hajeongwoo area.
local fic.
fluff.

★★☆

Keadaan hatinya hari ini sudah buruk, dan ditambah buruk dikarenakan pemuda jangkung dengan tinggi 184 cm itu sudah merecoki pagi nya.

Tidak merecoki sih. Itu terlalu hiperbola.

Kita sebut saja namanya Haruto si pemuda jangkung yang dimaksud oleh Jeongwoo—pemuda berkulit tan eksotis nya yang kini mood nya sedang tidak baik.

Sebenarnya Haruto tidak melakukan pelanggaran atau kesalahan apapun, mungkin? Hanya saja, Jeongwoo pagi ini sedang sensitif. Sehingga, hal kecil yang Haruto lakukan selalu salah dimatanya.

Seperti yang satu ini, ia bahkan menggerutu karena Haruto menaruh tas nya terlalu keras di bangku nya, yang menimbulkan suara nyaring pada ruang kelas sudah agak ramai itu.

“Naro tas tuh pake perasaan kek, berisik banget”

Haruto yang baru saja datang, dan merasa tindakannya tidak aneh atau salah itu pun memandang heran partner sebangkunya.

“Ada masalah, Park?”

Bukan tanpa alasan Haruto bertanya seperti itu, karena selama ini Jeongwoo jarang mengomentari hal kecil yang dirinya lakukan.

“Tidak,” ujar pemuda bermarga Park itu mendengus.

Haruto semakin heran dibuatnya. Tak ingin bertanya lebih lanjut, Haruto memilih untuk keluar dari kelas mencari temannya yang lain yang mungkin sudah datang.

Jeongwoo yang sedari tadi memperhatikam gerak-gerik pemuda itu kembali berdecak, “Nyebelin banget sih!” serunya agak keras.

Sengaja. Jeongwoo ingin Haruto mendengarnya.

Bodolah! Lihat saja nanti, Jeongwoo tidak akan meladeni Haruto selama jam pelajaran.

##

“Had itu past tense, Haruto. Bukan present tense,” seru Jeongwoo gemas.

Siapa tadi yang bilang tidak akan meladeni Haruto? Itu hanya omong kosong belaka.

Haruto mendengus mendengar protesan Jeongwoo, “Lo hari ini kenapa sih? Aneh banget,” bisiknya.

“Kalau gak bisa itu ngomong, biar gue aja deh yang ngerjain,” seru Jeongwoo merebut kertas yang ada di meja Haruto tanpa menjawab pertanyaan yang dilontarkan teman sebangkunya.

Haruto semakin bingung dibuatnya. Hari ini kenapa Jeongwoo nampak cerewet sekali? Haruto bingung.



##

Bel pulang sudah berbunyi nyaring cukup lama pertanda sudah memasuki jam pulang. Seluruh murid yang mendengar pun bergegas membereskan perlengkapannya dan segera pulang.

Tetapi tidak untuk Jeongwoo. Ia memasuki barang bawaannya ke dalam tas cukup err bisa dibilang cukup tergesa-gesa.

Membuat Haruto yang sudah siap untuk bangun dari duduknya itu kembali dibuat heran oleh rekan sebangkunya itu.

“Kamu mau kemana sih, Je? Buru-buru banget,” komentarnya.

Nada lembut Haruto tidak mampu membuat Jeongwoo menoleh, ia tetap melanjutkan kegiatannya dengan sisa-sisa emosi yang akan meledak kapan saja.

“Jeongwoo, aku nanya loh?”

“Berisik ah,” ketus Jeongwoo tanpa menolehkan pandangannya.

Oke, cukup. Kesabaran Haruto yang memang setipis itu sudah tidak sanggup lagi untuk menahan gejolak amarah yang sebentar lagi akan keluar.

Kegiatan Jeongwoo terhenti oleh lengan mulus Haruto yang menahan pergerakan lengan kiri pemuda tan tersebut.

Jeongwoo bersusah payah untuk melepas cengkraman itu, namun nihil. Cengkraman Haruto begitu kuat sehingga ia harus menggunakan lengan kanannya untuk melepas cengkraman Haruto.

“Haruto, lepas kenapa sih!” pekiknya tertahan. Sekesalnya dia, semarahnya dia, Jeongwoo tetap tidak berani untuk membentak pemuda di hadapannya sekarang ini.

Haruto yang masih setia mencengkram lengan kiri itu hanya menatap Jeongwoo tanpa ekspresi. Tangan kirinya tanpa ragu memegang dagu Jeongwoo, meminta pemuda tan itu untuk menatap dirinya.

“Bisa diem sebentar?”

Suara itu pelan, seperti putus asa. Terdengar seperti memohon, tetapi Jeongwoo tau itu adalah sebuah keharusan.

Menurut, Jeongwoo pun diam. Tetapi pandangannya enggan untuk menatap pemuda di depannya.

“Jeongwoo”

Suara berat itu menyihir dirinya. Menyihir Jeongwoo yang perlahan meluruskan pandangannya menatap Haruto.

“Maafin aku ya? Harusnya kemarin aku lebih peka, bukannya malah cuekkin kamu dan berakhir kamu pulang jalan kaki sendiri”

Jeongwoo yang mendengar itu pun mendecak, berusaha menutupi bulir air matanya yang siap untuk tumpah kapan saja.

“Sebel banget sama kamu, nyebelin banget,” suara nya parau, Haruto tau pemuda itu sedang menahan isak tangisnya.

“Iya aku nyebelin. Mau aku peluk atau mau omelin aku? Aku siap nih”

Setelah menyadari perubahan intonasi Haruto, Jeongwoo pun menerjang pacarnya itu dengan sebuah pelukan.

“Mau dua-duanya. Mau omelin kamu yang lamaaa,” seru nya. Suara nya teredam karena posisi kepalanya saat ini tepat berada di perpotongan leher sang pacar tapi Jeongwoo yakin Haruto bisa mendengar jelas suara nya itu.

Haruto yang mendengar itu jelas terkekeh. Ia membalas pelukan Jeongwoo cukup erat, sesekali menepuk punggungnya pelan.

“Iya omelin aja. Di mobil ya omelinnya?”

“Oke! Let's gooo kita pulangg!!” seru Jeongwoo seraya melepas pelukan mereka berdua.

Haruto tersenyum gemas dibuatnya, pacarnya itu memang lucu.

selesai.


an. huu oknum serigala lagi sensi gara-gara oknum kupu-kupu huu. omelin aja guys

memories ★ hajeongwooTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang