★★☆
hajeongwoo area.
fluff slight angst
latar tempat; jepang.
sebelum mereka pulang ke korea kala itu.
★★☆
Kesepuluh orang dari sebuah grup yang namanya mulai naik daun itu sedang berkumpul bersama untuk membuat jadwal kilat sebelum kembali ke negara tanah air.
“Hyung, aku ingin pergi berbelanja sebelum pulang,” suara berat Haruto mengintrupsi mereka semua.
Jihoon mengangguk. Begitu juga dengan Hyunsuk. Mereka berdua tidak bisa melarang adik bungsu yang satu ini.
Seluruh anggota nampak menimang pilihan mereka sendiri, ada yang berakhir istirahat seperti Junkyu, Yoshi, Junghwan, Hyunsuk, dan Doyoung.
Adapun yang memilih untuk keluar seperti Asahi, Jaehyuk, Haruto, Jeongwoo, dan Jihoon.
Haruto memiliki rencana lain. Ia ingin berbicara empat mata dengan Jeongwoo, hanya berdua.
Para hyung itu tentu menyetujuinya. Nampak jelas dari raut wajah Haruto yang ingin berbicara serius dengan Jeongwoo.
Lagipula mereka percaya, baik Haruto maupun Jeongwoo tidak akan melakukan hal aneh sekalipun.
Disinilah mereka berdua sekarang. Di jembatan penyebrangan yang dibawahnya lalu lalang mobil dengan kecepatan sedang.
Kota Jepang malam itu sangat indah, seperti biasanya. Mereka berdua sibuk memandang gedung yang makin terlihat terang seiring gelapnya malam.
“I miss you,” suara berat itu terdengar.
Jeongwoo bergeming di tempatnya. Tidak tau lagi harus merespon seperti apa disaat mereka berdua sedang diluar seperti ini.
“Apa-sih, kak? Emang aku pergi jauh apa?” desisnya tertahan. Tidak ingin menimbulkan pekikan suara yang mampu membuat orang disekitarnya menoleh ke arah mereka berdua.
Posisi mereka berdua kini sama, menumpukkan kedua tangannya pada besi jembatan. Tatapan mata mereka sama-sama menatap lurus ke depan, entah apa yang mereka lihat.
Haruto tersenyum gemas atas balasan itu. “Kita belum ngobrol hari ini. Kamu ga kangen apa?”
Jeongwoo menggeleng. “Jangan lebay gitu deh” serunya. “Kita kan udah sekamar, masih kurang puas?”
Haruto langsung menoleh, sedikit terkejut dengan penuturan Jeongwoo malam ini.
Jeongwoo yang mendapat respon seperti itu segera meralat pernyataannya itu, “Stop mikir aneh-aneh ya! Nanti juga pasti kita deeptalk lagi kayak biasanya. Masih kurang? gitu maksudku,” ucapnya sedikit terburu-buru. Tidak ingin Haruto salah meng-artikan ucapannya.
Mendengar intonasi panik yang keluar dari bibir manis pemuda di sampingnya itu membuat Haruto tak kuasa untuk tertawa lepas.
Jeongwoo-nya itu memang lucu. Terlebih saat mendengarnya berbicara dengan intonasi yang kentara seperti tadi.
Jeongwoo mendengus malas setelah melihat respon Haruto, “Malah ketawa. Aku duluan deh,” ancamnya.
Mendengar ancaman tersebut tentu membuat Haruto mengatupkan rapat-rapat suara tawanya yang sempat mengudara.
“Ngancem mulu. Dikira aku takut apa?”
Jeongwoo menaikkan satu alisnya, menantang yang lebih tua walaupun sang empu masih menatap lurus kedepan. “Oh gitu? Ya udah, aku pulang duluan”
“Apa sih woo?!”
Jeongwoo mulai mengerutkan kedua alisnya mendengar respon Haruto yang tidak santai. “Ya kamu habisan kenapa sih? Dari tadi gak jelas banget,” emosinya terpancing.
