Masa putih Abu-Abu katanya adalah masa dimana kisah cinta akan begitu menyenangkan. Awalnya aku percaya dengan kata-kata itu. Tapi, setelah menjalaninya tenyata itu hanya berlaku untuk sebagian orang, bukan untukku.
Ini kisahku, kisah dimana cerita ini terjadi. Cerita ini di mulai ketika liburan tengah semester telah berakhir. Awal dimana aku begitu dekat dengannya.
"Aya... Lu di panggil bu Hana ke ruang guru tuh." Teriakan membahana datang dari temanku yang baru balik dari kantin.
"Ngapain dah gue di panggil pagi-pagi begini." Sahutku kepadanya sambil pergi dengan malas menuju ruang guru untuk menemui bu Hana.
Sesampainya di depan ruang guru aku tidak langsung masuk, aku pergi dulu ke toilet untuk memastikan bahwa pakaian yang aku pakai masih rapih. Setelah memastikan bawah aku sudah rapih aku langsung pergi menuju ruang guru.
"Pagi bu." Sahutku kepada bu Hana sambil mengetuk pintu.
"Oh iya Aya, sini sayang, nih buku kelas kamu yang semester kemarin, tolong dibagikan ya. Sama ini, ibu nitip juga ya untuk kelas XII IPS 2 tolong di kasihkan ya." Ujarnya dengan nada yang ramah.
"Iya bu." Balasku.
Aku pun keluar dari ruang guru. Ketika aku berjalan di lorong menuju kelasku, aku berpapasan dengan salah satu siswa kelas XII IPS 2, aku langsung memanggil namanya dengan suara yang cukup tinggi. "Deni... Nih buku kelas kamu."
Seorang guru yang lewat tiba-tiba menyahut ucapanku dengan tertawa. "Deni? Nama dia bukan Deni, Aya. Nama dia itu Dendi."
"Ouh iya... Dendi maksudnya. Maaf pak lupa hehehe, nih Den buku kelas kamu." Aku hanya bisa cengengesan di depan guruku ini, sumpah aku sangat malu.
Setelah menyerahkan buku titipan bu Hana kepada Dendi, aku langsung pergi dari sana. Ketika aku berbalik untuk melihatnya lagi, ternyata dia sedang melihatku juga dengan tersenyum bersama pak Yana. Sebenarnya aku tahu cowok itu, tapi aku lupa namanya.
---
Hari ini cukup melelahkan bagiku, tugas-tugas terus menghampiri meski ini baru awal pembelajaran semester 2.
Rasa kantuk menyerang ketika aku berbaring di ranjang.
Drrrt... Drrrt... Drrrt...
Ponsel yang ku simpan di samping tubuhku tiba-tiba berbunyi. Aku mengambilnya dan melihat ada sebuah pesan dari nomor yang tidak ku kenal.
Whatsapp
+85001
+85001
'Hai, save ya nomorku.'
'Siapa ya?'
+85001
'Dendi.'
'Hah? Dendi? Dendi mana ya?'
+85001
'Deni, namaku Deni.'
'Oh Dendi, ouh iya hehehe aku save nomornya.'
Dendi
'Iya.'
Aku menutup obrolanku dengan Dendi. Untuk melupakan rasa malu atas kejadian di sekolah tadi, aku memutuskan untuk tidur.
---
Hari-hari berlalu dari kejadian memalukan itu. Aku semakin dekat dengan Dendi. Setiap hari kita selalu saling sapa dan chattingan. Hingga suatu hari dia mulai terbuka kepadaku.
"Ya, gue mau cerita boleh?" Dendi mulai pembicaraan yang menurutku akan terlihat menarik.
"Cerita aja, gue bakalan dengerin kok." Balas ku padanya.
"Jadi gini, kan gue punya mantan, dia mantan gue yang paling gue sayang, waktu putus sama dia gue sedih banget, sampai nangis, lu mau bilang gue lebay atau alay terserah, tapi kenyataan emang gitu. Nah, rencananya gue mau ngajak dia balikan, tapi dia lagi deket sama adik kelas. Jadi menurut lu gue masih kejar dia atau enggak?" Tanyanya, aku kaget ketika mendengarkannya, sumpah aku baru tau kalau dia punya mantan.
"Ya itu terserah elo lah, kalau lu mau banget sama dia ya lu kejar, simple. Tapi, lu harus lawan dulu tuh dedek kelas yang deket sama dia." Sebenarnya aku tidak tahu harus mengucapkan apa, pacaran saja aku tidak pernah.
"Nah ada lagi hal bimbang yang gue mau omongin, selain gue mau ngajak balikan mantan gue, gue juga lagi suka sama seseorang." Ujarnya dengan raut yang terlihat banyak pikiran menurutku.
"Gile... Lu suka sama dua orang dong kalau gitu jadinya. Playboy cap ayam lu. Gak habis thingking gue." Aku kaget dengan ucapanya. "Dahlah gue mau balik aja, bingung gue sama cerita cinta lu. Jangan cinta-cintaan mulu, belajar yang bener biar lulus dengan nilai bagus lu." Aku pergi dari kursi yang ku duduki dengan Dendi.
---
Hari libur adalah hari yang paling di favoritkan bagi semua orang, termasuk aku. Hari di mana aku bisa bermalas-malasan dari pagi sampai malam.
Hari libur ini ku gunakan untuk menonton anime favoritku, yaitu One Piece. Cemilan sudah tertata rapi di atas meja kamar. Tak terasa waktu telah sore ketika aku menyelesaikan 50 episode One Piece ini. Aku membuka ponselku untuk mengecek sebuah pesan yang di kirimkan Dendi kepadaku.
Whatsapp
Dendi
'Aya.... '
'Apa.'
'Aku mau ngomong sesuatu sama kamu.'
Aneh, sungguh aneh. Mengapa Dendi menggunakan 'Aku-Kamu'?
'Yaelah tinggal ngomong, kayak sama siapa aja si lu.'
'Weh gue baru sadar, ngapain lu manggil "Aku-Kamu" segala, merinding gue.
'Kamu mau percaya aku atau enggak terserah, sebenarnya aku suka sama kamu.'
'I have crush on you.'
Gila, benar-benar gila Dendi itu, mengapa tiba-tiba dia menyatakan suka kepadaku?
'Hah? Aneh lu, sakit? Ah ini pasti gara-gara mantanku kan? Sumpah, gak lucu ya Den.'
'Enggak, beneran. Aku suka sama lu.'
'Aku tau ini terlalu mendadak, tapi itu yang aku rasakan sekarang. Kamu gak harus jawab sekarang, aku tunggu jawaban kamu besok di sekolah.'
Aku tidak membalas pesannya lagi, aku hanya membacanya saja. Aku tidak tahu harus menjawab apa besok. Aku sebenarnya mulai ada rasa ketika dia selalu membantu tugasku, menasihatiku jika aku salah, dan dia selalu mendengar setiap keluh kesahku. Apa aku harus menerima dia?
(Bersambung...)