Haruto menghembuskan napasnya kasar, mencoba menurunkan emosi yang baru saja hinggap pada dirinya. “Aku mau ngomong sama kamu”
Masih dengan raut wajah yang tidak bersahabat, Jeongwoo berucap dengan sedikit kesal. “Ngomong tinggal ngomong, bingung tau kalau disuruh diem disini doang”
Haruto mengulum kedua bilah bibirnya, berusaha untuk tidak terpancing oleh nada kesal Jeongwoo saat ini. “Iya, oke. Aku minta maaf” ucapnya pelan.
“Aku bingung sama hubungan kita. Kita ini apa sih, Jeongwoo?”
Jantung Jeongwoo mencelos mendengar penuturan Haruto yang nampak parau. Apakah beliau sedang menahan isak tangis? atau apa?
Jemari Jeongwoo mulai bergerak gelisah taktala Haruto kini sudah menatap lurus kedua bola matanya. Bibirnya pun ikut bergerak gelisah dibalik masker putih yang menutupi sebagian wajah tampannya.
“...Ya kita manusia, kak”
Rasanya Jeongwoo ingin mengubur dirinya dalam-dalam di palung mariana. Ia bisa melihat jelas raut ekspresi Haruto yang tidak berubah sama sekali.
Astaga, Haruto-nya sedang marah atau apa?
“Maaf,” cicit Jeongwoo.
Jeongwoo menarik napas dalam sebelum menjawab pertanyaan Haruto yang sebenarnya sangat mudah untuk dijawab tetapi terlalu susah untuk di ucapkan olehnya.
“Kita... pacaran?”
Mendengar nada tak yakin dari Jeongwoo membuat Haruto menyeringai lebar dibalik masker tersebut.
“Kamu gak yakin ya?”
Jeongwoo menggeleng kuat, “Enggak kok!” sanggahnya cepat. Tidak ingin melihat raut sedih dari yang lebih tua.
“Be honest with me, Jeongwoo. Stop lying”
“Aku udah serius, kak. Kita pacaran kan?”
Haruto masih menggeleng, “Kalau gitu tatap mata aku. Dan ulangin kalimat yang kamu ucapin”
Jeongwoo yang sebelumnya tampak menggebu-gebu kini berganti menjadi gelisah.
Menatap kedua mata Haruto ya? Apa yang pemuda itu cari sebenarnya? Apakah menerima cintanya beberapa bulan yang lalu itu kurang bagi Haruto?
Tak ayal, jika disuruh untuk mengulang kalimat yang sama sambil menatapnya itu membuat Jeongwoo merasa tidak yakin.
Entah tidak yakin karena apa.
Haruto tersenyum miris melihat keterdiaman Jeongwoo. Benar dugaannya, perasaan Jeongwoo tak sama dengan dirinya.
“Maaf. Aku minta maaf, Jeongwoo”
Jeongwoo masih enggan menoleh kepada Haruto. Ia lebih memilih menduduk memandang jemari nya daripada harus menatap wajah sendu Haruto sekarang.
“That spark, it wasn't there from the start, was it?”
Napas Jeongwoo tercekat. Mulutnya semakin ia kunci rapat-rapat menahan sesuatu yang bergejolak di dalam sana.
“Diamnya kamu itu jawaban iya untuk pertanyaanku”
Haruto menoleh untuk melihat posisi Jeongwoo yang masih sama seperti sebelumnya. Ia tersenyum getir sebab pemuda di sampingnya nampak enggan untuk memandang dirinya.
“Terima kasih ya Jeongwoo”
Hening. Keduanya nampak enggan untuk berbicara lagi. Dan keheningan mereka terhenti saat Jaehyuk memanggil mereka berdua untuk segera pergi dari sana.
Haruto berjalan lebih dulu, memberi jarak untuk Jeongwoo yang mungkin saat ini sedang ingin sendiri atau mungkin ingin menumpahkan air matanya yang Haruto tau sudah ditahan sejak tadi.
Benar saja, ketika tubuh tegap Haruto jalan lebih dulu, isak tangis kecil dari pemuda Libra itu mulai terdengar.
Jeongwoo jadi merasa bersalah kepada Haruto. Bersalah karena sudah memainkan perasaannya selama ini.
selesai.
an. see ya in the next chapter !!
KAMU SEDANG MEMBACA
memories ★ hajeongwoo
Fanfictionisinya cerita pendek haruto dan jeongwoo. bxb. in hajeongwoo area. if this story not your cup of tea, then you can leave <3
